
Lebaran bukan sekadar perayaan. Di balik ucapan sederhana tersimpan doa mendalam tentang harapan, ketakwaan, dan diterimanya amal ibadah.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Tagar.co – Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momentum ruhani untuk kembali kepada fitrah, menyucikan hati, dan mempererat ukhuah.
Di antara keindahan tradisi kaum Muslimin adalah saling mendoakan melalui ucapan sederhana yang sarat makna. Ucapan itu bukan basa-basi, tetapi doa tulus yang mengandung harapan agar amal ibadah diterima oleh Allah dan kehidupan senantiasa diberkahi.
Baca juga: Makna Idulfitri dan Kemenangan Jiwa
Hari raya dalam Islam adalah saat ketika rasa syukur bertemu dengan kerendahan hati. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya dengan perasaan harap dan cemas—harap agar amalnya diterima, dan cemas jika semua yang dilakukan belum bernilai apa-apa di sisi Allah.
Di titik inilah, ucapan yang diajarkan para salaf menjadi sangat bermakna:
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Taqabbalallahu minna waminkum. Artinya: Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian.
Ucapan ini bukan sekadar tradisi, melainkan memiliki landasan kuat dari amalan para sahabat. Disebutkan dalam sebuah riwayat:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bertemu pada hari raya, sebagian mereka berkata kepada yang lain: Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu).”
Betapa dalam makna yang terkandung di dalamnya. Mereka tidak saling memuji, tidak pula membanggakan amal. Justru yang muncul adalah doa dan harapan, karena mereka memahami bahwa inti ibadah bukan terletak pada banyaknya, tetapi pada diterimanya.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Ma’idah: 27)
Ayat ini menjadi cermin bagi setiap Muslim. Setelah Ramadan berlalu, yang terpenting bukanlah berapa kali kita khatam Al-Qur’an, berapa rakaat kita salat malam, atau berapa banyak sedekah yang kita keluarkan. Yang paling mendasar adalah: apakah semua itu diterima oleh Allah atau tidak?
Karena itu, ucapan taqabbalallahu minna waminkum sejatinya adalah doa yang lahir dari kesadaran akan keterbatasan diri.
Lebih dari itu, ucapan ini juga mengajarkan adab sosial yang tinggi. Ia menumbuhkan rasa kebersamaan dalam ibadah. Kita tidak hanya mendoakan diri sendiri, tetapi juga saudara kita. Ada kehangatan ukhuwah, ada kasih sayang yang terjalin tanpa pamrih.
Sebagaimana sabda Nabi:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks hari raya, mencintai saudara berarti mendoakan agar amalnya diterima, sebagaimana kita ingin amal kita sendiri diterima. Maka, ucapan ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan manifestasi iman yang hidup dalam hati.
Hari Id juga menjadi momentum evaluasi. Apakah setelah Ramadan hati kita menjadi lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan perilaku lebih baik? Jika tidak, maka kita patut khawatir. Sebab tujuan utama ibadah adalah perubahan menuju ketakwaan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Ketakwaan inilah yang menjadi kunci diterimanya amal. Dan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum seakan menjadi penutup yang indah dari perjalanan Ramadan, sekaligus pembuka bagi kehidupan yang lebih baik setelahnya.
Di tengah gemuruh takbir yang menggema, kita diingatkan bahwa Allah Maha Besar, sementara kita hanyalah hamba yang penuh kekurangan. Tidak ada yang pantas dibanggakan selain rahmat dan ampunan-Nya. Hari raya bukanlah puncak kemenangan dalam arti duniawi, tetapi kemenangan dalam menundukkan diri kepada Allah.
Akhirnya, marilah kita hidupkan kembali sunnah indah ini. Ketika bertemu saudara, keluarga, dan sahabat di hari Id, ucapkanlah dengan penuh ketulusan:
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian.
Semoga ucapan ini tidak berhenti di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, menguatkan iman, dan memperindah akhlak kita. Sebab sejatinya, hari raya adalah tentang kembali kepada Allah—dengan hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan harapan yang tak pernah putus akan rahmat-Nya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












