
Ustaz Ridwan Hamidi mengajak wali santri eLKISI membangun generasi pencakar langit dengan pendidikan berlandaskan iman dan adab. Jangan jadi ayah bisu—dialog adalah kunci membentuk karakter anak.
Tagar.co — Ahad pagi yang cerah (4/5/2025), Masjid Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI kembali menjadi tempat bertemunya para wali santri dengan para pendidik. Kajian bulanan yang rutin digelar ini mengangkat tema yang sangat relevan: “Mendidik Anak ala Generasi Terbaik.”
Bukan sekadar pertemuan rutin, pagi itu menjadi momen perenungan mendalam bagi para orang tua. Sebuah upaya bersama untuk menyiapkan masa depan umat melalui generasi penerus yang unggul dalam iman, ilmu, dan akhlak.
Belajar dari Generasi Terbaik
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Ridwan Hamidi, Lc., MA., hadir sebagai pemateri utama. Ia mengajak para wali santri menengok kembali visi besar pendidikan anak: melahirkan generasi seistimewa para sahabat Nabi Muhammad Saw.
“Jika yang kita cita-citakan adalah generasi sekuat dan sehebat para sahabat, maka bangunan pendidikan kita harus seperti gedung pencakar langit, bukan gubuk reot,” tegas Ustaz Ridwan membuka paparannya.
Baca juga: Pendidikan Anak sebagai Investasi Akhirat: Sinergi Wali Santri dan Pesantren di Kajian PPIC eLKISI
Ia lalu mengingatkan bahwa generasi terbaik sepanjang zaman adalah generasi Nabi, para sahabat, dan generasi setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (H.R. Bukhari No. 3651 dan Muslim No. 2533).
Tak lupa, Ustaz Ridwan menukil pernyataan Abdullah bin Mas’ud Ra. :”Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba-Nya, lalu Dia mendapati hati Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik di antara para hamba, maka Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya.
Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad, lalu Dia mendapati hati para sahabatnya adalah hati yang paling baik di antara para hamba. Maka Allah menjadikan mereka sebagai pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya.” (H.R. Ahmad, 1/379. Syaikh Ahmad Syakir menilai sanadnya sahih).
Kurikulum Nabawi: Pilar Pendidikan Keluarga
Menurut Ustaz Ridwan, mencetak generasi sehebat para sahabat bukan perkara instan. Diperlukan pemahaman mendalam terhadap Sirah Nabawiah—bukan sekadar membaca kisah, tetapi menggali pelajaran (ibrah) yang relevan untuk kehidupan anak-anak masa kini.
“Belajar Sirah Nabawiah bukan sekadar membaca cerita, tapi memahami pelajaran yang bisa diterapkan,” ujarnya.
Saat itu, di layar presentasi, Ustaz Ridwan memunculkan gambar gedung-gedung tertinggi di dunia. Menara Burj Khalifa di Dubai, Shanghai Tower di Tiongkok, hingga Abraj Al-Bait di Makkah terpampang jelas. Para wali santri menatap layar, membayangkan tinggi dan megahnya bangunan-bangunan itu.
“Mendidik anak itu seperti merancang bangunan besar,” katanya. “Kalau kita ingin hasil megah seperti gedung-gedung pencakar langit ini, maka harus dimulai dengan pondasi yang kuat. Tidak mungkin membangun gedung tinggi di atas tanah yang rapuh.”
Ia lalu menjelaskan Kurikulum Nubuwah (Kurikulum Kenabian) yang Rasulullah ajarkan: mendidik para sahabat melalui dua fase dakwah yang jelas.
“Nabi Muhammad Saw. mendidik para sahabat melalui fase Makkah dan Madinah selama 23 tahun. Fase Makkah menanamkan akidah sebagai pondasi. Fase Madinah membangun syariat dan akhlak sebagai bangunan dan hiasannya,” terangnya.
Pendidikan ini, lanjutnya, tidak boleh terbalik. Harus berurutan: Iman sebelum Al-Qur’an, adab sebelum ilmu, dan ilmu sebelum amal.
“Mendidik anak tanpa urutan ini seperti membangun lantai dua tanpa membuat fondasi dulu. Bangunan itu pasti roboh,” tegasnya.
“Kita harus punya gambar akhir: anak-anak seperti apa yang ingin kita lahirkan. Inilah pentingnya visi dan misi keluarga,” jelasnya.

Dialog yang Menghidupkan Pendidikan
Ustaz Ridwan juga menyoroti pentingnya komunikasi dalam keluarga. Ia memaparkan bahwa Al-Qur’an mencatat 17 dialog antara orang tua dan anak:
-
14 dialog antara ayah dan anak,
-
2 dialog ibu dan anak,
-
1 dialog kedua orang tua dengan anak.
“Sayangnya,” katanya, “hari ini banyak ayah menjadi ‘bisu’. Kehabisan tema bicara. Padahal, dialog adalah kunci pendidikan. Sama pentingnya dengan shalat, yang merupakan dialog kita dengan Allah.”
Ia mencontohkan dialog Lukman dengan anaknya yang diabadikan dalam Surah Lukman ayat 17:
“Wahai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan mungkar serta bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.”
Pendidikan yang Sesuai Fitrah
Menurut Ustaz Ridwan, mendidik anak juga harus memperhatikan fitrah laki-laki dan perempuan.
“Cara berpakaian, jenis permainan, hingga pendekatan belajar harus sesuai dengan fitrah masing-masing. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa otak laki-laki dan perempuan pun bekerja dengan cara yang berbeda,” ungkapnya.
Di rumah, orang tua perlu membiasakan:
-
Menanamkan tauhid sejak dini,
-
Pembiasaan talaqi (menyimak dan menirukan bacaan Al-Qur’an),
-
Memahami fikih keseharian, seperti mengetahui kapan ibunya tidak salat atau puasa,
-
Menanamkan rasa malu dan tanggung jawab,
-
Menghindarkan ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan yang tidak sesuai syariat).
“Perlu pembiasaan kehidupan Islami yang dicontohkan Rasulullah. Ini fondasi yang harus dibangun di rumah,” katanya.
Qawamah: Kepemimpinan Ayah dalam Keluarga
Di akhir paparannya, Ustaz Ridwan menekankan peran qawamah seorang ayah.
“Ayah adalah qawam: pelindung, pengayom, dan pemimpin keluarga. Ia harus memimpin bukan hanya dalam nafkah, tapi juga menjadi pengarah visi pendidikan anak-anaknya,” jelasnya.
Selain itu, orang tua harus memahami target capaian usia anak: “Setiap fase usia memiliki tujuan pendidikan yang berbeda. Pondasi akidah sejak usia dini, akhlak saat anak mulai bergaul, dan syariat ketika anak siap menanggung beban syariat,” terang Ustaz Ridwan. (#)
Jurnalis Mohammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












