Feature

Kader Nasyiah Diajak Jadi Detektif Hikmah, Ubah Perspektif Derita sebagai Rahmat Allah

422
×

Kader Nasyiah Diajak Jadi Detektif Hikmah, Ubah Perspektif Derita sebagai Rahmat Allah

Sebarkan artikel ini
Pencerahan pikiran itu kunci mengubah derita menjadi rahmat. Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D., Dosen Psikologi UM Surakarta menjelaskan ini kepada kader Nasyiah pada Diskusi Padat Inspirasi (Sipadi) yang diselenggarakan PPNA.
Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D., Dosen Psikologi UM Surakarta menjelaskan ini pada Diskusi Padat Inspirasi (Sipadi) yang diselenggarakan PPNA. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Pencerahan pikiran itu kunci mengubah derita menjadi rahmat. Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D., Dosen Psikologi UM Surakarta menjelaskan ini kepada kader Nasyiah saat Diskusi Padat Inspirasi (Sipadi) yang diselenggarakan PPNA.

Tagar.co — Diskusi Padat Inspirasi (Sipadi) kembali hadir secara daring melalui ruang Zoom. Kali ini, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) mengajak kader Nasyiah berdiskusi sekaligus refleksi mendalam atas Komitmen Kader NA ke-8, yaitu berjiwa mandiri dan berpikir positif dalam segala hal.

Bertajuk “Tanwirkan Diri: Jiwa Mandiri dan Pikiran Positif sebagai Jalan Pembaruan,” acara ini menghadirkan Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D., Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surakarta, sebagai narasumber. Diskusi yang berlangsung pada Ahad (10/8/2025) sejak pukul 19.00 WIB ini, berhasil menarik 90 peserta dari seluruh Indonesia bertahan di ruang Zoom hingga berakhir pukul 21.00 WIB.

Aad memulai diskusinya dengan pernyataan yang menggugah, “Yang kita sebut derita itu rahmat Allah dalam bentuk yang disamarkan.” Menurutnya, seseorang bisa melihat derita sebagai waktu luang jika pikirannya telah tercerahkan.

Ia mencontohkan kisah Imam Syafii yang dibenci orang sekampung karena ceramahnya, namun tetap tenang. “Imam Syafii dan ulama lainnya enteng saja menjawabnya. Ini waktu saya diurus oleh Allah,” ujar Aad.

Nikmat Tersembunyi

Ia melanjutkan, sebenarnya Allah memberikan nikmat dalam bentuk tersembunyi ketika orang menjauhi kita. “Kalau (pikiran) tidak tercerahkan, kita hanya melihat kegelapan. Pikiran hanya bisa menjadi penerang kalau dilengkapi dengan reason (alasan, makna),” tegasnya.

Lebih lanjut Aad menjelaskan, Islam menyediakan ‘buku makna’ untuk membantu umatnya menemukan reason di setiap kejadian. Yakni berupa Al-Qur’an dan hadis.

Menurutnya, syukur adalah menjalani setiap kejadian dengan reason positif. “Siapa yang mensyukuri keadaan buruk, dengan mencari reason kebaikan di baliknya, Allah akan menambah kenikmatannya,” tambahnya, merujuk pada janji Allah dalam Al-Qur’an.

Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 2-3 sebagai fondasi: “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?”

Baca Juga: PDNA Gresik Luncurkan Yunda Sport, Busana Olahraga Syar’i

Pencerahan pikiran itu kunci mengubah derita menjadi rahmat. Aad Satria Permadi, M.A., Ph.D., Dosen Psikologi UM Surakarta menjelaskan ini kepada kader Nasyiah pada Diskusi Padat Inspirasi (Sipadi) yang diselenggarakan PPNA.
Narasumber bersama moderator Rahmi Syafina. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Mekanisme Tarbiyah

Ahad malam itu, beban yang selalu terukur menjadi pembahasan menarik. Aad menekankan, ujian adalah mekanisme tarbiyah (pendidikan) dari Allah untuk organisasi dan para kadernya. Karena itulah, ia meminta kader untuk tidak bertanya, “Mengapa saya diuji?” ketika menghadapi konflik, program yang tidak berjalan, atau kelelahan.

