Opini

Tren Radio FM, Meninggalkan MW yang Strategis‎

70
×

Tren Radio FM, Meninggalkan MW yang Strategis‎

Sebarkan artikel ini
Tren radio FM memang unggul di kualitas audio lokal. Tapi gelombang MW unggul di jangkauan, daya tembus, dan efisiensi wilayah.
Radio dengan gelombang FM dan MW

Tren radio FM memang unggul di kualitas audio lokal. Tapi gelombang MW unggul di jangkauan, daya tembus, dan efisiensi wilayah. Justru MW yang dibutuhkan untuk karakter negara kepulauan Indonesia.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – Pengelola radio pernah membuat keputusan salah besar dalam sejarah penyiaran. Meminggirkan gelombang Medium Wave (MW), ramai-ramai beralih ke FM (Frekuensi Modulation) yang dikira radio masa depan.

‎Memang keunggulan FM hadir dengan suara jernih, stereo, dan cocok dengan tren gaya hidup urban yang sedang tumbuh di era tahun 1980-an. Masyarakat tersugesti, lalu pelan-pelan berpindah ke FM.

Sayangnya para pengambil kebijakan ikut-ikutan tren itu. Larut dalam logika populer, bukan logika strategis negara. Padahal karakter FM dan MW tidak pernah setara.

FM unggul di kualitas audio lokal. Tapi gelombang MW unggul di jangkauan, daya tembus, dan efisiensi wilayah. Justru MW yang dibutuhkan untuk karakter negara kepulauan. Malah dipangkas, dibiarkan mati perlahan, lalu dilupakan.

Satu pemancar MW berdaya besar mampu menjangkau ratusan kilometer. Bahkan lintas provinsi, terutama pada malam hari melalui propagasi gelombang tanah dan langit.

Secara teknis, ini fakta lama yang tidak pernah terbantahkan. Karena itulah MW sejak awal digunakan untuk siaran nasional, siaran darurat, dan komunikasi publik lintas wilayah.

‎Indonesia negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Bentang pegunungan dan wilayah perbatasan yang luas. Maka gelombang MW instrumen paling cocok.

Di tahun itu malah membangun sistem penyiaran yang bertumpu pada FM, yang secara alamiah memiliki jangkauan pendek dan sangat bergantung pada kepadatan pemancar.

Baca Juga:  Langit ‎Indonesia Mau Disewakan

‎Akibatnya bisa dihitung dengan sederhana. Untuk menjangkau wilayah yang sama, FM membutuhkan puluhan bahkan ratusan pemancar. Biaya operasional lebih besar, dan kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan listrik serta bencana alam.

MW dengan segala keterbatasan audionya di masa lalu, justru lebih tangguh dengan medan seperti itu.

Radio Luar Negeri

Keputusan meninggalkan MW pada akhirnya bukan hanya soal radio, tetapi soal cara negara memahami wilayahnya sendiri.

Amerika Serikat hingga hari ini masih mengoperasikan ribuan stasiun AM (MW) dan menjadikannya bagian dari sistem emergency alert.

‎Kanada, Rusia, dan Tiongkok mempertahankan MW untuk siaran jarak jauh dan kepentingan strategis.

‎India bahkan mengambil langkah yang lebih progresif. Alih-alih mematikan MW, mereka meng-upgrade sesuai tuntutan digitalisasi.

‎Pemerintah India secara resmi mengadopsi Digital Radio Mondiale (DRM) untuk band MW dan SW sebagai platform radio digital nasional.

Alasannya jelas dan terbuka: jangkauan luas, efisiensi spektrum, konsumsi energi yang lebih rendah per kilometer layanan, dan kemampuan membawa data darurat.

‎Ini penting dicatat: negara-negara besar tidak membuang MW ketika memasuki era digital. Mereka memodernkannya. Bukan hanya ikut tren.

DRM dan Arah Zaman

‎Masuknya DRM (Digital Radio Mondiale) seharusnya menjadi momentum kebangkitan MW. Secara teknis, DRM mengubah wajah MW secara fundamental. Ini tren terbaru.

Audio menjadi bersih dan stabil, kapasitas siaran meningkat, dan yang paling krusial: sistem ini memungkinkan pengiriman teks, informasi publik, hingga peringatan dini bencana secara terestrial, tanpa bergantung pada internet.

Baca Juga:  Finansial Negara Rusak di Tengah Perang

‎Dalam banyak uji lapangan, DRM di MW mampu memberikan kualitas audio mendekati FM, dengan jangkauan berkali-kali lipat lebih luas.

Selain itu, satu kanal DRM dapat membawa beberapa program sekaligus, sesuatu yang secara spektrum jauh lebih efisien dibandingkan FM analog.

‎Ironisnya, Indonesia justru mematikan MW tepat ketika teknologi yang bisa menyelamatkannya sudah tersedia. Ini bukan kegagalan teknologi, tetapi kegagalan membaca arah zaman.

Harga dari keputusan ini tidak langsung terasa di kota-kota besar. Namun di daerah terpencil, perbatasan, dan wilayah rawan bencana, dampaknya nyata, ada keterputusan informasi, ketergantungan penuh pada jaringan seluler, dan hilangnya satu lapis ketahanan komunikasi nasional.

‎Ketika gempa, tsunami, atau pemadaman besar terjadi, jaringan seluler adalah yang pertama tumbang. Internet menghilang. Dalam kondisi seperti itu, radio MW seharusnya menjadi suara terakhir negara kepada warganya.

‎Namun suara itu sudah kita matikan sendiri. FM tidak salah. Internet tidak salah. Yang keliru adalah ketika negara mengorbankan ketahanan demi kenyamanan, dan pemerataan demi tren.

Jalan yang Masih Terbuka

‎Menghidupkan kembali MW bukan berarti mundur ke belakang. Justru sebaliknya, ini adalah langkah maju yang terlambat.

‎Dunia penyiaran masa depan tidak dibangun dengan satu teknologi, tetapi dengan arsitektur berlapis: FM untuk lokal dan komersial, internet untuk interaktif, dan MW digital untuk jangkauan luas dan ketahanan nasional.

‎Kesalahan masa lalu bukan untuk disesali tanpa arah, tetapi untuk dikoreksi dengan kepala dingin. MW tidak pernah menjadi musuh modernitas.

Baca Juga:  Anggaran Komdigi bagi Masa Depan Digital

Ia hanya korban dari cara berpikir yang terlalu tergesa-gesa. Demi tren. Dalam urusan komunikasi nasional, yang tergesa-gesa hampir selalu berujung mahal.

Indonesia tidak kekurangan teknologi, yang sering kurang adalah keberanian untuk mengoreksi arah.

‎Menghidupkan kembali MW, terutama dalam bentuk digital melalui DRM, bukan langkah mundur, melainkan penataan ulang fondasi komunikasi nasional yang sempat goyah oleh euforia FM di masa lalu.

‎Negara perlu berhenti melihat penyiaran semata sebagai industri hiburan. Mulai menempatkan kembali sebagai infrastruktur strategis publik.

‎MW harus diposisikan ulang sebagai tulang punggung siaran nasional, sarana peringatan dini bencana, dan jaminan pemerataan informasi lintas wilayah.

‎FM dan internet tetap penting, tetapi keduanya tidak boleh berdiri sendiri tanpa lapisan ketahanan yang kokoh.

‎Koreksi kebijakan ini tidak menuntut romantisme, hanya kejernihan berpikir. Investasi kembali pada MW digital, integrasi dengan sistem kebencanaan nasional, serta keberpihakan regulasi pada penyiaran publik yang berjangkauan luas adalah langkah konkret yang sepenuhnya mungkin dilakukan hari ini.

‎Bangsa besar bukan bangsa yang selalu benar, melainkan bangsa yang mampu mengakui kekeliruannya dan berani membenahinya.

‎MW yang pernah kita tinggalkan karena tren radio FM, justru bisa menjadi alat untuk membangunkan kembali satu kesadaran penting: bahwa kedaulatan informasi tidak boleh diserahkan pada tren, tetapi harus dibangun di atas ketahanan dan keberanian berpikir jauh ke depan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…