Opini

RRI di Tapal Batas, Menghadang Invasi Siaran Asing

41
×

RRI di Tapal Batas, Menghadang Invasi Siaran Asing

Sebarkan artikel ini
RRI punya tugas krusial. Menjaga suara negara tetap hadir di perbatasan dan pulau terluar. Menjaga udara siaran dari serangan siaran asing. Mencerahkan masyarakat di garda depan dengan informasi mencerdaskan.
Ilustrasi AI. Warga perbatasan Papua mendengarkan radio.

RRI punya tugas krusial. Menjaga suara negara tetap hadir di perbatasan dan pulau terluar.  Menjaga udara siaran dari serangan siaran asing. Mencerahkan masyarakat di garda depan dengan informasi mencerdaskan.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – ‎Di sepanjang garis perbatasan dan wilayah terluar Indonesia, radio negara tidak boleh mati. Kalau mati ruang dengar bisa dikuasai pihak lain. Ini wilayah krusial yang harus dirawat ketahanan kedaulatan siarannya.

Itulah tugas RRI (Radio Republik Indonesia) yang menyatukan udara siaran di daerah tapal batas. Mencerahkan masyarakat di pinggiran dengan informasi mencerdaskan.

‎Titik-titik seperti Entikong, Badau, Aruk, dan Jagoi Babang di Kalimantan Barat. Nunukan, Sebatik, Long Bawan, dan Krayan di Kalimantan Utara. Batam, Tanjungpinang, Natuna, Anambas, Dumai, dan Bengkalis di wilayah barat merupakan bagian dari garis depan kedaulatan siaran nasional.

‎Di ujung barat Sumatra terdapat Banda Aceh, Aceh Singkil, dan Simeulue. Di Sulawesi Utara ada Miangas. Sementara di Nusa Tenggara Timur terdapat Pulau Rote, Alor, dan Sabu Raijua.

‎Di Papua, titik-titik penting seperti Skouw, Oksibil, dan Merauke menjadi wilayah strategis yang menuntut kehadiran RRI.

‎Di seluruh wilayah ini, negara wajib hadir secara aktif melalui RRI dengan kebijakan siaran yang fokus, disiplin, dan punya peran memitigasi kehidupan berwarga di perbatasan dan pulau terluar.

‎Menjaga bahasa Indonesia, menyampaikan informasi negara, memperkuat kohesi sosial, serta memastikan bahwa suara NKRI terdengar, dipilih, dan dipercaya sebagai rujukan utama masyarakat perbatasan dan pulau terluar.

Serangan Siaran Asing

‎Sejatinya, inilah tanggung jawab RRI yang paling krusial. Menjaga suara negara tetap hadir di perbatasan dan pulau terluar.

Bukan tergiur dengan pekerjaan di luar jati diri sebagai radio penyiaran. Kehadiran ini harus dirawat dengan disiplin dan fokus. Karena di sinilah kedaulatan bangsa dieramkan dan bertumbuh.

Baca Juga:  Analisis Ilmiah dan Sensasi: Runtuhnya Otoritas Ahli

‎Oleh karena itu siaran khusus teritori NKRI adalah medan mempertahankan kedaulatan. Ia harus ada dan dipertahankan dan tidak boleh tidur nyenyak. Ada gairah, bukan ditinggalkan.

‎Di Entikong dan Nunukan misalnya,  RRI bekerja di garis depan. Keras menghadapi gempuran siaran Malaysia yang masuk setiap hari dengan sinyal lebih kuat, lebih banyak, dan lebih menghibur.

Banyak radio amatir dan pecinta radio short wave menjadi penggemar setia radio Malaysia. Sementara warga perbatasan mendengarkan lewat siaran FM. ‎

‎Puluhan stasiun asing mengisi ruang dengar masyarakat. RRI hanya mengudara dengan beberapa frekuensi terbatas.

Siaran asing terus membombardir telinga warga dengan program hiburan dan informasi. RRI tampak seperti kecil di sudut yang harus berjuang ekstra keras agar suaranya nyaring terdengar.

‎Ujiannya jelas: apakah ruang dengar perbatasan dibiarkan dikuasai pihak lain, atau dijaga dengan fokus dan disiplin penuh. RRI tidak boleh lalai. Kehadirannya bukan sekadar siaran, tetapi simbol kedaulatan dan identitas bangsa.

‎Medan ini tidak ringan. Warga Entikong bisa tertawa, bernyanyi, dan terhibur oleh siaran asing, sementara RRI harus bekerja ekstra agar suaranya tetap terdengar merdu dan memukau.

‎Justru dalam kondisi timpang inilah peran RRI menjadi vital: satu-satunya suara negara yang menyampaikan informasi nasional, menjaga bahasa Indonesia, dan memperkuat rasa kebangsaan.

‎Program-program dirancang untuk meningkatkan karakter nasional dan mendukung kohesi sosial melalui informasi, pendidikan, dan hiburan yang sehat di seluruh pelosok negeri.

‎Maka Jakarta harus peduli merawat radio di perbatasan supaya dekat masyarakat, tanpa terganggu program yang kurang relevan.

