Sejarah

Kisah Mikraj Nabi Muhammad, Dekat Sidratul Muntaha Melihat Tempat Ini

37
×

Kisah Mikraj Nabi Muhammad, Dekat Sidratul Muntaha Melihat Tempat Ini

Sebarkan artikel ini
Kisah mikraj yaitu perjalanan Nabi Muhammad dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, langit terjauh. Di dekatnya ada surga tempat tinggal
Ruang angkasa. Nabi Muhammad pernah menjelajah alam semesta terjauh saat mikraj.

Sidrah artinya pohon bidara. Muntaha artinya batas terjauh. Lalu apakah makna sidratul muntaha yang disinggahi Nabi Muhammad sewaktu mikraj?

Tagar.co – Kisah mikraj yaitu perjalanan Nabi Muhammad dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, langit terjauh.

Mikraj ini bentuk kata mufrad oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur`anil-‘Azhim diartikan tangga, alat untuk naik. Ini selaras dengan makna surat ke 70 Al-Ma’arij, kata bentuk jamaknya yang artinya tempat-tempat tinggi.

Kisah mikraj dengan perjalanannya menjumpai apa saja di langit terjauh diceritakan dalam surat An-Najm ayat 13-18.

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ  ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى  ١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ  ١٥اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ  ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى  ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

Sidr atau sidrah makna aslinya adalah pohon sidr, bidara, wedoro yang batangnya ada duri, berdaun bulat kecil.

Baca Juga:  Sai dan Isra Mikraj Dikupas dalam Pengajian Ini

Dalam surat Saba’ (34) ayat 16 dan Al-Waaqi’ah (56) ayat 28 disebutkan kata sidr yang berarti pohon bidara namun tak berduri yang ada di surga.

Sedangkan kata al-Muntaha artinya batas akhir, batas terjauh, kesudahannya segala sesuatu. Seperti dalam surat An-Najm (53) ayat 42

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ

Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya segala sesuatu.

Juga dalam surat An-Nazi’at (79) ayat 44.

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya.

Jadi apakah makna sebenarnya sidratul muntaha yang disebut Al-Quran surat An-Najm ayat 14 tempat yang dikunjungi Nabi Muhammad?

Apakah suatu tempat yang jauh di alam semesta dengan pohon-pohon bidara? Apakah batas alam semesta paling jauh dengan alam dimensi lain?

Atau istilah itu hanya kiasan untuk menggambarkan makna sesuatu yang tak terjangkau manusia? Wallahu a’lam.

 Bertemu Para Nabi

Kalau membaca hadis yang menceritakan kisah mikraj Nabi Muhammad disebutkan melewati lapis demi langit dengan kondisi berbeda-beda.

Dalam hadis riawayat Bukhari dan Muslim diceritakan, mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa naik melewati beberapa langit.

Baca Juga:  Madtsaduta makin Meriah di Tahun Baru

Pada setiap langit, malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril alaihissallam menjawab,”Muhammad,” penghuni langit itupun menyambutnya.

Di langit dunia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Adam alaihissallam. Di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isâaalaihissallam dan Nabi Yahya alaihissallam.

Di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yûsuf alaihissallam. Di langit keempat dengan Nabi Idris alaihissallam. Di langit kelima dengan Nabi Hârûn alaihissallam. Di langit keenam dengan Nabi Musa alaihissallam.

Di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrâhîm alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Makmûr.

Kemudian Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha. Di tempat ini Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk menegakkan salat 50 kali sehari semalam.

Dalam perjalanan kembali dari mikraj, ketika sampai di tempat Nabi Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?”

Rasulullah menjawab pertanyaan ini, sehingga Nabi Musa meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan.

Baca Juga:  Pesan Isra Mikraj untuk Pemakai Digital

Rasulullah melaksanakan saran itu, dan Allah Azza wa Jalla pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musa meminta Rasulullah Muhammad agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan Rasulullah sampai Allah Azza wa Jalla berkenan memberi keringanan.

Hingga akhirnya, kewajiban salat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musa meminta Nabi Muhammad meminta keringanan lagi, maka Rasulullah berkata: Aku sudah meminta kepada Rabbku sehingga aku merasa malu.”

Lalu terdengar suara: “Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hambaKu.” (#)

Penyunting Sugeng Purwanto