Buku

Kaidah-Kaidah Cinta: Pelajaran Menggugah dari Adham Syarqawi

620
×

Kaidah-Kaidah Cinta: Pelajaran Menggugah dari Adham Syarqawi

Sebarkan artikel ini
Buku Cinta Telah Mengubahku karya Adham Syarqawi

Buku Cinta Telah Mengubahku karya Adham Syarqawi mengajak kita memahami cinta sebagai kekuatan yang mampu menyembuhkan luka, mengubah diri, dan menuntun menuju ketulusan yang menenangkan.

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Keluarga Sakinah Perindu Jannah

Tagar.co – Ini buku apik, karya penulis asal Palestina. Dia pemilik gelar magister dalam sastra Arab. Juga, seorang motivator dan penulis best seller internasional. Di dalamnya, setiap kaidah cinta dilengkapi kisah-kisah asyik. Misal, ada kaidah: Cinta Mengubah Kita. Lalu, kaidah apa sajakah yang lain?

Tema cinta selalu menarik dibicarakan. Bahkan, para ulama juga turut menuliskannya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, misalnya, menulis buku Raudhatul Muhibbin (Taman Para Pecinta).

Buku Adham Syarqawi ini berisi puluhan kaidah cinta. Kita buka pendahuluannya. ”Saya memberitahumu sumber setiap cerita sebelum memulainya. Jadi, kamu tidak akan menemukan apa pun kecuali yang menenangkan hatimu,” kata Adham (h.5).

Masih Ada Esok

Lihat, kaidah pertama: Kamu Layak Mendapatkan Kesempatan Kedua. Jangan pernah berpikir bahwa kita satu-satunya orang yang terluka, kehilangan, atau dikhianati di dunia ini. Setiap orang memiliki luka yang sama atau mirip dengan yang kita dapatkan.

Pernah seseorang melihat perempuan di padang pasir yang, bagi dia, kecantikannya tiada tara.
”Demi Allah, pasti dunia ini berlaku baik padamu,” sapa orang itu.
”Tidak, demi Allah,” respons si perempuan.

Baca juga: Petunjuk Manusia Pilihan: Kisah Nabi-Nabi sebagai Solusi Kehidupan

Lalu, perempuan itu melanjutkan. Bahwa dia punya seorang suami dan dua anak laki-laki. Suatu hari, sang suami (ayah kedua anak itu) menyembelih seekor kambing pada Hari Raya Iduladha. Sementara, kedua anak itu menyaksikannya.

Belakangan, kedua anak itu bermain. Anak yang lebih tua berkata kepada adiknya, ”Apakah kamu ingin saya tunjukkan bagaimana ayah menyembelih kambing?”
”Ya,” jawab sang adik.

Lalu, secara tidak sengaja si kakak menyembelih sang adik. Ketika melihat darah, si kakak ketakutan dan lari ke arah gunung. Di ketinggian, dia dimakan serigala. Sang ayah lantas keluar untuk mencarinya. Namun, dia terjatuh dan meninggal.

Baca Juga:  Di Balik Capita Selecta: Jejak Natsir dan Peran Senyap D.P. Sati Alimin

”Bagaimana kamu menghadapi semua ini dengan kesabaran?” tanya orang itu kepada si perempuan.
”Seandainya aku mengikuti perasaanku, maka aku akan tetap berduka. Namun, itu hanyalah luka yang akhirnya pulih,” jawab si perempuan (h.9).

Pilu, Tutup!

Masih pada kaidah pertama, Kamu Layak Mendapatkan Kesempatan Kedua. Hendaknya kita jangan sampai tertipu penampilan. Manusia itu seperti buku. Di dalamnya ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui hanya dengan melihat sampulnya saja.

Bahkan mereka yang menulis tentang cinta untuk kita, yang memberitahu kita bagaimana mereka bahagia karenanya, dan yang mengajarkan kepada kita bagaimana kita juga bisa bahagia dengannya, mereka pun sebenarnya memiliki duka sendiri. Namun, mereka memberi diri mereka kesempatan kedua untuk mencintai dan dicintai lagi (h.10).

Adham lalu menukil Kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm. Kata Adham, jika kita melihat performa Ibnu Hazm, hampir yakin bahwa dia seseorang yang hatinya tak pernah terluka. Yakin bahwa hidupnya serba indah dengan menggamit buah-buah manis dari pohon cinta.

Padahal, Ibnu Hazm memiliki catatan luka yang dalam di hatinya. Dia ditinggal wafat oleh yang dia cintai, Nugham namanya. ”Cintaku padanya telah menghapus semua cinta sebelumnya dan mengharamkan semua cinta sesudahnya,” kata Ibnu Hazm. Meski begitu, Ibnu Hazm tetap melanjutkan hidupnya. Dia menikah dan memiliki anak.

Menutup kisah Ibnu Hazm, ini kata Adham: ”Kamu tidak akan menemukan bagian dari kebahagiaan yang tersisa untukmu dalam perjalanan hidup ini selama kamu terus membuka pintu untuk perasaan pilu” (h.11).

Mengubah, Positif!

Sekarang, kaidah ketiga: Cinta Mengubah Kita. Bahwa, betapa banyak kelembutan dalam diri kita yang sebelumnya tidak kita sangka ada. Namun, ketika kita jatuh cinta, kita menemukannya. Begitu juga dengan kekerasan hati yang kita anggap sebagai sifat dasar kita. Namun, cinta mampu menjinakkannya.

Betapa sering kita merasa terlalu besar harga diri kita untuk memaafkan. Namun, cinta membuat kita memaafkan. ”Tidak ada yang melewati cinta tanpa berubah setelahnya. Saya tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa cinta membuat kita mengenali diri kita sendiri,” kata Adham (h.33).

Baca Juga:  Buku Legendaris Fiqhud Da’wah: Kolaborasi Indah M. Natsir dan S.U. Bayasut

Dulu, di Persia ada seorang raja. Dia memiliki putra yang ia siapkan untuk menjadi raja. Namun, sang putra tumbuh menjadi seorang yang tidak bersemangat, pemalas, dan tidak beretika. Sang raja lalu mempercayakan putranya kepada sejumlah guru dan cendekiawan untuk mendidiknya. Sayang, untuk waktu yang cukup lama, tidak ada perubahan.

Sampai suatu saat, si pemuda jatuh hati kepada seorang perempuan, anak salah seorang pejabat. Tahu tentang itu, diaturlah skenario. Lewat serangkaian komunikasi yang telah diatur, sampailah kepada sebuah fragmen saat si pemuda mendengar bahwa gadis impiannya itu tidak layak untuk seorang seperti dirinya yang tidak memiliki kualitas raja (h.35).

Sejak itu, si pemuda alias sang pangeran mulai aktif belajar. Dia pelajari aneka ilmu, belajar sopan santun, mendalami kebijaksanaan, serta melatih kemampuan berkuda dan memanah. Hasilnya, dia unggul di semua hal tersebut.

Perkembangan selanjutnya, sang pangeran menikah dengan perempuan idamannya itu. Keduanya berbahagia. Tentu saja, hal yang demikian membuat sang raja bahagia juga.

Sungguh, cinta berhasil mengubah seseorang. Bahwa, seorang pemuda yang dulunya suka bersenang-senang dan tidak bertanggung jawab menjadi seorang yang layak untuk memerintah dan menjadi raja (h.36).

Mengubah, tapi!

Kisah di atas, cinta mengubah seseorang dalam artian positif. Sekarang, kita bandingkan dengan kisah berikut ini. Kisah yang mengharuskan kita ekstra hati-hati.

Dikisahkan oleh Ibnu Jauzi dalam bukunya Dzammu Al-Hawa (Celaan terhadap Hawa Nafsu). Ada seorang lelaki Muslim yang jatuh cinta pada seorang perempuan Nasrani. Cintanya begitu kuat hingga merusak akal sehatnya.

Lelaki tersebut akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa. Di situ dia tinggal selama beberapa waktu. Temannya sering mengunjunginya.

Suatu hari, lelaki itu sekarat. Dia berkata kepada temannya, ”Saya telah kehilangan harapan untuk bertemu dengan Si Fulanah di dunia ini. Saya khawatir tidak akan bertemu dengannya di akhirat karena saya seorang Muslim. Oleh karena itu, saya bersaksi di hadapanmu bahwa saya telah masuk agama Nasrani.” Lalu, dia meninggal.

Baca Juga:  Membaca Ayat Allah di Balik Gerhana Bulan Total

Tak lama setelah itu, pada kesempatan yang berbeda, si teman tadi mendengar kabar tentang Si Fulanah. Perempuan tersebut ternyata juga mencintai lelaki Muslim itu. Perempuan tersebut berkata, ”Saya telah kehilangan harapan untuk bertemu dengannya di dunia. Saya khawatir tidak akan bertemu dengannya di akhirat karena saya seorang Nasrani. Oleh karena itu, saya bersaksi di hadapan kalian bahwa saya telah masuk agama Islam.” Lalu, dia meninggal (h.36).

Sekadar Perhatian

Kaidah kesebelas: Kenikmatan Terletak pada Memberi, Bukan Menerima. Lihatlah, peristiwa asyik ini. Suatu ketika pada Hari Raya, orang-orang Habasyah (Etiopia) memasuki masjid. Mereka bermain dengan tombak.

Nabi Muhammad Saw. berkata kepada Aisyah Ra., ”Apakah engkau ingin melihat mereka?”
Aisyah Ra. menjawab, ”Ya.”
Nabi Saw. berdiri di pintu masjid, lalu Aisyah Ra. meletakkan dagunya di pundak sang suami dan menempelkan pipinya pada pipi Muhammad Saw. Keduanya mulai melihat permainan tombak.

Setelah beberapa waktu, Nabi Saw. berkata, ”Cukupkah?”
”Wahai Rasulullah, jangan tergesa,” kata Aisyah Ra.

Nabi Saw. pun tetap berdiri sampai Aisyah Ra. puas menonton permainan tombak.
Sungguh, dialog suami-istri di atas indah. Itu sebuah fragmen sederhana tetapi memberikan pelajaran yang sangat berkesan. Pelajaran tentang keutamaan memberi, apa pun wujudnya (h.113).

Apik dan Asyik

Di buku ini ada 26 kaidah cinta. Kaidah-kaidahnya masuk di hati. Penjelasannya, lewat kata-katanya, elok. Kisah-kisah yang mendukung kaidah cinta yang disampaikan benar-benar bisa menggugah.

Alhasil, buku terjemahan dari Khamsuuna Qaanuuna Lilhubbi ini bisa dibaca semua kalangan. Dapat dinikmati tua dan muda. Bagi yang belum berkeluarga, sangat bermanfaat. Untuk yang sudah berumah tangga, potensial menguatkan cinta suami-istri.

Data Buku

Judul buku : Cinta Telah Mengubahku
Penulis : Adham Syarqawi
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Tahun terbit : Januari 2025
Tebal : x + 225 halaman