Perbatasan bukan wilayah pinggiran. Ia garis depan yang menuntut perhatian penuh, tanggung jawab total, dan disiplin tanpa kompromi.

Pertarungan di Tapal Batas

‎Di barat Indonesia, RRI Batam dan Tanjungpinang menghadapi tekanan siaran Malaysia dan Singapura yang lebih kuat dan populer. RRI Batam mengudara di beberapa frekuensi lokal untuk menjangkau pendengar luas di Kepulauan Riau.

Baca Juga:  AI Generatif dan Integritas Jurnalisme

‎Di Dumai dan Bengkalis, tantangan geografis: wilayah pesisir luas, penduduk tersebar, dan cuaca ekstrem sering mengganggu gelombang radio. Dalam posisi seperti ini, RRI harus siap 24 jam dengan strategi teknis dan konten yang matang agar tetap relevan dan dijaga benar.

‎Di Banda Aceh dan Aceh Singkil, tekanan datang dari siaran asing di Selat Malaka yang sangat menggoda. Apalagi bercampur dengan bahaya pengaruh faktor kultural.

‎Penduduk terbiasa mendengar bahasa tetangga. Idealnya RRI harus memastikan kontennya tetap memperkuat identitas nasional, bahasa Indonesia, dan kearifan lokal yang bertumbuh.

‎Di wilayah terluar, Miangas, pulau paling utara dekat Filipina, suplai terbatas, dan akses sulit. RRI tidak boleh mati; tetap hadir setiap hari memastikan masyarakat mendengar suara Indonesia.

Pemerintah melalui RRI sejak beberapa tahun lalu bahkan telah membangun pemancar di Miangas untuk memperkuat siaran di titik terluar negara.

‎Pulau Rote, ujung selatan, juga menghadapi tantangan serius di dekat zona perairan yang strategis dan penuh dinamika geopolitik.

‎Wilayah ini berdampingan dengan kawasan Ashmore Reef atau Pulau Pasir yang secara administratif merupakan bagian dari Australia.

Sebuah fakta yang menunjukkan adanya intervensi yurisdiksi asing di wilayah laut dekat Rote yang memengaruhi rasa kedaulatan lokal dan kegiatan warga di perairan selatan Indonesia.

‎Jarak dari pusat pemerintahan, medan terpencil, kebutuhan daya transmisi tinggi, serta situasi maritim yang sensitif menuntut dedikasi penuh bagi siapa pun yang bertugas di sana, termasuk perangkat radio yang harus bersuara dan bermakna di sudut paling selatan NKRI.

‎Di Papua, baik di Skouw/Jayapura maupun Merauke, RRI menghadapi kombinasi perbatasan darat luas dengan Papua Nugini, alam sulit, dan infrastruktur terbatas.

Baca Juga:  Langit ‎Indonesia Mau Disewakan

‎Stasiun RRI di Skouw dan Oksibil berjuang menjaga siaran apa adanya: alat terbatas, sinyal sering terganggu, tetapi tetap harus hadir setiap hari.

Justru di tempat yang sulit seperti ini, RRI harus kuat, menjadi satu-satunya suara negara yang terdengar, memastikan warga tidak kehilangan akses terhadap informasi, pendidikan, dan budaya nasional.‎

Corong Negara

RRI sebagai corong strategis negara untuk menjaga kedaulatan, menyebarkan informasi nasional, dan memperkuat rasa kebangsaan di wilayah paling jauh.

Tidak perlu terjebak bicara ruang lain yang bukan jati diri radio. Tugas utamanya jelas: merawat suara bangsa, memastikan setiap program siaran membuktikan kehadiran negara.

‎Dengan anggaran besar, RRI harus membuktikan kinerjanya, loyal pada misi, dan program siaran yang menegaskan kedaulatan negara serta meningkatkan kecerdasan publik.

Suara RRI harus dipilih, diandalkan, dan bermanfaat bagi masyarakat perbatasan dan pulau terluar.

‎Kesejahteraan pekerja RRI di wilayah ini juga harus dijamin. Mereka menanggung medan berat, bekerja di lokasi terpencil, menghadapi cuaca ekstrem, dan bertugas di bawah tekanan siaran asing.

‎Kinerja maksimal tercapai bila staf merasa aman, dihargai, dan mendapat dukungan penuh dari pusat. Maka Jakarta harus menempatkan Kasatker pilihan.

Pimpinan yang memahami program siaran, mampu mendekatkan RRI dengan publik, dan menjadikan RRI magnet bagi pendengar, satu-satunya suara yang mereka cari dan andalkan.

‎Di medan perbatasan, RRI harus membuktikan bahwa suara negara lebih dari frekuensi. Ia instrumen diplomasi, pendidikan, dan budaya.

‎Dari Batam hingga Miangas, dari Aceh hingga Papua, RRI harus sanggup menunjukkan bahwa radio bukan hiburan semata, melainkan corong negara yang menegaskan kedaulatan, membangun kecerdasan publik, dan memastikan suara NKRI tetap terdengar dari Sabang sampai Merauke. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…