Feature

Sejarah di Simpang Jalan Kurikulum: Menjaga Memori Bangsa

751
×

Sejarah di Simpang Jalan Kurikulum: Menjaga Memori Bangsa

Sebarkan artikel ini
Narasumber dan peserta Seminar Nasional ‘Sejarah di Simpang Jalan Kurikulum: Antara Substansi, Kompetensi, dan Ideologi’

Melalui seminar nasional, mahasiswa Pendidikan Sejarah Uhamka menyerukan pentingnya sejarah sebagai pelajaran wajib. Mereka menyoroti tantangan kurikulum dan bahaya disinformasi sejarah di era digital.

Tagar.co — Aula Ahmad Dahlan di Gedung A FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) pada 20 Mei 2025 menjadi saksi berlangsungnya sebuah seminar nasional yang menggugah pemikiran: “Sejarah di Simpang Jalan Kurikulum: Antara Substansi, Kompetensi, dan Ideologi”. Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Uhamka periode 2024–2025, kegiatan ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai penjuru, baik secara luring maupun daring.

Baca juga: Hima PGSD Uhamka dan UPI Purwakarta Bertemu: Dari Studi Banding Menuju Kolaborasi

Acara yang berlangsung dengan khidmat itu mempertemukan para pendidik, mahasiswa, dan pemangku kepentingan pendidikan sejarah dalam satu ruang dialog. Di antara narasumber utama hadir Sumardiansyah Perdana Kusuma (Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia), Lelly Qodariah (Dosen Pendidikan Sejarah), dan Prof. Susanto Zuhdi. Total ada sekitar 300 peserta yang terlibat aktif, berasal dari kalangan guru sejarah, mahasiswa lintas program studi, hingga perwakilan Dinas Pendidikan.

Baca Juga:  Mahasiswa PBSI Uhamka Ambil Peran dalam Pengolahan Korpus Bahasa Daerah 2025

“Sejarah Resmi adalah Jangkar Memori Bangsa”

Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Uhamka, Desvian Bandarsyah, yang juga menjadi keynote speaker, menyampaikan pesan mendalam tentang urgensi peran negara dalam menyusun narasi sejarah.

“Sejarah resmi adalah jangkar memori bangsa. Tanpa kehadiran negara dalam menyusun narasi sejarah, generasi muda akan tumbuh dalam kebingungan yang berkepanjangan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Lelly Qodariah menekankan bahwa sejarah bukan sekadar mata pelajaran hafalan, tetapi alat untuk membentuk kesadaran kebangsaan. Ia juga menyoroti bahaya disinformasi sejarah di era digital yang bisa mengaburkan jati diri generasi muda.

“Sejarah harus dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah. Ia membentuk kesadaran kebangsaan, bukan sekadar hafalan peristiwa,” tegasnya.

Menggugah Suara Sejarawan Muda

Seminar ini, menurut Ketua Pelaksana Riyadh Taufiqur Rahman, telah disiapkan selama dua bulan. Tujuannya tak sekadar memperluas wawasan, tetapi juga menjadi wadah menyuarakan aspirasi sejarawan muda. Ketua Bidang Keilmuan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Andika Agus Tian, menuturkan bahwa tema seminar dipilih untuk menjawab keresahan para calon pendidik dan guru sejarah atas posisi sejarah dalam kurikulum nasional.

Baca Juga:  Deklarasi Tanah Merdeka: Mahasiswa FH Uhamka Dorong RUU Perampasan Aset Jadi Prioritas

“Kami ingin membuktikan bahwa sejarah adalah bagian penting dalam pembentukan moral keutuhan bangsa,” ujarnya.

Rangkaian sambutan di awal kegiatan juga diisi oleh Ahmad Maulana (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah), Satria Wicaksana (Ketua DPM FKIP Uhamka), Fikri Agung (Perwakilan BEM FKIP), Andi (Kaprodi Pendidikan Sejarah), dan Purnama Syae Purrohman (Dekan FKIP Uhamka).

Materi Beragam, Pemikiran Kritis Terpacu

Materi pertama dibuka oleh Sumardiansyah dengan tema Transformasi Kurikulum dan Dinamika Materi Sejarah. Dilanjutkan Prof. Susanto Zuhdi yang mengulas relasi antara ideologi, politik, pendidikan, dan narasi sejarah. Materi ketiga dibawakan oleh Lelly Qodariah yang berbicara soal Penguatan Pembelajaran Sejarah berbasis Nilai Kebangsaan, Kritis, Karakter, dan Demokratis.

Luthfiyatul Fishiyah, salah satu peserta mahasiswa, menyampaikan kesan positifnya terhadap acara ini.

“Pemaparan ketiga pemateri sangat interaktif dan kuat secara penyampaian. Ini acara yang menarik untuk mahasiswa yang ingin lebih tahu dan penasaran dengan sejarah. Harapannya, seminar seperti ini bisa lebih luas jangkauannya dan materinya makin beragam,” ujarnya.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Cara Mengajar K.H. Ahmad Dahlan di Tengah Transformasi Pendidikan Nasional

Pesan Terakhir: Baca Buku dan Berjuang untuk Sejarah

Menutup seminar, Andika Agus Tian memberikan pesan penuh semangat kepada generasi muda yang peduli pada sejarah dan pendidikan.

“Seminar ini menyoroti isu-isu krusial, terutama perjuangan agar sejarah tetap mendapat tempat sebagai mata pelajaran wajib. Dan satu hal yang ingin saya sampaikan—bacalah buku sebanyak-banyaknya. Jangan memilih dan memilah. Semua buku punya manfaat, tergantung dari sudut pandang kita melihatnya.”

Seminar ini tak hanya menjadi ruang akademik, tapi juga ruang perjuangan wacana. Di tengah gelombang arus kurikulum dan kepentingan ideologi, sejarah berdiri sebagai penjaga moral bangsa—selama masih ada yang bersuara dan berani membacanya. (#)

Jurnalis Azzahra Putri Aulia Penyunting Mohammad Nurfatoni