
Di ujung desa itu ada sumur tua yang masih bernafas di tengah kampung yang telah berubah jadi beton. Airnya berkilau di masa lalu, tapi kini berlumut dan sunyi—hingga suatu senja, seseorang menatap ke dalamnya dan melihat bayangan yang seharusnya sudah lama tiada.
Cerpen oleh Qosdus Sabil
Tagar.co – Sumur itu kini tak lagi ramai. Airnya yang dulu jernih, berkilau seperti kaca, kini tampak redup dan berlumut di tepinya. Ia seakan kehabisan napas, seperti seorang tua yang menunggu ajal di sudut kampung yang kian sepi.
Namun dulu, waktu aku masih bocah, Sumur Syawal adalah jantung kehidupan desa. Setiap sore, ketika kami usai bermain bola di tanah lapang dekat tegalan, kaki kami berlarian menuju sumur itu. Kami berebut menimba airnya yang dingin dan segar.
Baca juga: Mbah Kasminah dan Bantal Kayu Langgar Al-Muhsin
Kadang kami minum langsung dari timba, kadang mengguyurkan ke kepala yang penuh peluh. Tawa kami bersahut-sahutan, bersatu dengan suara gemericik air yang jatuh dari timba ke dalam lubang sumur.
Di situlah kebahagiaan terasa sederhana—cukup dengan air yang jernih dan teman-teman sebaya yang tak mengenal lelah.
Ketika kemarau datang, sumur itu berubah menjadi anugerah. Orang-orang dari desa sebelah ikut berdatangan, membawa jeriken, gentong, bahkan kaleng bekas cat untuk menampung air.
Telaga desa sudah kering, sungai tinggal dasar berlumpur, tapi Sumur Syawal tetap memancarkan airnya dengan setia. Tak ada yang tahu dari mana sumbernya, tapi orang-orang percaya bahwa sumur itu dijaga oleh sesuatu yang tak kasatmata.
Mbah Rusman, juru kunci sumur yang dulu selalu menjaga kebersihan sumur, mengingatkan siapa pun agar tidak berbicara kotor di sekitar sana.
Dinamakan Sumur Syawal, karena tanah tempat sumur itu digali dulunya milik seorang lelaki bernama Syawal. Konon, Syawal muda pernah berkelana ke berbagai padepokan mencari ilmu kanuragan.
Ia bertapa di gunung, menimba ilmu hikmah di pesantren, dan belajar pengobatan dari para tabib kampung. Ia pulang setelah bertahun-tahun mengembara, lalu menggali sumur itu dengan tangannya sendiri. Di bawah pohon trembesi raksasa dan dikelilingi rumpun bambu, sumur itu pertama kali mengeluarkan air pada malam Jumat Legi.
Orang-orang bilang, airnya harum seperti daun pandan. Ada pula cerita, suatu malam Syawal terlihat duduk di pinggir sumur, berzikir pelan, sementara cahaya keemasan memancar dari dalam lubang air itu. Besoknya ia menghilang, hanya meninggalkan sarung tua dan tasbih dari biji lontar.
Sejak itu orang menyebutnya Sumur Syawal Keramat.
Beberapa kali ada yang hendak menebang pohon trembesi di dekatnya untuk dijadikan bahan bangunan. Tapi kapak selalu patah, atau mesin gergaji tiba-tiba mati meski baru diservis.
Pernah seorang pemuda nekat membawa mesin dari kota, tapi baru menghidupkan mesin, gergaji itu macet seperti membeku. Ia pun ketakutan dan pergi tanpa menoleh lagi. Orang desa lalu bersepakat: biarkan pohon itu berdiri, menemani Sumur Syawal yang semakin menua.
Kini, semua sudah berubah.
Hamparan tegalan di sekitar sumur telah menjadi perkampungan baru. Rumah-rumah permanen berdiri rapat, gentengnya mengilap, dan suara motor terdengar nyaring setiap pagi.
Tak ada lagi anak-anak yang bermain bola di lapangan dekat tegalan, tak ada lagi ibu-ibu yang menimba air sambil bergosip di pinggir sumur. Air galon dan pompa listrik telah menggantikan timba plastik. Orang-orang percaya air kemasan lebih higienis, lebih modern, lebih bergengsi.
Padahal, diam-diam air galon itu menggerogoti isi dompet mereka. Kata hasil penelitian dari universitas di kota, ketergantungan pada air galon justru meningkatkan biaya rumah tangga.
Tapi siapa peduli? Mereka sudah terlanjur menganggap air galon sebagai bagian dari gaya hidup orang maju. Seperti rokok, air galon membuat orang miskin semakin menderita.
Aku menatap ke arah ujung desa pagi itu. Burung-burung perkutut liar beterbangan rendah, seolah mencari tempat berteduh di antara atap seng yang panas. Dulu, perkutut adalah hewan kesayangan para priyayi. Mereka percaya kicauannya membawa rezeki dan ketenangan. Kini burung-burung itu berhamburan, hidup liar kehilangan tempat hinggap.
Rumpun bambu sudah ditebang, sawah berubah jadi kompleks, dan suara pohon trembesi yang dulu berdesir lembut kini hanya tinggal kenangan di telingaku.
Kadang aku membayangkan perkutut itu berbicara, “Manusia, mengapa kalian tak tahu malu? Kami hanya butuh sebatang pohon untuk berteduh, seteguk embun untuk hidup. Tapi kalian mengambil semuanya—air, tanah, dan udara.”
Dan ketika aku menatap kembali ke arah sumur, hatiku tercekat. Airnya tinggal separuh, permukaannya berlumut, dan di tepinya tumbuh rumput liar. Sumur yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi saksi bisu tentang keserakahan manusia. Aku mencoba menimba air, tapi suara timba yang jatuh terasa berat, seperti keluhan panjang yang keluar dari perut bumi.
Aku membasuh wajahku dengan air itu. Rasanya masih sama: dingin, menyegarkan, tapi juga menimbulkan semacam rasa getir di dada. Seolah-olah air itu sedang menegurku—dan mungkin seluruh manusia—yang tak lagi pandai menjaga keseimbangan hidup.
Di seberang jalan, aku melihat sepasang kakek-nenek lewat sambil membawa jeriken kosong.
“Air di rumah habis, Mas,” kata si kakek. “Pompa rusak. Yah, mau tak mau kami ambil di sini lagi.”
Aku hanya mengangguk. Mereka menimba air dengan langkah pelan, lalu duduk di tepi sumur sambil beristirahat. Mata mereka sayu, seperti menyimpan rindu pada masa ketika semua orang masih mengenal makna kesederhanaan.
“Aneh ya, Mas,” kata si nenek tiba-tiba. “Dulu kita sehat-sehat saja, cukup minum air dari sumur ini. Sekarang orang malah beli air mahal-mahal, tapi penyakitnya tambah banyak.”
Aku tersenyum pahit. “Mungkin karena dulu orang lebih sering berdoa sebelum meneguk air, Mbah. Sekarang kita minum tapi lupa bersyukur.”
Si nenek menatapku lama, lalu mengangguk pelan. “Syawal pasti sedih melihat ini,” katanya lirih. “Airnya masih ada, tapi keberadaannya semakin dilupakan.”
Sore hari, ketika matahari condong ke barat, aku duduk di bawah pohon trembesi. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan daun tua. Suara burung perkutut samar terdengar di kejauhan.
Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan masa kecil berkelebat—suara tawa teman-teman, gemericik air, dan bayangan Pak Syawal yang konon masih menjaga sumur ini dari alam gaib.
Lalu tiba-tiba, entah karena silau senja atau karena pikiranku melayang terlalu jauh, aku melihat sesuatu di permukaan air: bayangan seorang lelaki berjubah putih, duduk bersila di tepi sumur, menatapku tanpa suara. Tasbih berputar di jemarinya, dan dari bibirnya mengalir zikir yang tak pernah selesai.
Aku terpaku. Sekejap kemudian, bayangan itu lenyap bersama riak air. Hanya daun trembesi yang berguguran satu per satu, jatuh ke dalam sumur yang kembali tenang.
Aku bergegas berdiri. Di kejauhan, suara azan magrib menggema dari surau tua. Aku berjalan pulang dengan langkah berat. Tapi di telingaku masih terdengar gema samar dari dalam sumur:
“Jagalah sumur ini, Nak.”
Aku menoleh sekali lagi.
Di bawah pohon trembesi tua, Sumur Syawal masih berada, menatapku dengan diam yang panjang.
Dan entah mengapa, di kejauhan, seekor perkutut melintas rendah—meninggalkan bayangannya di permukaan sumur yang menderita akibat pengkhianatan manusia … (#)
Ciputat, di ujung senja, 18 Jumadilawal 1447/9 November 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












