Opini

Ketika Pasak Lebih Besar daripada Tiang: Pelajaran untuk Indonesia

45
×

Ketika Pasak Lebih Besar daripada Tiang: Pelajaran untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Peribahasa “besar pasak daripada tiang” bukan sekadar nasihat lama. Dalam realitas ekonomi hari ini, ia menjelma jadi peringatan. Dari gaya hidup boros hingga defisit APBN, semua menuntut kejujuran dan perbaikan nyata.

Oleh: dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Peribahasa ini sudah ada sejak dulu kala. Meski berasal dari masa lampau, namun tetap update hingga sekarang. Sering dipakai sebagai nasihat dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku untuk semua komponen kehidupan, mulai dari individu hingga manajemen negara.

Baca juga: Bahagia setelah Berkuasa: Menangkal Post Power Syndrome

Peribahasa ini mengandung makna bahwa pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Jika ini terjadi, akan muncul ketidakseimbangan yang bisa menimbulkan guncangan, bahkan insiden ringan sampai berat—hingga berujung pada kebangkrutan.

Faktor-faktor penyebab:

  • Gaya hidup yang boros.

  • Harga bahan pokok mahal.

  • Pengangguran.

  • Sifat malas bekerja.

  • Mudahnya berutang.

Bagaimana dengan Negara Indonesia?

APBN Indonesia tahun 2025 terdiri atas: Pendapatan Negara sebesar Rp3.005,1 triliun (mencapai 12,36 persen dari PDB), yang berasal dari:

  • Perpajakan: Rp2.490,9 triliun

  • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp513,6 triliun

  • Hibah: Rp0,6 triliun

Baca Juga:  11 Manfaat Puasa bagi Kesehatan, 7 Tip Menjalankannya secara Optimal

Belanja Negara: Rp3.621,3 triliun, yang meliputi:

  • Belanja Pemerintah Pusat: Rp2.701,4 triliun

  • Transfer ke daerah: Rp919,9 triliun

Proyeksi pelebaran defisit yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI pada 1 Juli 2025 menunjukkan bahwa defisit APBN dapat melebar dari target awal sebesar Rp616,2 triliun (2,53 persen dari produk domestik bruto) menjadi Rp662 triliun (2,78 persen dari PDB).

Artinya, APBN Indonesia tahun 2025 defisit sebesar Rp662.000.000.000.000.
Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 285 juta jiwa, maka defisit yang harus ditanggung setiap warga adalah sekitar Rp2.322.807,02 per orang.

Dampak defisit negara:

  • Kenaikan suku bunga bank

  • Penurunan konsumsi dan tabungan

  • Kenaikan tingkat pengangguran

  • Peningkatan utang publik

  • Gangguan stabilitas keuangan

Dampak Perjanjian USA–Indonesia

Telah disepakati perjanjian perdagangan Indonesia–USA dengan ketentuan tarif resiprokal sebagai berikut: tarif barang Indonesia ke USA sebesar 19 persen, sedangkan tarif barang USA ke Indonesia 0 persen, dengan syarat:

  • Indonesia membeli komoditas pertanian dari USA senilai 4,5 miliar dolar

  • Energi sebesar 15 miliar dolar

  • Pembelian 50 pesawat Boeing 777

  • USA mendapatkan akses penuh atas seluruh pertambangan

Baca Juga:  Pendidikan Gratis atau Makan Gratis?

Dari perjanjian tersebut, terdapat potensi penurunan neraca perdagangan Indonesia yang bisa memperlebar defisit APBN.

Solusi:

  • Presiden harus jujur menyampaikan kondisi keuangan negara kepada rakyatnya

  • Korupsi diberantas

  • Kurangi pengeluaran yang tidak efektif

  • Optimalkan pendapatan negara

Penutup

Menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran adalah keharusan. Jangan membuat kegiatan yang “Tersohor tapi Tekor”. Indonesia jangan menjadi arena kekuasaan negara lain. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…