Feature

Spemdalas Datangkan Aktivis Lingkungan dan Kran Raksasa Lawan Sampah

30
×

Spemdalas Datangkan Aktivis Lingkungan dan Kran Raksasa Lawan Sampah

Sebarkan artikel ini
Spemdalas
Prigi Arisandi (lima dari kanan) saat foto bersama usai memberikan materi (Tagar.co/Istimewa)

Zero waste bukan sekadar slogan, tetapi pesan supaya kita memiliki kesadaran tentang bahaya sampah plastik. Gaya hidup konsumtif dan kebiasaan memakai plastik sekali pakai menjadi penyebab utama. Waduh, bahaya!

Tagar.co – Suasana agak redup, ditambah lagi langit sedikit mendung. Halaman SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik tampak rampai oleh siswa kelas VII.

Dengan senyum ceriah, mereka bertanya, “Apa itu, Ustadz?” ketika melihat kran raksasa yang melayang di area halaman paving depan Unit Kesehatan Siswa (UKS). Ya, siang itu, siswa kelas VII mengikuti kegiatan Guest Teacher dengan tema Zero Waste to Create a Healthy Planet.

Untuk melawan sampah plastik, Spemdalas secara khusus mendatangkan aktivis lingkungan dan juga Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi, M.Si., Kamis (21/8/2025).

Sebelum acara dimulai, Prigi Arisandi menjelaskan filosofi kran raksasa melayang dengan air yang mengalir, tetapi diganti dengan aliran berupa sampah plastik.

“Ini maksudnya adalah kita harus menstop aliran sampah. Dengan menutup kran berarti kita sudah melawan sampah plastik di lingkungan kita,” jelasnya.

Baca Juga:  Sambut Ramadan, PRA Rangkah Kidul dan Bluru Tebar Paket Sembako

Iconik ini, lanjutnya, sering dibawa ke mana-mana ketika kami melakukan sosialisasi atau kampanye tentang bahaya sampah plastik bagi alam dan manusia.

“Ketika kampanye ke Solo, kran ini ini juga kita bawa. Sampai sampah pastiknya juga. Ini yang menjadi daya Tarik supaya mereka sadar tentang bahaya sampah plastik,” tambahnya.

Ecoton
Prigi Arisandi saat menyampaikan materi ke siswa kelas VII di Majis Taqwa Spemdalas (21/8/2025). (Tagar.co/Oky)

Kesadaran Generasi Muda

Di hadapan siswa kelas VII, dia memberikan penguatan sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya mengurangi sampah sejak dini.

Dalam pemaparannya, Prigi menjelaskan masalah sampah plastik semakin mengkhawatirkan, terutama di Indonesia yang menjadi salah satu negara penyumbang terbesar sampah laut di dunia.

Menurutnya, gaya hidup konsumtif dan kebiasaan memakai plastik sekali pakai menjadi penyebab utama.

“Sampah plastik tidak mudah terurai. Jika masuk ke sungai dan laut, ia akan mencemari air, merusak ekosistem, bahkan kembali ke tubuh kita melalui ikan yang terkontaminasi mikroplastik,” jelasnya.

Prigi mengajak siswa untuk memahami konsep zero waste dengan langkah sederhana. Ia mencontohkan membawa botol minum sendiri ke sekolah, menggunakan kotak makan yang dapat dipakai berulang, serta mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja.

Baca Juga:  IsmuTrip, Cara SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo agar Siswa Belajar dari Alam, Dekat dengan Allah
Zero Waste
Prigi Arisandi saat menjelaskan ke siswa Spemdalas perihal sampah plastik melalui media mikroskop saat pameran di Andalusia Hall, Kamis (21/8/2025). (Tagar.co/Ichwan Arif)

Selain itu, lanjutnya, sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman di lingkungan rumah maupun sekolah.

Presentasi tersebut dikemas secara interaktif. Prigi mengajak siswa berdiskusi serta menunjukkan contoh nyata dampak sampah terhadap lingkungan sekitar Gresik. Para siswa terlihat antusias, bahkan beberapa menyampaikan pengalaman pribadi mereka dalam mengurangi sampah plastik di rumah.

Pihak sekolah menyambut baik kegiatan ini sebagai upaya membentuk karakter peduli lingkungan. Guru pendamping menegaskan bahwa edukasi semacam ini penting untuk melatih kebiasaan baik sejak usia remaja.

Di akhir sesi, Prigi berpesan, mari kita jaga sungai kita dengan meminimalisir penggunaan kemasan plastik sekali pakai. (#)

Jurnalis Dheni Iga Pratiwi. Penyunting Ichwan Arif.