Sejarah

Peristiwa Rengasdengklok Menurut Cerita Bung Hatta

44
×

Peristiwa Rengasdengklok Menurut Cerita Bung Hatta

Sebarkan artikel ini
Peristiwa Rengasdengklok menjelang proklamasi yang ditulis dalam buku, narasinya ada yang bercampur fantasi. Narasumber mendramatisasi perannya dalam sejarah.
Rumah yang ditempati Bung Karno dan Bung Hata di Rengasdengklok jelang kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok menjelang proklamasi yang ditulis dalam buku, narasinya ada yang bercampur fantasi. Narasumber mendramatisasi perannya dalam sejarah.

Tagar.co – Peristiwa Rengasdengklok menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah bercampur antara fakta dan fantasi.

Itu dikatakan Mohammad Hatta dalam bukunya Sekitar Proklamasi yang terbit pertama kali tahun 1969.

Bung Hatta menyebutkan, fantasi terjadi karena ada orang yang ingin perannya dibesar-besarkan untuk tujuan politik dan tampak berjasa.  Tidak dilakukan cek dan ricek untuk mencari kebenaran peristiwa sebenarnya.

Menurut dia, Proklamasi 17 Agustus 1945 dan perisitiwa jelang kemerdekaan adalah suatu kejadian besar yang menentukan jalannya sejarah Indonesia.

Sebagai suatu kejadian yang bersejarah sudah tentu diikuti pula oleh berbagai dongeng dan legenda. Jika diperhatikan betul, runtutan cerita peristiwa Rengasdengklok yang beredar tidak sesuai bahkan saling bertentangan.

Salah satu contoh narasi bahwa Sukarno dan Hatta bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah dipaksa oleh sekelompok pemuda.

Pada 16 Agustus 1945 dua orang ini dibawa ke Rengasdengklok Kabupaten Karawang, agar tidak terpengaruh oleh Jepang yang sudah kalah.

Di sana dipaksa menandatangani Proklamasi Kemerdekaan yang esok harinya 17 Agustus 1945 dibacakan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10 pagi.

Cerita fantasi ini, kata Hatta, terdapat dalam buku Sejarah Perjuangan Indonesia tulisan Muhammad Dimyati.

Baca Juga:  Politik Bebas Aktif Mulai Pragmatis

Bahasa yang dipakai buku ini berlebihan hingga tidak menggambarkan situasi sebenarnya. Misalnya, kalimat Tangsi Rengasdengklok pada waktu itu sudah dikuasai oleh pemuda-pemuda Indonesia.

Menurut Bung Hatta, tangsi Rengasdengklok tempat dia dan Bung Karno dibawa pemuda adalah asrama PETA. Pasukan Jepang tak ada di sana.

Tiap hari para pemuda tinggal dan berkegiatan di situ. Bagaimana bisa disebut sudah dikuasai dari Jepang? Di sini juga tidak ada perundingan tentang proklamasi dengan pemuda.

Masih menurut buku Dimyati itu, dari Rengasdengklok, kemudian Bung Karno dan Bung Hatta dibawa kembali ke Jakarta untuk meneruskan perundingan. Tempat perundingan malah di rumah Admiral Muda Mayeda.

Menurut  Hatta, narasi ini bertentangan dengan narasi awal yang menyebut alasan membawa ke Rengasdengklok,  agar dua pemimpin ini tidak diperalat Jepang.  Ternyata, ujar Bung Hatta, balik lagi ke Jakarta malah berunding di rumah jenderal Jepang.

Hatta menjelaskan, kenapa malam tanggal 16 Agustus itu berunding tentang proklamasi di rumah Mayeda di Nassau Boulevard Jakarta (Jl. Imam Bonjol sekarang), karena Hotel des Indes, tempat rapat dan menginap anggota PPKI yang sudah dijadwalkan pagi itu, sudah tutup tengah malam itu.

Lalu Bung Karno meminjam rumah Mayeda. Gara-gara ulah para pemuda ini acara rapat PPKI gagal dilaksanakan siang itu.

Baca Juga:  Politik Bebas Aktif Mulai Pragmatis

Lalu narasi lainnya juga disebutkan Sukarni yang menyodorkan teks Proklamasi. Kemudian naskah itu diedit oleh Sayuti Melik.

”Dokumen asli membuktikan bahwa teks Proklamasi ditulis dengan tangan oleh Bung Karno sendiri,” tegas Bung Hatta.

Bahkan penulis Amerika pun tak lepas membuat dongeng proklamasi Indonesia. Seperti Dr. C. Smit dalam bukunya De Indonesische Quaestie terbit 1952.

Dia menulis, saat di Rengasdengklok itu Sukarno dan Hatta menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka di bawah todongan pistol pemuda.

Hatta waktu bertemu Smit di Honolulu tahun 1968 menegurnya dengan menunjukkan keterangan yang bertentangan satu sama lainnya dalam bukunya. Smit cuma bilang, dia mengutip berita itu dari pengarang-pengarang Amerika.

Rumah Rengasdengklok asli sebelum renovasi.

Bung Hatta bercerita lagi, masih di zaman Orde Lama sesudah tanggal 17 Agustus diadakan tamasya ke Rengasdengklok di bawah anjuran PKI disertai orang-orang Partai Murba.

Tujuan mereka memperingati peristiwa bersejarah bahwa 16 Agustus 1945 di tempat itu ada pertemuan Sukarno-Hatta dan pemimpin pemuda yang menelurkan konsep proklamasi.

Mereka lalu membawa sebuah meja yang katanya dipakai untuk rapat untuk dibawa ke museum Yogya dan Jakarta. Padahal di situ, kata Hatta, tak ada rapat. Pemilik rumah, orang Tionghoa, merasa bangga dan menyerahkan begitu saja meja itu.

Baca Juga:  Politik Bebas Aktif Mulai Pragmatis

Juga satu set piring, mangkok, yang dikatakan bersejarah karena dipakai makan Bung Karno saat di situ. ”Padahal waktu kami diculik oleh pemuda ke Rengasdengklok, rumah tuan tanah orang Tionghoa itu dikosongkan. Empunya rumah disuruh pindah ke tempat lain. Di mana dia tahu bahwa satu stel piring pinggan yang ditunjukkannya itulah yang dipergunakan oleh Bung Karno?” tandas Hatta.

Dia menjelaskan, selama di Rengasdengklok hanya duduk-duduk tanpa pekerjaan di Asrama PETA satu jam. Lalu dibawa ke rumah orang Tionghoa dan berdiam di situ dua jam. Kemudian datang Sukarni dan anak-anak PETA.

Sukarni mengancam kalau Bung Karno tak mau memproklamasikan Indonesia bakal terjadi revolusi para pemuda. Tapi Bung Karno tak menanggapi. Para pemuda itu malah bingung.

Saat ditanya apakah revolusi pemuda itu sudah terjadi di Jakarta? Mereka malah menjawab tak tahu. Belum ada informasi.

Tak lama kemudian datang Mr Subardjo menjemput Bung Karno dan Hatta. Subardjo menerangkan, di Jakarta tidak terjadi apa-apa.

Dia memarahi para pemuda karena rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang diundang pukul 10 pagi gagal. Sebab ketua PPKI  diculik mereka. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto