FeatureUtama

Tragedi Ojol Tewas di Aksi Jakarta, BEM UKDC: Demokrasi Sedang Mundur

32
×

Tragedi Ojol Tewas di Aksi Jakarta, BEM UKDC: Demokrasi Sedang Mundur

Sebarkan artikel ini
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya, Defrin Fortinius Ziliwu.

Seorang ojol tewas dalam aksi di Jakarta. Presiden BEM UKDC Surabaya, Defrin Ziliwu, mengecam keras tindakan represif polisi yang dinilai mengancam demokrasi dan menuntut Polri bertanggung jawab penuh.

Tagar.co – Aksi demonstrasi di Jakarta kembali diwarnai tindakan represif aparat kepolisian. Bentrokan antara massa aksi dan aparat berujung tragis dengan meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol) yang terlindas kendaraan Brimob.

Insiden tersebut segera memicu kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk dari Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya, Defrin Fortinius Ziliwu.

Menurut Defrin, aksi demonstrasi seharusnya tidak dijadikan ruang untuk melakukan tindakan represif. “Tindakan yang dilakukan oleh aparat jelas menunjukkan penggunaan kekuasaan secara berlebihan dan tidak proporsional. Bahkan, sampai menimbulkan korban jiwa dari masyarakat sipil,” ungkapnya dalam pernyataan resmi yang diterima Tagar.co, Kamis 28 Agustus 25 malam.

Lebih lanjut, Defrin menilai peristiwa ini bukan sekadar persoalan teknis dalam pengendalian massa, melainkan cermin krisis penghormatan terhadap demokrasi dan kedaulatan rakyat.

Baca Juga:  Demonstrasi Anarkis

“Demokrasi yang sejatinya menjamin kebebasan berpendapat justru dilemahkan oleh aparat negara sendiri. Polri sebagai institusi yang seharusnya mengayomi rakyat justru bertindak represif hingga melukai, bahkan merenggut nyawa warga sipil,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa aksi unjuk rasa merupakan bagian sah dari ekspresi politik rakyat dalam negara demokratis. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan represif aparat bertentangan dengan semangat konstitusi.

“Kedaulatan berada di tangan rakyat, dan rakyat memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya di ruang publik. Ketika suara itu dibungkam dengan kekerasan, maka kita sedang menyaksikan kemunduran demokrasi,” jelas Defrin.

Atas insiden ini, Presiden BEM UKDC tersebut mendesak Polri bertanggung jawab penuh atas jatuhnya korban jiwa dan segera melakukan evaluasi internal menyeluruh. Ia menekankan bahwa negara tidak boleh abai terhadap perlindungan hak asasi manusia.

“Jangan sampai nyawa rakyat selalu menjadi tumbal dari pendekatan kekuasaan yang represif,” ujarnya.

Menurutnya peristiwa di Jakarta hari ini menambah catatan kelam perjalanan demokrasi Indonesia. Ketika aparat bertindak sewenang-wenang, pertanyaan besar pun menyeruak: sejauh mana negara benar-benar berpihak kepada rakyatnya?

Baca Juga:  Mahasiswa UNU Pasuruan Demonstrasi Tuntut Hak kepada Rektor

Defrin juga mengungkapkan bahwa teman-teman BEM di Surabaya akan mengkonsolidasikan diri untuk menggelar aksi di depan Polda Jawa Timur. Tuntutannya jelas: aparat yang mengakibatkan driver ojol meninggal dunia harus diadili seberat-beratnya.

Mobil taktis Brimob yang melindas ojol (Tagar.co/Istimewa)

Dipastikan Meninggal

Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) Lily Pujiati menyatakan pengemudi ojol yang dilindas kendaraan taktis (rantis) Brigade Mobil Polisi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025 meninggal.

Dari video yang beredar tampak pengemudi ojol itu dilindas mobil taktis saat polisi hendak menghalau massa demonstran di kawasan Rumah Susun Bendungan HIlir II, Jakarta Pusat. “Jenazah ada di Rumah Sakit Nasional DR Cipto Mangunkusumo,” kata Lily dikutip dari Tempo.

Menurut Kevin, penghuni rumah susun tersebut, mobil rantis tersebut melindas pengemudi ojol yang terjatuh di tengah jalan. “Ada ojol yang terjatuh dan tertabrak. Tapi mobil tidak berhenti, melainkan terus maju dan melindas korban,” ujar Kevin dilansir dari Tempo, Kamis malam, 28 Agustus 2025.

Selain melindas pengemudi ojol, polisi juga menembakkan gas air mata ke arah rumah susun. “Penghuni rusun di lantai sepuluh masih mencium gas air mata,” kata Kevin. (#)

Mohammad Nurfatoni