Feature

Menggapai Impian: Master Orang Tua Mengajar SD Musix Inspirasi Siswa

21
×

Menggapai Impian: Master Orang Tua Mengajar SD Musix Inspirasi Siswa

Sebarkan artikel ini
Master Orang Tua Mengajar (OTM) di SD Musix: Siswa kelas 5-ICP menerbangkan impiannya bersama balon dihalangan sekolah. (Tagar.co/ Basirun)

Master Orang Tua Mengajar (OTM) di SD Musix ajak siswa merancang masa depan. Dengan tema My Dream, My Adventure, mereka menuliskan impian, berdoa, hingga menerbangkan cita-cita bersama balon ke langit.

Tagar.co – Program Master Orang Tua Mengajar (OTM) di SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya terus mendapat respons positif dari para orang tua siswa, khususnya bagi kelas International Class Program (ICP). Program yang dijadwalkan setiap bulan ini menjadi ajang berbagi ilmu dan pengalaman bagi para orang tua dalam mendidik serta menginspirasi anak-anak.

Pada sesi kali ini, Rabu (12/02/2025), kelas 5 ICP kedatangan seorang narasumber yang sudah berpengalaman dalam dunia motivasi, khususnya bagi para pekerja yang mengalami kejenuhan dalam pekerjaannya. Tantangan baru pun dihadapi: bagaimana memotivasi anak-anak kelas 5 SD dalam menentukan impian mereka?

Baca juga: Apel SD Musix Surabaya, Awali STS dengan Optimisme dan Integritas

Adalah Laila Nurul Rahmawati, SKM, seorang trainer Service Excellence di PT Magenta Permata Jaya, yang menjadi pemateri kali ini. Dengan pengalaman luas dalam memotivasi karyawan berbagai perusahaan, baik BUMN maupun swasta, Laila mencoba menghadirkan inspirasi bagi anak-anak dengan tema My Dream, My Adventure.

Merancang Impian sejak Dini

“Masa depan yang direncanakan akan lebih baik dibanding masa depan yang tidak direncanakan,” ujar Laila membuka sesi motivasi. Dengan penuh semangat, ia mengajak anak-anak untuk membayangkan cita-cita mereka di masa depan.

“Siapa yang ingin jadi dokter?” tanyanya.

“Saya… saya… saya…!” sahut para siswa dengan antusias.

Satu per satu siswa menyebutkan impian mereka: ada yang ingin menjadi insinyur, polisi, anggota TNI, hingga profesi lainnya. Namun, satu jawaban cukup mengejutkan datang dari seorang siswa bernama Lakeswara Kalandra Gumilar, yang akrab disapa Andra.

“Kalau Andra nanti mau jadi apa?” tanya Laila.

Anak yang ditanya itu awalnya terdiam, tampak ragu. Namun setelah ditanya ulang, ia menjawab lirih, “Saya mau jadi atlet E-sport.”

Seketika, Laila tersenyum dan mengacungkan jempolnya. “Wow, what an extraordinary dream!” serunya dengan penuh semangat. Jawaban ini menjadi lebih spesial karena Andra adalah anak kandungnya sendiri.

Setelah sesi tanya jawab, anak-anak diminta menuliskan impian mereka di selembar kertas dan membacanya berulang kali. Laila juga mengingatkan pentingnya memohon kepada Allah agar impian tersebut bisa terwujud.

Menurutnya, jika anak-anak bebas menentukan impian mereka, orang tua akan lebih mudah mengarahkan mereka di masa depan. Dari sana, bisa ditentukan jalur pendidikan yang sesuai, kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung, serta kebiasaan positif yang perlu dikembangkan.

Mengatasi Tantangan dan Hambatan

Laila mengingatkan bahwa mencapai impian bukanlah perjalanan yang mudah. Akan ada rintangan dan tantangan di sepanjang jalan. Namun, ia menegaskan bahwa anak-anak tidak perlu takut.

“Jika Allah memberi tantangan, jangan khawatir. Kalian tidak sendiri. Ada Allah, ada guru, ada ayah dan bunda yang siap mendampingi,” ujarnya penuh semangat.

Ia mengibaratkan impian seperti balon yang melayang ke langit. Jika dipenuhi beban seperti rasa malas, sikap kurang hormat kepada orang tua, dan perilaku negatif lainnya, balon itu akan sulit terbang tinggi.

“Maka lepaskan beban itu dengan berperilaku positif. Minta maaf kepada orang tua, patuh kepada guru, dan selalu berbuat baik. Jika Allah ridha, impian kalian akan lebih mudah terwujud,” tuturnya.

Sebaliknya, ketika impian mulai tercapai, seperti menjadi juara kelas atau memenangkan lomba, anak-anak juga diingatkan untuk tetap rendah hati dan tidak sombong.

Sesi Refleksi dan Pelepasan Impian

Sebagai bagian dari kegiatan, Laila mengajak anak-anak untuk berbaring, menutup mata, dan membayangkan impian mereka. Dalam suasana hening, dengan lampu ruangan yang dimatikan dan alunan musik yang menyentuh, anak-anak diajak berbicara dalam hati kepada Allah, memohon agar impian mereka terwujud.

Di akhir sesi, impian yang telah dituliskan di kertas diikatkan pada balon. Mereka kemudian keluar ke halaman sekolah, membentuk lingkaran, dan bersiap untuk menerbangkan cita-cita mereka.

“Mari bersama-sama membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ya Allah, kabulkanlah impian kami,” seru Laila, diikuti oleh seluruh siswa.

Balon-balon warna-warni pun terbang tinggi, membawa harapan dan doa mereka menuju langit.

Mengajar Anak Sendiri, Tantangan Tersendiri

Bagi Laila, sesi ini memiliki tantangan tambahan karena salah satu siswa di kelas adalah anaknya sendiri.

“Menerapi orang terdekat itu lebih sulit dibanding orang lain,” akunya.

Kesempatan mengajar dalam program Master OTM menjadi strategi bagi Laila untuk lebih memahami dan membimbing anaknya. Ia memanfaatkan interaksi dengan teman-teman sekelas Andra untuk mendapatkan gambaran tentang sikap dan perilaku anaknya di sekolah.

“Menariknya, baru kali ini di kelas, Mas Andra menyebutkan lebih spesifik bahwa ia ingin menjadi atlet E-sport. Sebelumnya, di rumah, ia hanya mengatakan ingin menjadi ‘gamer’ saja,” ungkapnya.

Dengan pengalaman ini, Laila semakin memahami bagaimana mengarahkan dan mendukung impian anak-anak, termasuk anaknya sendiri. Program Master OTM pun bukan sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga menjadi wadah refleksi dan pembelajaran bagi orang tua dalam mendampingi perjalanan impian buah hati mereka. (#)

Jurnalis Basirun Penyunting Mohammad Nurfatoni