
Dosen UMG Fiqih Risalah mengajak jemaah Masjid At-Taqwa Kebomas membaca tanda-tanda kehadiran Allah melalui kisah Maryam, kualitas puasa, hingga proses autofagi dalam tubuh manusia.
Tagar.co — Takmir Masjid At-Taqwa Giri Muhammadiyah Cabang Kebomas, Gresik, menggelar kajian menjelang buka puasa pada Senin (2/3/2026). Dalam kesempatan itu, panitia menghadirkan Dosen Universitas Muhammadiyah Gresk (UMG) Fiqih Risalah, M.A., Ph.D., sebagai pengasuh kajian.
Meski hujan mengguyur sejak siang hingga sore, jemaah tetap antusias menghadiri kajian yang mengangkat tema Allah Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari Manusia. Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah GKB ini mengawali pemaparannya dengan kisah Maryam sebagai bukti nyata kekuasaan Allah Swt.
Baca juga: Tiga Golongan Ahli Waris Al-Qur’an dalam Menjalankan Puasa Ramadan
Menurut Fiqih, Al-Qur’an berulang kali menegaskan kemuliaan Maryam, salah satunya melalui Surah Ali Imran 47. Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa Maryam menerima takdir untuk mengandung, padahal ia belum menikah dan tidak pernah disentuh laki-laki.
Maryam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki?” Allah berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia berkehendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah,’ maka jadilah sesuatu itu.”
Fiqih menjelaskan, kabar luar biasa itu membuat perasaan Maryam bercampur antara gembira, takut, sedih, dan takjub. Namun, di situlah tampak kemahakuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh hukum sebab-akibat biasa.
“Ia hanya berkata ‘jadilah’, maka terjadilah. Tidak ada yang mustahil bagi Allah,” ujarnya.
Ia menambahkan, Allah juga meneguhkan kerasulan Nabi Isa dengan mengajarkan Al-Kitab kepadanya, sebagai bagian dari rangkaian tanda kekuasaan-Nya.
Selain melalui kisah Maryam, Fiqih menilai kehadiran Allah dalam kehidupan manusia juga dapat dirasakan dalam pengalaman berpuasa. Ia mencontohkan seseorang yang hanya bersahur dengan sebutir kurma dan air, tetapi tetap kuat hingga berbuka.
Menurutnya, kekuatan itu berkaitan dengan kualitas puasa yang terjaga dari perbuatan tercela seperti rafas, fusuk, dan gibah.
“Rafas adalah dosa yang dipicu gejolak hawa nafsu. Fusuk ialah dosa yang lahir dari sifat tercela seperti sombong, iri, dan adu domba,” jelasnya.
Adapun gibah, lanjutnyai, adalah membicarakan orang lain tentang hal yang tidak disukainya karena menjadi aib baginya.
Autofagi
Lebih jauh, ia mengaitkan puasa dengan proses ilmiah bernama autofagi. Ia merujuk pada penelitian ahli biologi Jepang Yoshinori Ohsumi yang meraih Hadiah Nobel Kedokteran 2016 atas penemuannya tentang mekanisme daur ulang sel tersebut.
Penemuan ini dinilai penting karena membantu menjelaskan berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga Parkinson, yang berkaitan dengan kerusakan dan mutasi sel.
“Sel yang memakan dirinya sendiri mungkin terdengar kejam bagi kita yang awam,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa di balik proses itu terdapat hikmah besar. Sel-sel tubuh secara alami diprogram untuk rusak dan diperbarui demi menjaga kesehatan. Ia mengibaratkannya seperti motor tua yang dibongkar untuk diambil bagian yang masih berguna.
“Autofagi bekerja pada level subseluler. Tubuh tidak selalu mengganti seluruh sel, tetapi memperbarui bagian yang rusak dan membentuk organel baru,” terangnya.
Di akhir kajian, Fiqih mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali bahwa orang yang berpuasa tetapi hanya memperoleh lapar berpotensi puasanya sah secara fikih, tetapi tidak bernilai di sisi Allah karena cacat secara tauhid dan akhlak.
Kajian ditutup dengan ajakan kepada jemaah agar menjadikan puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana menghadirkan kesadaran akan kedekatan Allah dalam kehidupan sehari-hari. (#)
Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni












