Feature

Kontes Bandeng Kawak Meriahkan Hari Jadi Ke-539 Gresik, 1.000 Ekor Dibagikan Gratis

140
×

Kontes Bandeng Kawak Meriahkan Hari Jadi Ke-539 Gresik, 1.000 Ekor Dibagikan Gratis

Sebarkan artikel ini
Suasana Pasar Bandeng di Gresik pada 2025 yang dipadati pengunjung. Tradisi tahunan ini kembali digelar lebih meriah melalui Kontes Bandeng Kawak dan rangkaian kegiatan budaya pada 16–18 Maret 2026. (Istimewa)

Kirab budaya, pembagian 1.000 bandeng gratis, hingga lelang bandeng raksasa mewarnai tradisi Pasar Bandeng yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Tagar.co – Bulan Maret 2026 menjadi momen istimewa bagi masyarakat Gresik. Selain bertepatan dengan Ramadan 1447, bulan ini juga menjadi waktu peringatan Hari Jadi Ke-539 Kota Gresik yang jatuh pada 9 Maret 2026 sekaligus HUT Ke-52 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik.

Tanggal hari jadi tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah pengukuhan Sunan Giri sebagai raja Kerajaan Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmata pada 9 Maret 1487. Peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai tonggak berdirinya Kota Gresik.

Baca juga: Ramadan Berbagi, Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro Santuni Yatim dan Gelar Lomba Santri

Untuk memeriahkan momentum tersebut, Pemkab Gresik kembali menggelar Kontes Bandeng Kawak 2026 yang berlangsung selama tiga hari, Senin hingga Rabu (16–18/3/2026). Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi tahunan Pasar Bandeng, salah satu warisan budaya yang telah lama melekat dengan identitas Kota Pudak.

Berbagai kegiatan menarik disiapkan dalam festival tersebut, mulai dari kontes bandeng berukuran raksasa, kirab budaya, hingga pembagian ribuan bandeng gratis kepada masyarakat.

Baca Juga:  Lima Alasan Al-Qur’an Belum Dibukukan pada Masa Nabi

Kirab Budaya dan Ribuan Bandeng Gratis

Kirab budaya dijadwalkan berlangsung pada Senin (16/3/2026) mulai pukul 15.30 WIB. Arak-arakan dimulai dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik di Jalan Pahlawan, kemudian melintasi Jalan Wachid Hasyim, dan berakhir di Pendopo Alun-Alun Gresik.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik, drg. Saifudin Ghozali, menjelaskan bahwa kirab budaya menjadi bagian penting dalam memeriahkan tradisi bandeng yang telah menjadi identitas daerah.

“Kirab ini akan membawa berbagai simbol budaya serta tradisi Gresik. Selain itu juga ada kegiatan udik-udikan untuk masyarakat,” ujarnya.

Dalam kirab tersebut, panitia menyiapkan sekitar 1.000 ekor bandeng segar yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat di sepanjang rute kirab.

“Bandeng yang dibagikan ada 1.000 ekor dalam kondisi fresh. Jadi saat kirab dibawa dan kemudian dibagikan kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain bandeng, masyarakat juga akan mendapatkan udik-udikan hasil bumi berupa sayur dan buah. Kirab budaya ini turut dimeriahkan berbagai kesenian tradisional khas Gresik, salah satunya pertunjukan pencak macan.

Suasana kontes bandeng kawak 2025 (Dok/Radar Gresik)

Dua Ribu Porsi Bandeng Siap Saji

Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan sekitar 2.000 porsi bandeng siap saji lengkap dengan nasi yang akan dibagikan kepada pengunjung pada malam puncak Kontes Bandeng Kawak.

Baca Juga:  Tim Gamelan Cilik SD Almadany Suguhkan Pesona Budaya

Ghozali mengungkapkan bahwa Pasar Bandeng dan Kontes Bandeng Kawak kini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Pada 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Gresik mengajukan lima tradisi budaya yang kemudian mendapatkan sertifikasi dari kementerian pada awal 2026. Lima tradisi tersebut meliputi Pasar Bandeng, Rebo Wekasan, Malam Selawe, Pencak Macan, dan Kupat Keteg.

Tradisi Pasar Bandeng sejak Zaman Sunan Giri

Pasar Bandeng merupakan tradisi turun-temurun yang diselenggarakan setiap malam tanggal 27–29 Ramadan. Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak masa Walisongo dan hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Gresik.

Sejarahnya berkaitan erat dengan peran Sunan Giri yang memprakarsai kegiatan tersebut untuk menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir Gresik. Melihat potensi tambak yang besar di wilayah tersebut, Sunan Giri mendorong masyarakat untuk mengolah sekaligus memasarkan hasil tambak, khususnya bandeng.

Pada masa itu, aktivitas perdagangan masyarakat masih terbatas dan belum stabil. Melalui Pasar Bandeng, masyarakat perlahan belajar mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis hasil tambak yang kemudian menjadi salah satu kekuatan ekonomi lokal.

Baca Juga:  Berburu Lailatulqadar di Giri, Ribuan Jemaah Siap Padati Tradisi Malam Selawe

Kini, Festival Kontes dan Lelang Bandeng Kawak menjadi acara puncak dari rangkaian Pasar Bandeng setiap tahun. Beragam kegiatan turut memeriahkan festival tersebut, seperti live cooking aneka olahan bandeng, makan bandeng gratis untuk masyarakat, santunan anak yatim, hingga penayangan video sejarah Pasar Bandeng.

Selain itu, panitia juga memberikan penghargaan kepada budayawan Kabupaten Gresik, menyajikan hidangan bandeng kepada tamu VVIP, serta menampilkan video proses penilaian kontes bandeng.

Pada puncak acara, tiga bandeng terbaik hasil kontes akan diumumkan dan kemudian dilelang di atas panggung. Penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Gresik, sebelum acara ditutup dengan lelang bandeng dan sesi foto bersama pemenang.

Melalui rangkaian kegiatan ini, tradisi Pasar Bandeng tidak hanya menjadi hiburan masyarakat menjelang akhir Ramadan, tetapi juga simbol kuat warisan budaya dan identitas sejarah Kota Gresik yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni