
Aisyiyah Gresik berupaya memberdayakan lansia agar tetap aktif dan bermanfaat. Pendampingan dari keluarga dan dukungan sosial berperan penting, sejalan pandangan Islam.
Tagar.co — Pendampingan lansia untuk tetap produktif menjadi topik utama dalam pertemuan Corps Mubaligat Aisyiyah (CMA) keenam di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo, Gresik, Jawa Timur. Nurfadlilah, M.Pd., Koordinator Bidang (Korbid) Majelis Pembinaan Kader (MPK) menyampaikan pandangan Islam tentang lansia. Yakni tidak hanya sebagai individu yang membutuhkan perlindungan, tetapi juga sebagai sosok berpotensi.
“Oleh karena itu, Muhammadiyah memberikan wadah untuk pemberdayaan lansia agar tetap aktif dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelas perempuan yang akrab dengan sapaan Nur itu.
Wanita yang juga menjabat Koordinator Bidang (Korbid) Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) dan Majelis Kesehatan ini menegaskan, pembekalan tidak hanya berupa bantuan, tetapi juga kesempatan untuk mengasah potensi diri agar mandiri dan berkarya.
Kemudian, Nur menjelaskan karakteristik fisik lansia sebagaimana gambaran dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 54. Yaitu tulang yang bertambah lemah dan rambut yang memutih. “Sedangkan, sifatnya atau perasaannya semakin sensitif, hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 23,” ujarnya.
Ia melanjutkan, ciri lain dari lansia ialah kondisi fisik yang melemah dan mudah lupa seperti dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 70. Selain itu, berhentinya haid atau menopause sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 60.
Hadis Rasulullah SAW juga menyebutkan, usia 60 tahun adalah batas usia matang untuk mengintrospeksi diri dan memperbanyak amal kebaikan. “Allah memberikan uzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun,” paparnya.
Perempuan berusia 67 tahun ini memaparkan, dengan karakteristik tersebut, Islam memberikan penghormatan tinggi kepada lansia. Pengalaman hidup mereka dapat memberikan hikmah kepada generasi muda. Secara psikologis, lansia juga mengalami regresif, yaitu kemunduran biologis dan penurunan peran sosial.
Baca Juga: Corps Mubaligat Aisyiyah Jadi Agen Dakwah Zaman Now

Kunci Produktivitas
Dalam kesempatan itu, Nur menekankan, agar tetap produktif, lansia membutuhkan faktor pendukung dari dalam maupun luar diri. Faktor internal, katanya, ialah keyakinan bahwa menjadi tua merupakan sunnatullah.
“Seseorang harus menyadari bahwa mereka akan melemah sehingga perlu menyesuaikan diri terhadap perubahan. Selain itu, rasa syukur juga menjadi kunci,” ungkapnya.
Selain dari dalam diri, faktor pendukung dari luar juga penting. Dukungan sosial, tempat tinggal yang nyaman, dan tetap menjalin hubungan sosial serta beraktivitas menjadi hal krusial.
“Pendampingan dari orang muda sangat diperlukan untuk membantu lansia menguatkan faktor internalnya,” urai Nur.
Pendampingan tersebut juga bertujuan menemukan potensi dan kemampuan yang masih mereka miliki agar bisa mengoptimalkannya. Selanjutnya, Nur menjabarkan beberapa cara agar lansia tetap berdaya dan bahagia. Pertama, menjaga ibadah di usia senja.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling panjang umurnya dan yang paling baik amalnya.”
Kedua, menjadi teladan dan sumber ilmu. Ketiga, menjaga kesehatan fisik dan mental melalui pola hidup sehat dan istirahat yang cukup, sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 47.
Keempat, aktif secara sosial dan produktif. Kelima, penerimaan diri dan makna hidup dengan bertawakal dan bersyukur, seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7. Terakhir, keterlibatan keluarga untuk menghormati dan merawat dengan kasih sayang, sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 24.
Merawat Penuh Kasih Sayang
Tujuan pendampingan, menurutnya, membantu lansia agar merasa berdaya, dihargai, dan tetap aktif secara spiritual, sosial, dan mental. Selain itu, pendampingan juga menumbuhkan keikhlasan dan kesiapan dalam menghadapi fase akhir kehidupan dengan tenang.
Di akhir penjelasannya, ia berpesan, “Sebagai lansia, jangan malu atau sungkan untuk meminta bantuan pada yang muda, terutama anak sendiri.”
Sambil tersenyum, ia menambahkan, “Mengingatkan anaknya, bahwa ibunya belum ditransfer, itu juga penting.” Candaannya bersambut tawa para peserta. (#)
Jurnalis Kusmiani Penyunting Sayyidah Nuriyah












