Sejarah

Prof. Usman El-Muhammady: Ulama, Penulis, dan Pejuang dari Aceh

620
×

Prof. Usman El-Muhammady: Ulama, Penulis, dan Pejuang dari Aceh

Sebarkan artikel ini
Lelaki pejuang itu murid dari dua ulama besar sekaligus penulis terkemuka, A. Hassan dan Hasbi Ash-Shiddieqy. Karya tulis Prof. Usman El-Muhammady berlimpah, menjadi bukti kiprah dakwah dan intelektualnya. Jejaknya berlanjut lewat cucu-cucunya, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, yang sukses menorehkan nama dalam dunia sastra Islam.
Usman El-Muhammady (Tagar.co/Istimewa)

Lelaki pejuang itu murid dari dua ulama besar sekaligus penulis terkemuka, A. Hassan dan Hasbi Ash-Shiddieqy. Karya tulis Prof. Usman El-Muhammady berlimpah, menjadi bukti kiprah dakwah dan intelektualnya. Jejaknya berlanjut lewat cucu-cucunya, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, yang sukses menorehkan nama dalam dunia sastra Islam.

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Tagar.co – Usman El-Muhammady layak sering kita kenang. Dia murid dari dua ulama besar. Prestasi dakwahnya, termasuk di bidang kepenulisan, sangat menonjol. Anak keturunannya juga ada yang meneruskan perjuangannya lewat jalur tulisan dan pendidikan.

Dia lahir di Aceh pada 3 Maret 1903. Nama lengkapnya, Teungku Muhammad Usman El-Muhammady. Nama itu biasa ditulis T.M. Usman El-Muhammady. Ia aktif di Muhammadiyah.

Kaya Karya

Usman El-Muhammady seorang guru besar. Pada dirinya melekat banyak sebutan, antara lain ulama, dosen, ilmuwan, pejuang kemerdekaan, musisi, dan penulis produktif.

Sebagai penulis, dia menghasilkan banyak karya (ada yang menyebut lebih dari seratus judul). Di antaranya, Konsepsi Pembangunan Djiwa Islam (Djiwa Negara dan Kebudayaan Islam) (1951), Islamic Sociology – Islam Dipeladjari dari Segi Sociologie Modern (1953), dan Kuliah: Iman dan Islam (1957).
Ada juga Kuliah: Islam dan Politik Negara (1957), Ilmu Ketuhanan jang Maha Esa (1963), Hikmah Zakat dan Pengertiannya (1970), dan Sepintas Rahasia Hikmat Syariat Islam (1964). Pun, Pengantar Ilmu Islam (Islamologi) (1964).

Sementara itu, keaktifan Usman El-Muhammady di media cetak cukup besar. Ia pendiri sekaligus pemimpin redaksi sejumlah majalah seperti Suara Aceh (1927–1934), Al-Muslimin (1932–1934), dan Majalah Industri (1934).

Baca Juga:  Tak Lelah Berdakwah seperti Ahmad Dahlan dan Siti Walidah

Iman dan Sujud

Buku Kuliah: Iman dan Islam karya Usman El-Muhammady berisi analisis tentang pengertian iman dan Islam yang praktis menurut tuntunan Al-Qur’an dan sunah yang berwatak sejarah. Buku ini dipakai sebagai bahan kuliah di berbagai universitas di Indonesia dan Malaysia berkaitan dengan Islam, filsafat Islam, sosiologi Islam, dan Islamologi (Goodreads).

Mari buka buku tersebut cetakan kelima tahun 1962. Sampulnya merah dengan kombinasi hitam. Tebalnya 93 halaman.

Di Pendahuluan (h. 7) disebutkan bahwa buku ini ditulis untuk menjelaskan hubungan iman dengan ilmu pengetahuan. Materinya telah dikuliahkan oleh sang penulis kepada mahasiswa di beberapa universitas Islam di Indonesia, terutama di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dan di Universitas Muhammadiyah Fakultas Filsafat dan Hukum di Medan.

Apa tujuan buku ini? Tak lain, untuk memperjelas pengertian iman menurut ilmu pengetahuan dan filsafat hingga dapat membawa hasil bagi tiap Muslim terkait sujudnya dalam salat lima waktu sehari semalam.

Lelaki pejuang itu murid dari dua ulama besar sekaligus penulis terkemuka, A. Hassan dan Hasbi Ash-Shiddieqy. Karya tulis Prof. Usman El-Muhammady berlimpah, menjadi bukti kiprah dakwah dan intelektualnya. Jejaknya berlanjut lewat cucu-cucunya, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, yang sukses menorehkan nama dalam dunia sastra Islam.
Buku krya Usman El-Muhammady: Kuliah: Iman dan Islam (Tagar.co/Atho Khoironi)

Dari Dua Guru

Saat muda, Usman El-Muhammady rajin berguru kepada banyak tokoh Islam, terutama kepada A. Hassan dan Hasbi Ash-Shiddieqy. Keduanya adalah ulama besar.

A. Hassan dikenal sebagai ulama yang kritis. Di kalangan Persis, dia dikukuhkan sebagai guru dan tokoh. A. Hassan telah membawa Persis menjadi organisasi pembaru yang terkenal tegas dalam masalah-masalah fikih. Lelaki yang lahir di Singapura ini jago debat dan penulis produktif. Di antara puluhan karyanya, ada Tafsir Al-Furqan. Sebagian karyanya masih terus dicetak ulang hingga kini.

Adapun Hasbi Ash-Shiddieqy, juga ulama yang produktif menulis. Lebih dari 70 judul kitab/buku telah ditulisnya. Isinya meliputi berbagai bidang, seperti tafsir, hadis, fikih, dan pedoman ibadah. Di antara karyanya ada Tafsir An-Nur.

Banyak bukunya masih terus dicetak ulang hingga kini. Karena kepakarannya dalam ilmu hadis, pada tahun 1960 dia diangkat menjadi guru besar bidang Ilmu Hadis. Sejak itu ia juga menjadi dekan Fakultas Syariah IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga 1972.

Baca Juga:  Buku Legendaris Fiqhud Da’wah: Kolaborasi Indah M. Natsir dan S.U. Bayasut

Spirit Guru

Usman El-Muhammady pernah menjadi mubalig di Bandung pada 1920-an. Kala itu, ajaran A. Hassan memengaruhi pemikirannya, terutama terkait hukum-hukum Islam.

Dia pernah berbulan-bulan tinggal di rumah A. Hassan di Bandung. Lewat sebuah tulisan, Atawijaya merujuk salah satu edisi Majalah Al-Muslimun yang di dalamnya ada judul Jasa Persatuan Islam.

Si penulis, Usman El-Muhammady, menulis:

“Ajaran-ajaran dari almarhum Ustaz A. Hassan (waktu di Bandung) bukan ilmunya saja yang menarik hati dan otak saya, tetapi pribadi beliau dengan akhlaknya dalam menghayati kehidupan sosial dalam masyarakat secara Islam. Pribadi almarhum dengan akhlaknya dalam kehidupan sosial yang diteladani oleh putra-putra beliau, di antaranya A. Qadir, telah menjadi magnet yang menarik seluruh jiwa dan raga saya.”

Sebelum berguru ke A. Hassan, Usman El-Muhammady belajar kepada ulama asal Aceh, yaitu Hasbi Ash-Shiddieqy. Kepadanya, dia belajar bahasa Arab.

Pada 1927, Usman El-Muhammady pulang ke Aceh. Ia kemudian berdakwah tak hanya lewat lisan, tetapi juga tulisan. Ia mendirikan beberapa majalah seperti disebut di atas. Khusus Majalah Industri (terbit di Aceh dan Medan), Usman El-Muhammady juga mendirikan sekolah di Kota Medan dengan nama Sekolah Industri. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga:  Guru, Sejarah, dan Catatan Hamka

Terkait majalah-majalah yang dikelolanya, Usman El-Muhammady mengaku mengambil spirit dari Majalah Al-Lisaan dan Pembela Islam yang terbit di Bandung. Majalah-majalah itu dikelola A. Hassan, M. Natsir, dan lain-lain.

Buku krya Usman El-Muhammady: Ilmu Ketuhanan jang Maha Esa (Tagar.co/Atho Khoironi)

Semua Penerus

Usman El-Muhammady wafat pada 1978, dalam usia 75 tahun. Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan sebagai seorang pejuang kemerdekaan.

Di antara cucu Usman El-Muhammady ada yang mengikuti jejaknya sebagai penulis, yaitu Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Dua kakak-beradik ini dikenal dengan karya-karya fiksinya yang digemari anak-anak muda Muslim. Selain mereka, ada cucu lain bernama Astri Ivo yang juga menulis.

Khusus Helvy Tiana Rosa, ada catatan tambahan. Koran Tempo menjulukinya “Lokomotif Penulis Muda” dan The Straits Times menjulukinya “pionir sastra Islam Indonesia kontemporer” (2003). Adapun Los Angeles Times menulis bahwa karya-karya Helvy banyak mengangkat persoalan hak asasi manusia, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia termasuk Palestina (2007).

Helvy juga pernah mendapat 50 penghargaan tingkat nasional di bidang penulisan dan pemberdayaan masyarakat. Sebagian di antaranya sebagai Tokoh Sastra dari Balai Pustaka dan Majalah Sastra Horison (2013), serta Tokoh Perbukuan IBF Award dari IKAPI (2006) (Sumber).

Demikianlah, perjuangan Usman El-Muhammady tak harus diteruskan oleh anak-cucu saja. Semua umat Islam berkewajiban berdakwah, dan itu bisa lewat jalur pendidikan maupun kepenulisan. Jika wilayah dakwah ini yang kita pilih, maka sosok Usman El-Muhammady adalah teladan yang layak menginspirasi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni