Cerpen

Pak Lek Tua dan Kaleng Salawat

658
×

Pak Lek Tua dan Kaleng Salawat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di sudut pasar Ngagel, lantunan salawat Pak Lek Tua menggema. Tapi di balik suara merdunya, tersimpan ironi tentang iman, simpati, dan harapan yang bersandar pada kaleng biskuit.

Cerpen oleh Sri Asian, Guru SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Tagar.co – Pagi masih muda, tapi udara menusuk kulit seperti hendak membangunkan siapa saja yang terbuai mimpi. Embusan angin semilir membuat siapa pun betah berlama-lama di pembaringan, menyelimutkan diri dengan kehangatan kain dan khayalannya. Namun, di luar sana, kehidupan sudah dimulai.

Bagi sebagian orang, pagi adalah lanjutan tidur yang manis. Tapi tidak bagi mereka yang menghidupkan denyut pasar—tempat roda ekonomi rakyat terus berputar, meski perlahan dan kadang berat.

Mereka—pedagang, petani, pengecer musiman dari pelosok desa—datang dengan harapan. Barang dagangan yang mereka bawa, mulai dari sayur mayur, buah, hingga kerajinan tangan, adalah hasil peluh kemarin. Mereka berharap pulang dengan rupiah di kantong, bukan sekadar angin dan debu di pundak.

Baca cerpen Sri Asian lainnya: Jejak Kaki Palsu Bapak

Baca Juga:  Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Yang punya toko bersiap membuka pintu. Yang punya kios menyusun dagangan. Yang tak punya keduanya, cukup gelaran kain seadanya di tanah, asal ada tempat untuk berharap.

Pasar Ngagel, di wilayah perbatasan Lamongan–Tuban, perlahan dipenuhi manusia. Matahari mulai hangat menyentuh bumi, menggantikan dingin yang sempat menusuk. Pasar jadi ajang pertemuan antara pembeli dan penjual, antara kebutuhan dan penawaran, antara doa dan kenyataan.

Dalam hukum pasar mereka, jika jumlah pedagang lebih banyak dari pembeli, itu pertanda perekonomian lesu. Tapi jika pembeli membludak, harapan itu seperti disiram hujan segar. Semua pedagang menanti skenario kedua—termasuk Pak Lek Tua, sosok renta yang istiqamah melantunkan salawat di sisi musala pasar.

Ia tak menjual sayur atau buah, melainkan suara. Suara khas tenor yang ia bawa sejak muda, kini mengisi ruang pasar dengan salawat dan tembang religi, mengalun sejak fajar hingga jelang dhuhur.

Allahumma salli wa sallim ‘ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin…
‘Adada ma fi’ilmillahi salatan… Daimatan bidawami mulkillahi…

Tombo ati iku limo pekarane…

Lantunan itu mengalir deras, menyusup ke lorong-lorong hati. Orang-orang yang lalu-lalang jarang menolak mendengar. Bahkan banyak yang merasa rindu jika sehari tak mendengarnya. Di depannya, sebuah kaleng biskuit bekas menjadi tempat singgah rupiah. Tak sedikit tangan ringan yang singgah ke sana.

Baca Juga:  Pintu yang Terlambat Dibuka

Bagi banyak orang, salawat adalah tanda cinta kepada Rasulullah. Bagi Pak Lek Tua, itu adalah ladang mencari simpati.

Semakin siang, suaranya makin tinggi, makin menyayat. Merinding dibuatnya. Ia seolah mengingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang jual beli, tapi juga rindu kepada Nabi. Tapi sayang, di saat azan Zuhur berkumandang dari musala tak jauh darinya, sebagian orang melangkah menunaikan salat, sementara Pak Lek Tua justru menghitung receh di kalengnya.

“Salat bisa nanti,” mungkin begitu pikirnya. Yang penting, hari ini ada pemasukan.

Ia tak berpikir soal modal, kerja keras, atau ibadah. Ia hanya berharap simpati. Dan rupiah.

Tiba-tiba, suara memanggil dari belakang.

Oleh piro?

Pak Lek Tua menoleh cepat. Suara itu datang dari seorang abang becak yang baru selesai mengantar penumpang.

Satus sangangpuluh pitu ewu repes. Pasar lagek sepi. Muleh wae angon sapi,” jawabnya cepat.

Abang becak hanya terkekeh, lalu bergumam dalam hati, “Sepine wae entuk segitu, ramaiku entuk satus seket ewu. Ngrasakno duwe sapi?”

Baca Juga:  Aisyiyah Paciran Pelopori Pelatihan Perawatan Jenazah Berbasis Ilmu dan Empati

Langit mulai menggelap. Awan menggantung rendah, menggiring gerombolan rinai yang belum tentu turun. Di bumi, manusia tetap berusaha—berteori, berdoa, dan berharap. Selebihnya, hidup tetap jadi misteri yang kita hadapi dengan suara, doa, atau kaleng biskuit. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Setiap pagi anak-anak langsung berbaris rapi, kecuali Zaquan….

Cerpen

Awalnya hanya satu kotak bekal kosong. Tak ada…