
Tagar.co – Membangun Keseimbangan Hidup menjadi topik khotbah Idulfitri yang digelar PRM Siser Laren Lamongan di halaman Masjid Al-Huda, Jumat (20/3/2026).
Salat dihadiri ratusan jemaah mulai dari anak-anak hingga orang tua. Salat Idulfitri dimulai sekitar pukul 06.30 WIB berlangsung tertib serta lancar.
Suasana religius begitu terasa sejak awal, ditandai dengan gema takbir yang menggema di sekitar masjid, menciptakan nuansa sakral yang menyentuh hati para jamaah.
Menghadirkan imam dan khatib Yusuf Aditama, S.Ag., M.Ag. Dalam khotbahnya, Yusuf Aditama menekankan pentingnya membangun keseimbangan hidup antara aspek spiritual, sosial, dan kehidupan duniawi sebagai bentuk implementasi nilai-nilai Idulfitri.
Dia menjelaskan, Idulfitri bukan sekadar momentum kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga merupakan titik awal untuk memperbaiki kualitas hidup secara menyeluruh. “Keseimbangan hidup adalah kunci kebahagiaan sejati. Tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga bagaimana kita menjaga hubungan sosial, bekerja dengan jujur, serta menjaga kesehatan fisik dan mental,” ujarnya.
Dia mengajak umat Islam untuk menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai kebiasaan yang terus dilanjutkan, seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial, dan kedisiplinan.
Menurutnya, Idulfitri seharusnya menjadi refleksi diri untuk mengevaluasi sejauh mana perubahan positif telah terjadi selama bulan suci.
Khotbah juga menyoroti pentingnya memperkuat ukhuah islamiyah di tengah masyarakat. Dalam kehidupan sosial, keseimbangan juga berarti mampu hidup harmonis dengan sesama, saling menghormati perbedaan, serta aktif dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Al-Huda ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga Siser Laren. Usai salat, jemaah berjabat tangan dan bermaafan. Ini menciptakan suasana hangat penuh keakraban. Membangun keseimbangan hidup seperti sudah dipraktikkan.

Mengapresiasi Perbedaan
Panitia pelaksana Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Siser Mas’udi, S.Ag., M.H., bersyukur salat berjalan lancar. Dia mengapresiasi partisipasi masyarakat yang turut menjaga ketertiban dan kebersihan selama salat dan setelahnya.
“Kami berharap semangat kebersamaan ini dapat terus terjaga, tidak hanya saat Idulfitri, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Soal perbedaan waktu salat yang terjadi tahun ini, Mas’udi mengatakan, itu realitas yang tidak dapat dihindari. Perbedaan muncul karena metode hisab dan rukyat, maupun variasi dalam praktik ibadah yang bersumber dari perbedaan pemahaman fikih.
”Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki pendekatan yang berbeda dalam menentukan awal Syawal. Perbedaan ini kekayaan khazanah keilmuan Islam yang harus disikapi dengan bijak dan dewasa,” ujarnya.
Terpenting, sambungnya, menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam agar tidak terpecah hanya karena perbedaan teknis dalam ibadah.
”Nilai utama Idulfitri terletak pada semangat kebersamaan, saling menghormati, dan mempererat ukhuah islamiyah. Umat Islam dituntut untuk mengedepankan sikap toleransi, menghargai perbedaan pilihan, serta tidak mudah menyalahkan kelompok lain,” tuturnya. (#)
Jurnalis Anshori Penyunting Sugeng Purwanto








