
Pak Ari dikenal dengan informasi prakiraan tinggi gelombang laut yang selalu dinanti masyarakat Bawean. Informasi ini menjadi penentu bagi warga yang hendak bepergian, mengingat tingginya mobilitas menggunakan kapal laut.
Tagar.co – Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Ari Widjajanto, atau yang akrab disapa Pak Ari, mengabdikan diri sebagai Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bawean.
Kamis (16/01/2025) menandai akhir masa tugasnya di pulau yang terletak di Kabupaten Gresik Jawa Timur ini. Pak Ari (53) akan memulai babak baru sebagai Kepala BMKG Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Kepindahan Pak Ari meninggalkan kesan mendalam, khususnya bagi takmir dan jemaah Masjid As-Shalihin, Sangkapura, Bawean. Kedekatan Pak Ari dengan masjid yang dikelola Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sangkapura ini terjalin erat.
Kantor dan rumah dinas BMKG yang hanya berjarak sepelemparan batu dari masjid, membuat Pak Ari menjadi jemaah tetap di sana. Hampir di setiap waktu salat, lelaki kelahiran Surabaya, 26 Maret 1971 ini, selalu menyempatkan diri untuk berjemaah.

Tak hanya itu, Pak Ari juga dikenal loman dan turut berkontribusi dalam pembangunan Masjid As-Shalihin. Hubungan baik inilah yang mendorong takmir masjid mengadakan acara perpisahan khusus untuk Pak Ari pada Rabu malam (15/01/2025), sehari sebelum kepindahannya.
Selepas salat Magrib, saya, mewakili takmir masjid, menyampaikan kabar kepindahan Pak Ari kepada jemaah. Suasana haru mulai terasa. Pak Ari kemudian dipersilakan untuk menyampaikan pesan dan kesannya selama bertugas di Pulau Bawean.
Dengan suara yang mantap, Pak Ari berdiri di mimbar masjid, tempat yang biasa digunakan para muballigh untuk berceramah. Ia menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus atas kehangatan dan kebersamaan yang terjalin selama ini. Tak lupa, ia juga memohon maaf atas segala salah dan khilaf.
Dalam kesempatan itu, Pak Ari membagikan momen paling berkesan selama bertugas di Bawean. “Salah satu yang paling saya syukuri adalah kesempatan untuk menunaikan umrah dan haji bersama istri dan ibu saya, yang mana kedua hal tersebut terjadi saat saya bertugas di sini,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Rumah Dimakan Rayap Dibedah Lazismu Bawean
Pak Ari juga berbagi pengalamannya menghadapi gempa dahsyat yang mengguncang Bawean pada 22 Maret 2024 lalu. “Itu adalah peristiwa yang luar biasa, yang akan selalu saya ingat,” ujarnya.
Masih segar dalam ingatan, saat itu, Pak Ari, usai salat Jumat di Masjid As Shalihin, dengan sigap menjelaskan fenomena gempa yang baru saja terjadi kepada jamaah. Tak berhenti di situ, ia pun bergegas ke Masjid Jamik Saadatuddarain di Alun-Alun Sangkapura untuk memberikan penjelasan serupa. Saat itulah, gempa susulan terjadi.

Malam harinya, di tengah kepanikan warga akan isu tsunami, Pak Ari bersama Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sangkapura tampil di Pendopo Kecamatan. Dengan tegas, ia meyakinkan masyarakat bahwa berdasarkan analisis BMKG, potensi tsunami tidak ada. Ketegasannya berhasil meredakan kekhawatiran warga, meskipun sebagian masih memilih untuk mengungsi ke dataran tinggi.
Selain itu, Pak Ari juga dikenal dengan informasi prakiraan tinggi gelombang laut yang selalu dinanti masyarakat Bawean. Informasi ini menjadi penentu bagi warga yang hendak bepergian, mengingat tingginya mobilitas menggunakan kapal laut.
Setelah kurang lebih 10 menit berbicara, Pak Ari mengakhiri sambutannya. Jamaah pun menghampiri, memeluk, dan berfoto bersama. Suasana haru dan keakraban kian terasa.
Acara malam itu ditutup dengan santap malam bersama. Menu spesial roti canai, kare ayam, teh, dan jahe panas menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah perpisahan yang hangat dan tak terlupakan. Selamat bertugas di tempat yang baru, Pak Ari! (#)
Jurnalis Kemas Saiful Rizal Penyunting Mohammad Nurfatoni












