
Sebanyak 128 pimpinan sekolah Muhammadiyah Bojonegoro mengikuti workshop branding digital demi memperkuat citra pendidikan dan memastikan tidak ada anak yang putus sekolah di era modern ini.
Tagar.co — Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bojonegoro mendadak riuh, Rabu, 12 Februari 2026. Sebanyak 128 pimpinan dan kepala sekolah Muhammadiyah berkumpul. Mereka bukan sekadar melaksanakan rapat rutin, melainkan menyusun strategi perang di dunia maya. Mereka sadar, kapur dan papan tulis kini harus bersanding dengan konten kreatif di media sosial.
Acara bertajuk Workshop Branding dan Marketing Sekolah Muhammadiyah ini menyatukan visi para Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen PNF, serta kepala sekolah dari jenjang SD hingga SMA. Bekerja sama dengan tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), PDM Bojonegoro ingin membedah cara membangun reputasi agar sekolah mereka tidak hanya sekadar ada, tetapi menjadi pilihan utama masyarakat.
Nurul Azizah, Wakil Bupati Bojonegoro periode 2025–2030, membuka acara dengan nada optimis. Ia menegaskan, pemerintah daerah menaruh perhatian besar pada sektor pendidikan, terutama dalam menghadapi gelombang digitalisasi. “Bojonegoro sangat peduli dengan pendidikan, apalagi sekarang era digital. Digitalisasi itu penting dan wajib,” tegas Nurul di hadapan para peserta.
Ia juga menjanjikan dukungan penuh pemerintah bagi sekolah-sekolah yang ingin bertransformasi. Menurutnya, kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah sangat krusial untuk memastikan akses pendidikan yang merata.
“Pemerintah siap memfasilitasi pelatihan-pelatihan pendukung. Di Bojonegoro tidak boleh ada anak usia sekolah yang putus sekolah,” imbuhnya dengan lugas.
Baca Juga: Perkuat Kampus Berdampak, Sosiologi FISIP UMM Resmi Gandeng Detikcom Jatim
Membentuk Karakter di Tengah Arus Algoritma
Ketua PDM Kabupaten Bojonegoro, Drs. H. Suwito, M.Si., mengamini pernyataan tersebut. Baginya, 63 sekolah Muhammadiyah di Bojonegoro kini berada di persimpangan jalan. Jika tidak segera beradaptasi dengan teknologi, merema akan tertinggal oleh zaman yang terus berlari kencang. Suwito menekankan, mendidik anak-anak masa kini harus selaras dengan alat yang mereka genggam setiap hari: gawai.
Nurudin, dosen UMM yang menjadi pemateri utama, memberikan pandangan tajam mengenai positioning. Mantan Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM ini mengingatkan, kualitas internal sekolah saja tidak cukup jika dunia luar tidak mengetahuinya. Branding, menurutnya, adalah nafas jangka panjang sebuah institusi pendidikan.
“Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus dikenal, dipercaya, dan dipilih,” ujar Nurudin.
Ia mengajak para kepala sekolah untuk mulai menentukan identitas unik sekolah mereka masing-masing. “Sekolah mau dikenal sebagai apa? Apakah unggulan, berkarakter, atau akademis? Itu harus mulai diposisikan. Media sosial sekarang tidak bisa kita anggap remeh,” tambahnya lagi.
Dalam sesi tersebut, ia membedah bagaimana algoritma media sosial bekerja untuk menarik minat calon wali murid. Ia menekankan, sekolah harus hadir dengan cerita yang menyentuh emosi, bukan sekadar brosur digital yang kaku. Perubahan perspektif ini membuat para peserta menyadari bahwa citra sekolah adalah investasi masa depan.
Baca Juga: UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan
Gerakan Konten Massal Berbasis Komunitas
Memasuki sesi teknis, M. Himawan Sutanto, Ketua Tim Pengabdian dari UMM, memperkenalkan konsep User Generated Content (UGC). Ia menjelaskan, era promosi satu arah sudah berakhir. Sekarang, kekuatan promosi terletak pada kolaborasi masif antara seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, staf, hingga para siswa itu sendiri.
“Promosi tidak bisa lagi menggunakan cara kuno saja. Semua guru, karyawan, bahkan siswa bisa ikut membuat konten. Entah itu tulisan, foto, atau video. Semua untuk kepentingan sekolah,” jelas Himawan.
Ia mendorong sekolah untuk memadukan pendekatan langsung (below the line) dengan publikasi massal (above the line) guna menciptakan efek pemasaran yang terintegrasi.
Para peserta tampak antusias saat mengikuti sesi pendampingan pembuatan konten. Mereka mulai mempraktikkan cara mengambil sudut gambar yang menarik dan menyusun narasi pendek yang memikat. Kesadaran baru pun muncul: promosi bukan lagi beban tim media semata, melainkan tanggung jawab kolektif setiap individu yang bernaung di bawah bendera Muhammadiyah.
Sebagai langkah keberlanjutan, PDM Bojonegoro telah merencanakan pelatihan lanjutan. Mereka tidak ingin semangat ini padam hanya dalam satu hari. Dengan penguatan branding digital yang berkelanjutan, sekolah-sekolah Muhammadiyah di Bojonegoro optimis dapat terus mencetak generasi unggul yang siap bersaing di panggung global tanpa meninggalkan akar karakter religiusnya. (#)
Penyunting Sayyidah Nuriyah












