FeatureUtama

Oplos dan Blending Pertamax, Apa Bedanya?

40
×

Oplos dan Blending Pertamax, Apa Bedanya?

Sebarkan artikel ini
Oplos Pertamax menjadi kasus yang mengagetkan masyarakat karena merasa ditipu oleh Pertamina.
Kilang minyak PT Kilang Pertamina Internasional di Balikpapan. (kpi)

Lagi heboh Pertamax oplosan. Sembilan orang ditangkap Kejaksaan Agung dengan tuduhan mengoplos Pertalite dengan Pertamax. Tapi Pertamina membantah.

Tagar.co – Oplos Pertamax menjadi kasus yang mengagetkan masyarakat karena merasa ditipu oleh Pertamina.

Kasus ini dimunculkan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah menangkap sembilan pimpinan anak perusahaan PT Pertamina dan rekanan yang dituduh korupsi dengan cara mengoplos Pertalite menjadi Pertamax selama  tahun 2018-2023.

Menurut Kejagung, kerugian negara akibat kasus oplos Pertamax mencapai Rp193,7 triliun. Antara lain kerugian ekspor minyak mentah dalam negeri Rp35 triliun, kerugian impor minyak mentah melalui DMUT/Broker sekitar Rp 2,7 triliun.

Sembilan tersangka kasus dugaan korupsi minyak mentah Pertamina ini adalah

1. Riva Siahaan, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.

2. Sani Dinar Saifuddin, Direktur Feedstock and Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional.

3. Yoki Firnandi, Direktur Utama PT Pertamina Internasional Shipping.

4. Agus Purwono, VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina International.

5. Muhammad Kerry Andrianto Riza, Beneficialy Owner PT Navigator Khatulistiwa.

6. Dimas Werhaspati, Komisaris PT Navigator Khatulistiwa dan Komisaris PT Jenggala Maritim.

7. Gading Ramadhan Joedo, Komisaris PT Jengga Maritim dan Direktur PT Orbit Terminal Merak.

8. Maya Kusmaya, Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga.

9. Edward Corne, VP Trading Produk Pertamina Patra Niaga.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Abdul Qohar dalam jumpa pers, Kamis (27/2/2025), menjelaskan, tersangka membeli BBM berjenis RON 90 (Pertalite), tetapi dibayar seharga RON 92 (Pertamax) kemudian dioplos, dicampur.

Baca Juga:  Harga Bensin Iran Paling Murah meski Perang‎

Tersangka mengoplos Pertalite RON 90 atau Premium RON 88 dengan Pertamax RON 92. BBM hasil oplosan ini, kata dia, kemudian dijual seharga Pertamax.

Blending

PT Pertamina membantah tuduhan oplos RON 90 Pertalite dan BBM RON 92 Pertamax seperti dituduhkan Kejaksaan Agung itu.

BBM yang terjual di masyarakat sudah sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Pelaksana Tugas Harian (Plh) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra di depan DPR mengatakan, perusahaannya memperoleh pasokan bensin dari dua sumber, yakni kilang dalam negeri dan pengadaan dari luar negeri.

Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92) diterima dalam bentuk akhir sesuai dengan standar masing-masing.

Namun ada proses tambahan aditif pada BBM jenis Pertamax. Penambahan ini bukan mengoplos Pertalite jadi Pertamax.

Proses ini praktik umum dalam industri minyak untuk meningkatkan kualitas produk. Ini adalah proses injeksi blending.

Proses blending ini adalah proses yang umum dalam produksi minyak yang merupakan bahan cair. Ketika kita menambahkan proses blending ini, tujuannya untuk meningkatkan nilai produk.

Seluruh produk di terminal Pertamina telah melalui serangkaian uji laboratorium untuk memastikan kualitasnya sesuai standar sebelum didistribusikan ke SPBU.

Kata Pakar

Oplos itu kata bahasa Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya mencampur.

Baca Juga:  Mengakhiri Ketergantungan Impor BBM

Istilah ini populer digunakan para pendekar mabuk yang mencampur aneka minuman keras dengan obat kuat, atau minuman ekstrem lainnya. Dikenal sebagai minuman oplosan yang katanya punya sensasi luar biasa teler.

Blending dari bahasa Inggris. Artinya, mencampur. Lantas apa bedanya oplos dan blending padahal artinya sama?

Pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto, menjelaskan, blending atau oplos maknanya sama dalam pemrosesan bahan bakar minyak (BBM).

”Oplos artinya mencampur.  Bahasa Inggrisnya blending. Oplos itu bahasa Jawa. Mencampur itu mengoplos. Sama saja,” katanya dalam wawancara liputan 6 SCTV.

Membuat BBM semuanya melewati proses oplos, mencampur, atau blending. Produk kilang tidak langsung berupa bensin. Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo.

Produk kilang minyak menghasilkan minyak mentah yang disuling menjadi olahan minyak bumi bernama nafta.

Nafta nilai oktan range-nya lebar yaitu RON 60-80 pada proses destilasi. Proses selanjutnya ada forming, cracking, hidrotreating, dan lainnya sehingga kita bisa mendapatkan nafta dengan RON tinggi.

Ketika kilang diminta membuat BBM RON 90 maka harus mencampur nafta RON rendah dengan yang tinggi. Kenapa harus begitu, karena ada spesifikasi yang harus dikejar sesuai produk jadi. Tidak bisa produk jadi langsung sesuai spesifikasi Dirjen Migas. Harus mencampur nafta beberapa jenis, baru mendapatkan RON yang dikehendaki seperti RON 90, 92, atau 98.

Setelah dari kilang BBM sudah sesuai spesifikasi Dirjen Migas lalu dikirim ke PT Pertamina Patra Niaga yang tugasnya mendistribusikan. Di sini kemudian mencampurkan aditif ke BBM menjaga supaya mesin tetap bersih.

Baca Juga:  Gowes ke Kantor, Antara Efisiensi Energi dan Etos Kerja ASN

Proses semua ini blending. Ini lazim dilakukan di industri BBM. Misal Pertamina beli (nafta) RON 90, kemudian punya (nafta) RON 95, terus dicampur 60 persen Pertalite RON 90 tambah 40 persen RON 95, jadi Pertamax. Asal mengikuti spesifikasi migas, legal untuk dijual.

Dua cara dilakukan Pertamina untuk menghasilkan Pertamax RON 92 dari Pertalite yang oktannya hanya 90. Yaitu mencampur nafta beroktan rendah dengan nafta beroktan lebih tinggi High Octane Mogas Component (HOMC).

HOMC punya oktan 495-496. Sebanyak 40 persen nafta dicampur 60 persen HOMC sehingga angka oktan BBM itu meningkat dari 90 menjadi 92. Di sini mendapatkan volume dan oktan tinggi.

Bisa juga menambahkan zat aditif berupa bahan kimia cair oktan booster. Satu liter Pertalite hanya butuh 6 cc oktan booster untuk meningkatkan RON 90 menjadi 92.

BBM dengan oktan sesuai spesifikasi lalu menambah zat aditif lain berupa deterjen supaya BBM tidak menghasilkan banyak kerak di mesin kendaraan.

Blending juga memberi warna BBM tertentu. BBM asli berwarna bening kekuningan. Warna hijau untuk Pertalite. Biru untuk Pertamax.

Perusahaan seperti Shell, BP AKR, dan Vivo  yang tidak menjual BBM bersubsidi tidak memberi warna pada bensin yang dijual. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto