Feature

Setelah Dua Dekade, Gita Suara Wijaya UWKS Bernyanyi Kembali

883
×

Setelah Dua Dekade, Gita Suara Wijaya UWKS Bernyanyi Kembali

Sebarkan artikel ini
Berfoto bersama dengan Ketua UKM Paduan Suara Universitas Wijaya Kusuma Surabaya angkatan 2005-2006, Rahmanul Yusuf Mugiharto saat temu kangen di rumah Soraya Noorjannah, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 12 April 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Dua dekade tak bertemu, alumni paduan suara UWKS kembali bernyanyi dalam reuni hangat penuh cerita dan camilan nostalgia. Dari lagu “ni no na” hingga bakso malam hari.

Tagar.co – Tawa, lagu, dan kenangan lama kembali bersemi di sebuah rumah sederhana di Surabaya Barat, Sabtu (12/4/2025). Rumah milik keluarga Soraya Noorjannah dan Laili Masrina itu mendadak menjadi tempat temu kangen hangat para alumni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Gita Suara Wijaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Pertemuan ini bukan sekadar ajang nostalgia. Ini adalah konser mini yang penuh canda, lagu, dan kisah lintas angkatan. Bermula dari pesan WhatsApp yang dikirim Conny Kun Angganegari Kusuma (angkatan 2003) pada Jumat malam, hanya berselang sehari sebelum pertemuan. Ia mengajak rekan-rekan alumni berkumpul di rumah “Oya”—sapaan akrab Soraya—karena kebetulan sang dirigen tengah mudik dari Kalimantan.

Baca juga: Menjaga Api Iman di Bulan-Bulan Sunyi

“Yang bisa gabung langsung saja isi list di sini ya. Kita tunggu pukul 15.30 WIB ya teman-teman,” tulis Conny, penuh antusias.

Baca Juga:  Lazismu Jatim Dorong Pengasuhan Anak Yatim Berbasis Keluarga

Ajakan itu disambut hangat. Tidak ada yang ingin menyia-nyiakan kesempatan langka bertemu kembali setelah lebih dari dua dekade. Indah Purnamasari, alumni 2003 yang tinggal di Menganti, bahkan mengatur perjalanan bersama dengan Nadhirotul Mawaddah, penulis cerita ini.

Agar tidak merepotkan tuan rumah, para peserta membawa konsumsi masing-masing sesuai inisial nama. Mulai dari klepon gempo, sempol ayam, hingga brownies cokelat turut meramaikan meja. Tapi yang jadi favorit anak-anak adalah siomay dimsum buatan Oya dan Rina.

“Enak banget, aku suka,” kata Kenzie, anak Nur Faizah (angkatan 2003), sambil tak berhenti mengunyah siomay. Anak penulis, Sultan Ahmad Ateem, bahkan tak ragu menghabiskan sempol ayam Ita. “Sempol ayamnya aku habisin ya, Bun,” katanya mantap.

Mereka yang hadir sore itu antara lain Soraya Noorjannah (2002), Laili Masrina (2003), Conny, Faiz, Mahar, Chandra, Ita, Indah (semuanya 2003), serta Nadhirotul Mawaddah (2001) dan Yohanes Timur Kriswandono (2007). Lewat video call, Rahmanul Yunuf Mugiharto, Ketua UKM Paduan Suara 2005–2006, turut hadir menyapa.

Baca Juga:  Tanpa Gawai, Petak Umpet Menghidupkan Liburan Anak-Anak
Menikmati kebersamaan di warung bakso Pratama, Jalan Raya Dukuh Kupang Barat Surabaya Jawa Timur, Sabtu, 12 April 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Ketika lagu “ni no na”—lagu pemanasan legendaris mereka—dilantunkan bersama, suasana seolah kembali ke ruang latihan kampus dua dekade silam. Suara bersahutan, tawa berserakan, dan air mata haru pun nyaris tak terbendung.

“Yuk, kita nyanyi bareng lagu Hymne Wijaya Kusuma,” ajak Conny disambut sorak semangat. Ruang tamu pun seketika berubah jadi panggung kecil, tempat Gita Suara Wijaya UWKS bernyanyi kembali, meski dengan formasi mini.

Selepas acara inti, rombongan alumni beranjak menuju Pasar Dukuh Kupang. Target awal: bakso super legendaris. Sayang, kedai sudah tutup. Tanpa kehilangan semangat, mereka pun beralih ke Bakso Pratama yang tak kalah menggoda.

Dari rumah ke pasar, dari lagu ke tawa, semua mengalir begitu alami. Satu hal yang pasti: semangat persaudaraan tak memudar, meski berbeda angkatan dan fakultas. Kebersamaan sebagai keluarga besar Gita Suara Wijaya tetap terjaga.

“Semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi, dengan personil yang lebih lengkap ya,” harap Conny di penghujung acara.

Bagi mereka, suara bukan hanya tentang nada dan harmoni. Tapi juga tentang ikatan, kenangan, dan silaturahmi yang tak lekang oleh waktu. (#)

Baca Juga:  Kotak Bekal Azka

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni