Feature

Kampung Haji dan Bandara Taif, Agenda Diplomasi RI ke Arab Saudi

29
×

Kampung Haji dan Bandara Taif, Agenda Diplomasi RI ke Arab Saudi

Sebarkan artikel ini
Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi perbincangan hangat sejak dicetuskan di awal musim haji lalu.
Muhadjir Efrfendy, kiri, menuntun anggota jemaah haji turun dari bus di Makkah.

Ada dua agenda strategis dalam diplomasi haji yang menjadi amanat Presiden RI untuk pelayanan haji tahun mendatang.

Tagar.co – Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi perbincangan hangat sejak dicetuskan di awal musim haji lalu.

Penjelasan menarik masalah ini disampaikan oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof. Muhadjir Effendy, di Jeddah, Kamis (12/6/2025).

Ia mengatakan, ada dua agenda strategis dalam diplomasi haji yang menjadi amanat Presiden RI. Yakni pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah dan penggunaan Bandara Taif sebagai entry point alternatif untuk jemaah haji Indonesia.

Muhadjir Effendy yang juga Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sudah berdiskusi dengan menteri perhubungan dan menteri agama serta mendampingi pihak investor yang berminat membangun Kampung Haji.

Dia juga langsung meninjau Bandara Taif. Menurutnya, Bandara Taif dinilai sangat potensial karena memiliki dua runaway yang dapat menampung pesawat berbadan besar.

Selain itu jaraknya hanya 70 Km dari Makkah juga bagus. Apalagi bandara ini beroperasi 24 jam penuh dengan dukungan 11 maskapai internasional dan domestik, termasuk dari Iran, Mesir, dan Qatar.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah serta mempercepat proses pemulangan jemaah ke Tanah Air.

”Jika bisa ditambah 10 slot penerbangan per hari, ini akan mempercepat proses pemulangan jemaah dan mengurangi masa tinggal yang selama ini membebani biaya haji,” tutur Muhadjir.

Tapi ada sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan, terutama terkait kapasitas terminal internasional yang saat ini hanya mampu menampung 500 penumpang. “Pengelola bandara menyatakan siap memenuhi permintaan kita, termasuk kemungkinan memperbesar terminal jika nantinya ada kesepakatan resmi,” jelasnya.

Muhadjir juga menyampaikan visi Presiden Prabowo agar penyelenggaraan haji tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, namun juga sebagai peluang membangun ekosistem ekonomi global umat Islam.

”Di Al-Quran disebutkan bolehnya bertransaksi saat haji. Ini bisa jadi momentum membangun pusat transaksi tahunan antarnegara Islam. Kampung Haji dapat menjadi titik awalnya. Pemerintah juga berhati-hati dalam memilih investor dan kemungkinan Juli ini presiden akan bertemu dengan Raja Salman,” tambahnya.

Terkait pelaksanaan haji 2025, Muhadjir mengatakan, secara umum semua berjalan baik. Tentu ada beberapa tantangan karena adanya beberapa perubahan kebijakan dari Arab Saudi.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Namun ia menilai bahwa Indonesia sudah menyesuaikan diri dengan baik. Ini menjadi bukti bahwa kualitas pengelolaan haji Indonesia cukup mumpuni.

Salah satu perubahan besar adalah sistem syarikah yang kini bertambah dari satu menjadi delapan. Sementara sistem haji Indonesia masih berbasis kloter. Hal ini menuntut adaptasi cepat dari tim dan petugas haji Indonesia.

Muhadjir juga menyoroti distribusi makanan siap saji untuk jemaah. Ia memberikan ide agar distribusi makanan dilaksanakan bukan berbasis kelompok karena ditakutkan menimbulkan ketimpangan. Sebaiknya diberikan berdasarkan nama. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto