Feature

Laut Bercerita, Penculikan Aktivis, dan Surat Imajinatif Itu

60
×

Laut Bercerita, Penculikan Aktivis, dan Surat Imajinatif Itu

Sebarkan artikel ini
Laut Bercerita
Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

Empat tahun piring makanmu tidak boleh kami singkirkan, empat tahun kamarmu dan buku-bukumu berdiri tegak persis pada tempatnya tanpa sebutir debu pun yang berani melekat. Itulah cuplikan surat imajinatif dari Asmara Jati untuk Laut

Tagar.coLeila S. Chudori tak pernah menyangka Laut Bercerita, novel yang ia terbitkan pada 2017, akan menjangkau pembaca begitu seluas.

Semula, ia mengira novel tersebut hanya akan dibaca orang dewasa, khususnya mereka yang memiliki ingatan langsung terhadap peristiwa 1998.

Bersama penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Leila melihat kisah tentang penculikan aktivis 1998 ini ternyata melintasi batas usia, tak hanya dibaca generasi yang hidup di masa Reformasi, tetapi juga oleh milenial dan Gen Z.

Laut Bercerita merupakan karya Leila S. Chudori yang ditulis berdasarkan riset panjang sejak 2008, saat Tempo menerbitkan edisi khusus tentang Soeharto. Leila melibatkan Nezar Patria, salah satu korban penculikan 1998, sebagai narasumber utama, yang membantu membentuk karakter dan dunia dalam novel.

Memasuki cetakan ke-100, Laut Bercerita diterbitkan dalam edisi khusus berukuran lebih besar, dengan sampul bergaya map vintage hasil desain Rain Chudori dan Aditya Putra.

Baca Juga:  Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo Adu Akting di Film Laut Bercerita

Leila menceritakan di dalam imajinasi kami. Amplop ini isinya pelbagai informasi jejak Laut dan kawan-kawannya semasa mereka masih berada di antara kita hingga mereka hilang. Sampul ini juga merepresentasikan proses pencarian yang dilakukan tokoh Asmara Jati dan tim Aswin Pradana dalam cerita.

Leila S. Chudori
Leila S. Chudori menunjukkan novel Laut Bercerita Edisi khusus cetakan ke-100 dengan format baru di Gramedia Jalma, Melawai, Jakarta Selatan, Selasa, 15 Juli 2025. TEMPO/Aisha Shaidra

Titik Terang

Laut Bercerita adalah novel yang ditulis oleh Leila setelah Pulang. Novel ini bercerita tentang kisah persahabatan, keluarga yang mencari penjelasan atas kehilangan seorang anak tanpa titik terang bertahun-tahun, juga cinta.

Riset dalam pembuatan novel ini dimulai pada 2008 ketika Tempo menerbitkan edisi khusus Soeharto hingga akhirnya terbit pada 2017. Ketika menulis buku ini, Leila menghadirkan Nezar Patria dalam pembuatannya sebagai saksi dari kejadian 1998 yang mana juga membantu Leila menemukan referensi untuk karakter dalam tokoh yang diceritakan.

Setelah diterbitkan, banyak pembaca yang menyukai novel ini karena ikut menggambarkan kejadian 1998. Selain itu, menarik bahwa sang penulis sendiri adalah saksi dari kejadian masa itu.

Novel ini ditulis dalam sudut pandang ‘Aku’ dari kedua karakter Biru Laut Wibisono dan Asmara Jati. Biru Laut adalah seorang Mahasiswa, yang mempunyai adik bernama Asmara Jati. Baik Laut atau Asmara Jati, keduanya menjadi tokoh utama dalam Novel tersebut.

Baca Juga:  Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo Adu Akting di Film Laut Bercerita

Bermula pada tahun 1991, Leila mengawali novelnya dengan mengisahkan kehidupan sekelompok mahasiswa yang berkegiatan di suatu rumah di Seyegan, Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswa ini memiliki ketertarikan yang sama terhadap bacaan termasuk sastra. Dalam hal ini, termasuk sastra yang sempat dilarang untuk dibicarakan ketika itu, sastra karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam novel ini, alur yang digunakan tidak berurutan. Dari 1991, pembaca akan diarahkan menuju bab berikutnya yakni tahun 1998. Leila menulis berdasarkan peristiwa saat ini (ketika Biru Laut berada dalam penjara) dan masa lalu (ketika Biru laut masih menjadi mahasiswa dan buron).

Sebelum berada di penjara, konflik yang dihadapi Laut cukup banyak. Termasuk bagaimana ketika ia dan teman-temannya mengatur diskusi dan aksi demi membela petani Jagung di Blangguan yang tanahnya diambil secara tidak adil oleh pemerintah.

Selain itu, novel ini juga bercerita bagaimana salah satu sahabat Laut berkhianat dan membocorkan informasi kepada intel. Aktivisme-aktivisme dan pembelaan ini yang kemudian diketahui oleh intel mengantarkan Laut kepada penjara.

Baca Juga:  Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo Adu Akting di Film Laut Bercerita

Selanjutnya, Novel ini menceritakan bagaimana keluarga Laut termasuk Asmara Jati mengupayakan untuk mencari mahasiswa-mahasiswa yang hilang—termasuk Laut—yang tidak diketahui keberadaannya hingga beberapa tahun. Asmara Jati juga sempat menulis surat imajinatif yang ia sampaikan kepada Laut:

“Mas Laut,

Bapak sudah menyusulmu pagi tadi.

Peluklah ia karena beliau sangat rindu padamu

Empat tahun piring makanmu tidak boleh kami singkirkan, empat tahun kamarmu dan buku-bukumu berdiri tegak persis pada tempatnya tanpa sebutir debu pun yang berani melekat karena Bapak rajin merawatnya. Sesekali jika dia memangku ranselmu yang sudah butut itu dan mengelus-elusnya, seolah barang yang setia melekat di punggungmu itu adalah pengganti dirimu (#)

Jurnalis Ichwan Arif.