
Mentadaburi kitab Imam Nawawi dalam Kajian subuh di Masjid Al-Ghifari Blitar terasa meneduhkan. Ini menjadi kegiatan bermanfaat yang menghidupkan semangat religius masyarakat.
Tagar.co – Suasana hangat dan religius terasa di Masjid Al-Ghifari Kota Blitar, Jawa Timur pada hari Sabtu (15/11/2025).
Usai salat subuh, puluhan jemaah mengikuti Kajian Kitab yang digelar oleh Yayasan Al-Ghifari bersama Takmir Masjid Al-Ghifari Blitar.
Kajian berlangsung hingga matahari terbit, dilanjutkan salat syuruq, lalu jemaah menikmati sarapan gratis yang telah disiapkan panitia.
Kajian Kitab ini diselenggarakan sebagai upaya mempelajari kitab-kitab ulama yang berisi tuntunan akidah, akhlak, ibadah, hingga adab kehidupan.
Pada kesempatan kali ini, kitab yang dikaji adalah Kitab Riyadhusholihin. Sebuah kitab kumpulan hadis sahih yang berfokus pada moralitas, motivasi ibadah, dan penguatan iman.
Kitab tersebut disusun oleh Imam An-Nawawi, seorang ulama besar abad ke-7 Hijriah yang dikenal dengan karya-karyanya yang menjadi rujukan lintas generasi.
Ajak Jemaah Tingkatkan Ibadah
Pemateri kajian adalah Ustadz Choirur Roziqin Manapsir, B.A., M.A., Ph.D., yang dikenal sebagai pengajar muda penuh semangat.
Dalam penyampaian materinya, ia mengisahkan perjalanan hidup Imam Nawawi, mulai dari masa kecil hingga proses penyusunan kitab.
Ustaz Choirur Roziqin juga menekankan pentingnya memahami mukadimah kitab sebagai pondasi sebelum memasuki isi pembahasannya.
“Saya mulai mondok sejak umur 10 tahun. Kalau anak zaman sekarang banyak yang rebahan,” ujarnya disambut tawa kecil para jamaah.
Ia kemudian menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sehingga kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. “Zuhud itu dunia di tangan dan akhirat di hati,” jelasnya.
Dia mengatakan, bahwa dunia ini bukan tempat yang menyenangkan, cuma sebentar, seperti numpang lewat. “Kalau dunia cuma sebentar maka jangan malas. Harusnya malah menjadi rajin beribadah,” ungkapnya.
Kehidupan Dunia Laksana Hujan
Pada kesempatan tersebut, ia mengumpamakan kehidupan dunia seperti hujan yang turun. Menumbuhkan tanaman lalu dikonsumsi oleh manusia dan hewan, namun pada akhirnya semua akan sirna.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk fokus beribadah, tidak tertipu gemerlap dunia, dan memperbanyak amal shalih.
Ustaz Choirur Roziqin membacakan sebuah syair ulama salaf:
إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا فُطَنًا
طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا
نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا
أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنًا
جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا
صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas. Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnahnya. Mereka memandang dunia, lalu ketika mengetahui bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya, mereka menjadikannya seperti lautan bergelombang dan amal shalih sebagai perahu untuk mengarunginya.”
Dalam Surat Al-Maidah Ayat 2 Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Ayat ini disampaikan untuk menegaskan bahwa menyebarkan undangan kajian, baik melalui flyer digital maupun cetak, termasuk ibadah.
“Jika ada yang hadir karena undangan itu, maka yang mengundang mendapat pahala, dan orang yang hadir pun mendapat pahala,” ujar Ustaz Choirur.
Keteladanan Imam Nawawi
Ia juga menyinggung keteladanan Imam Nawawi yang menulis Kitab Riyadhusholihin dengan keikhlasan tinggi. “Cara murid berbakti kepada guru adalah dengan mengamalkan ilmunya. Maka guru dapat pahala, murid juga mendapat pahala,” jelasnya.
Menurutnya, kadang guru kurang dihargai di dunia, namun kelak di akhirat akan mendapatkan pahala berlimpah.
Ustaz Choirur Roziqin kemudian menekankan pentingnya menjaga istikamah. “Mulailah dari yang mudah. Tidak hanya saat muda, di masa tua pun tetap harus istikamah. Mulailah dari hal-hal kecil yang dilakukan secara rutin,” pesannya.
Masjid Al-Ghifari yang berlokasi di Jalan Sumba Nomor 38, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, menjadi tempat nyaman bagi jemaah.
Masjid dua lantai ini memiliki ruang cukup luas, dilengkapi beberapa unit AC, CCTV, sistem suara yang memadai, serta halaman parkir yang luas untuk mobil dan motor.
Fasilitasnya meliputi banyak kran wudhu, beberapa kamar mandi, serta lingkungan sekitar yang teduh dengan pohon dan taman berbunga.
Kegiatan ditutup dengan doa dan sarapan bersama yang menambah keakraban antar jamaah. Semoga kajian serupa terus digelar secara rutin. #
Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Nely Izzatul












