Buku

Petunjuk Manusia Pilihan: Kisah Nabi-Nabi sebagai Solusi Kehidupan

712
×

Petunjuk Manusia Pilihan: Kisah Nabi-Nabi sebagai Solusi Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Cahaya Kuat di Gelap Pekat

Buku Petunjuk Manusia Pilihan ini memandu kita menyelami kisah para nabi sebagai solusi hidup dan peradaban. Sebuah refleksi mendalam agar Indonesia keluar dari kegelapan, menuju cahaya tauhid yang kokoh sepanjang zaman.

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya.

Tagar.co – Sejarah atau kisah, dalam Islam, sangat penting. Di antara buktinya, pertama, di dalam Al-Qur’an bagian yang berisi tentang sejarah atau kisah sangat banyak. Bahkan, surah ke-28 bernama Al-Qashash (kisah).

Kedua, ada ayat Al-Qur’an yang secara umum meminta kita rajin membaca kisah. Perhatikanlah terjemahan ayat ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Yusuf: 111).

Tentu, untuk merespons ayat di atas, kita harus tekun menyimak sejarah atau kisah. Buku karya Fahmi Salim (FS) ini bisa menjadi salah satu pilihan yang berharga. Di dalamnya penuh dengan kisah yang sangat bisa menginspirasi kita.

Awalan Elok

Buku dibuka dengan bagus, di bawah judul “Petunjuk: Apa Kata Mereka?”. Halaman pembuka ini menjadi bingkai sehingga pembaca lebih bisa menghayati misi dari buku ini, yaitu mengambil pelajaran dari kisah-kisah Manusia Pilihan.

Di situ dikutip ungkapan indah dari sejumlah ulama, antara lain Rasyid Ridha, Sayyid Qutb, dan Hamka. Rasyid Ridha, misalnya, mengatakan bahwa “Sebagaimana Nuh, Ibrahim, dan keluarga Dawud yang memiliki keistimewaan dalam bersyukur; Yusuf, Ayyub, dan Ismail dalam kesabaran; Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas dalam qana’ah dan kezuhudan; pun Musa dan Harun dalam keberanian dan keteguhan dalam menegakkan kebenaran” (h.v).

Setelah itu, FS menyampaikan Prolegomena (Kata Pengantar) berjudul Kisah Para Nabi di Al-Qur’an. Dia menyebutkan, isi Al-Qur’an sekitar sepertiganya adalah kisah. Hal ini, lanjut dia, menjadi dalil mengenai pentingnya kisah.

Untuk apa kisah? Antara lain:

  1. Meneguhkan hati (Hud: 120).

  2. Mengambil ibrah atau pelajaran (Yusuf : 111).

  3. Sebagai bekal hidup, terutama bagi pendakwah (h.xiii–xviii).

Baca Juga:  All Eyes on Sumud Flotilla

Kisah-kisah yang dimaksud semua bersumber dari Al-Qur’an. FS, melalui buku ini, mengajak pembaca merasakan mukjizat Al-Qur’an berupa solusi praktis dalam mengatasi masalah kehidupan.

Kisah Manusia Pilihan (utusan-utusan Allah) dihadirkan sebagai petunjuk yang menjadi penerang jalan agar kita (Indonesia dan dunia) segera keluar dari kegelapan menuju cahaya peradaban gemilang, bersendikan tauhid yang kokoh sepanjang masa (h.xii).

Semangat Nuh As

Nabi Nuh As adalah nabi pertama yang diutus Allah untuk menyeru kaumnya keluar dari kemusyrikan, penghambaan terhadap berhala-berhala, dan untuk semata-mata hanya menyembah Allah. Seruannya itu dilakukan dengan berbagai macam metode, baik targhib (memberi kabar gembira berupa pahala) maupun tarhib (memberi peringatan dan ancaman berupa azab dari Allah) (h.10).

Sebagai seorang rasul, prinsipnya tidak meminta upah dari siapa pun. Prinsip ini harus dicanangkan dalam dakwah. Jangan mengharap imbalan; upah itu sudah didapatkan dari Allah. Perhatikan ini: “Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam” (QS Asy-Syu’ara [26]: 109).

Masih dalam spirit Nabi Nuh As, kita membela ulama karena ajaran-ajaran kebenaran yang dibawanya, bukan untuk mengultuskannya. Kita harus berhati-hati agar tidak terjerumus seperti kaum Nabi Nuh As yang menjadikan tokoh-tokoh sebagai objek pengultusan.

Dakwah Nuh As berlangsung selama 950 tahun. Hasilnya hanya segelintir orang yang mau beriman. Mereka itulah yang mau naik ke dalam kapal, media penyelamat dari azab Allah berupa banjir besar.
Menjadi dai bukan untuk mencari pengikut, melainkan mencari rida Allah. Jika niatnya lurus, pengikut akan datang sendiri. Namun, jika niatnya buruk, dakwah akan sia-sia (h.11).

Ujian tak akan henti menyapa. Terkait Nabi Nuh As, ujian tidak hanya datang dari kaumnya, tetapi juga dari keluarganya sendiri. Istri dan anaknya ada di “seberang” Nuh As (h.15).

Sapaan Ibrahim As

Di halaman 31, ada judul “Tegar Berdiri di Jalan Dakwah: Belajar pada Nabi Ibrahim”.
Keistimewaan Nabi Ibrahim As adalah memiliki keluarga yang menjadi penggerak dakwah, bukan sekadar pendukung. Istri, anak-anak, dan cucu-cucunya semua aktif dalam dakwah. Inilah yang membuat risalah Nabi Ibrahim As tetap kekal hingga saat ini (h.35).

Baca Juga:  Tak Lelah Berdakwah seperti Ahmad Dahlan dan Siti Walidah

Inspirasi dari Nabi Ibrahim As juga terdapat dalam doa-doanya: doa kebaikan untuk keturunan, doa kebijaksanaan dan keteguhan iman, doa untuk umat, dan doa untuk negeri (h.36–38).

Dalam “Keteladanan Nabi Ibrahim untuk Manusia Kontemporer” (h.41), FS menyebutkan sembilan pelajaran. Salah satunya adalah pentingnya pendidikan anak dalam Islam. Nabi Ibrahim As selalu mendoakan dan mendidik anak-anaknya agar bertakwa dan berakhlak mulia. Doanya bisa dibaca di Asy-Syu’ara [26]: 83–89.

Ini menjadi pengingat agar kita selalu membimbing anak-anak dengan pendidikan agama sejak dini (h.45–46).

Spirit Ya’qub As

Di halaman 73, ada judul “Teladan Kesabaran dan Ketakwaan dalam Keluarga: Belajar pada Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf”.

Ali ’Imran [3]: 33 menyebutkan, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”

Allah menyebut nama pribadi Adam As dan Nuh As, tetapi memilih menyebut “keluarga” bagi Ibrahim As dan Imran As karena keturunannya mengikuti garis keimanan mereka.
Keturunan Ibrahim As seperti Ismail dan Ishaq membawa keberlanjutan dakwah. Dari Ismail As lahir Nabi Muhammad Saw., dari Ishaq As lahir Ya’qub dan Yusuf (h.74).

Membaca Surah Yusuf berarti membaca kisah orang-orang sukses yang dijamin selamat oleh Allah, dunia dan akhirat. Allah menyebut kisah Yusuf sebagai kisah terbaik (QS Yusuf [12]: 3).
Rencana Allah lebih hebat dari rencana manusia. Orang Islam harus bangkit lebih kuat setelah jatuh.

Yusuf As, meski pernah dipenjara, justru memanfaatkan waktu itu untuk berdakwah (h.81).
Semangat dan daya juang Yusuf As adalah teladan. Sukses tidak diukur dari materi saja, tetapi juga dari keselamatan akhirat. Kunci sukses itu adalah takwa, sabar dalam menaati dan menjauhi larangan Allah, serta sabar mengendalikan diri (h.83).

Baca Juga:  Bencana Ekologis Indonesia: Saatnya Menjadi Wahabi Lingkungan

Muhammad Saw Penyempurna

Kisah Nabi Muhammad Saw. menjadi unsur wajib dalam buku ini. Di halaman 245, ada judul “Teladan Rasulullah bagi Penyucian Jiwa Bangsa”.

Jika ingin membangun negara yang kuat dan maju, prinsipnya ada di At-Taubah [9]: 105. Seorang Muslim harus bekerja profesional di bidangnya dan tidak sibuk mengomentari bidang orang lain (h.247).

Saat hijrah dari Makkah ke Madinah yang menempuh perjalanan lebih dari 500 km dengan hewan tunggangan, Rasulullah Saw. disambut dengan suka cita.

Pidato politik pertama beliau adalah, “Wahai manusia, sebarkanlah salam dan berikanlah makanan kepada orang-orang yang membutuhkan” (h.249).

Baik dan Asyik

Buku ini ditulis oleh orang yang tepat. Pertama, keilmuan FS sangat mendukung. Dia lulusan S1 dan S2 Universitas Al-Azhar Mesir, kini menempuh S3 di sana, bidang Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an.

Kedua, pengalamannya luas. Dia pendiri dan direktur Al-Fahmu Institute, Pusat Dakwah Al-Qur’an, dan pernah berdakwah di Australia, Austria, Jerman, dan Qatar, serta mengikuti konferensi di Mesir, Turki, Lebanon, dan Malaysia.

Ketiga, dia aktif dalam organisasi: anggota International Union of Muslim Scholars (Qatar), Majelis Ilmuwan Nusantara (Malaysia), Ketua Forum Dai dan Mubaligh Azhari Indonesia, dan anggota Komisi Dakwah MUI Pusat 2020–2025.

Keempat, memiliki jam terbang menulis tinggi. Buku ini menjadi karya tulis ke-10.
Bahasanya mengalir, referensinya jelas, dan indeks tersedia (h.305–308).

Demikianlah! Seperti harapan FS, semoga kita menjadi insan yang cerdas, pandai mengambil ibrah dari kisah-kisah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup abadi (h.xxviii).

Selamat membaca buku berharga ini. Sebuah buku yang bak lentera di tengah gelap pekat. Bacalah dan rasakan wisata ruhani yang mencerahkan jiwa. Sejarah itu asyik. Kisah itu menggugah.

Data Buku

  • Judul buku: Petunjuk Manusia Pilihan: Jalan Indonesia Mengakhiri Kegelapan
  • Penulis: Fahmi Salim
  • Penerbit: Al-Fahmu Institute – Jakarta
  • Terbit: Juni 2025
  • Tebal: xxxviii + 313 halaman

Penyunting Mohammad Nurfatoni