“Justru ini adalah konfirmasi keimanan!” tegasnya. “Allah sedang memisahkan antara komitmen yang sejati dengan yang hanya di lisan.”

Dalam menghadapi amanah yang terasa berat, dana organisasi yang menipis, atau masalah keluarga, Aad mengingatkan kader Nasyiah dengan mengutip Surah Al-Baqarah ayat 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Baca Juga:  Saat Manajer PLN UPT Gresik Unit Induk Transmisi Jawa Timur dan Bali Mengajar di Spemdalas

Ayat ini, menurutnya, adalah pengingat yang memberdayakan. “Jika ujian itu datang kepada kita, itu adalah sertifikasi dari Allah bahwa kita pasti sanggup melewatinya,” katanya di hadapan kader Nasyiah.

Ia menambahkan, ayat ini menumbuhkan kepercayaan diri, bukan kepasrahan yang lemah. “Kalau orang saleh menerima ujian, kita jadi husnuzan, ‘Oh, berarti dia dianggap Allah keimanannya bagus sehingga bisa menjalani ujian itu.’ Reason membuahkan hal positif. Bisa memunculkan tawadu, kepercayaan diri bahwa saya mampu,” terang Aad.

Baca Juga: PDNA Gresik Perkuat Akar, Lebarkan Sayap Gerakan Progresif

Detektif Hikmah

Setelah itu, Aad mengajak peserta menjadi “detektif hikmah” dengan merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 216, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kepada kader Nasyiah, Aad mencontohkan perbedaan pendapat saat rapat bisa jadi cara Allah melahirkan gagasan terbaik. Selain itu, rasa tidak suka jadi hilang karena Allah menegaskan, bisa jadi yang tidak kita sukai itu baik.

Begitu pula anak yang aktif dan sulit diatur. Menurutnya, mungkin anak tersebut sedang ditempa menjadi pemimpin masa depan. “Anak yang tidak bisa mengeyel nanti menjadi bahan bullying. (Mengeyel) ini justru senjatanya untuk mempertahankan diri,” kata Aad menenangkan istrinya yang sempat kesal dengan buah hati mereka yang suka mengeyel.

Di sisi lain, ia menambahkan, kegagalan sebuah program bisa jadi cara Allah menunjukkan jalan lain yang lebih efektif. “Program tidak berjalan sesuai rencana, bisa jadi itu yang baik. Kita tahu sebenarnya kita tidak bisa mengendalikan banyak hal. Kita jadi bertambah tergantung pada kekuatan Allah,” imbuh Aad.

Baca Juga: Menyulap Sampah, Menyulam Kerukunan: Kolaborasi Pemuda Lintas Agama bersama Eco Bhinneka dan Nasyiah Banyuwangi

Membangun Mental Tangguh

Aad menjelaskan, kesulitan adalah sarana untuk menikmati kemudahan. Ia mengutip Surah Al-Insyirah ayat 5-6, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

“Hari ini Njenengan bersusah payah mengurusi organisasi, besok Anda akan tahu kenikmatan, di akhirat akan menemukan janji Allah: Barangsiapa yang mempermudah urusan seorang makhluk di bumi maka Allah akan mempermudah urusannya di akhirat,” sambungnya.

“Begitu membuat program penanganan TBC, satu Indonesia kena dampaknya. Akan Allah hitung, orang seluruh Indonesia terbantu. Mereka akan bersaksi,” tuturnya kepada para kader Nasyiah yang hadir.

Ia pun membandingkan problem hidup orang yang berorganisasi dengan yang tidak. “Anda mungkin berkata, ‘sepele’,” katanya kepada kader yang terbiasa memecahkan masalah dalam organisasi.

Baca Juga:  Ujian Sabar di Balik Cantiknya Tumpeng Meriah Penuh Garnish

Lalu mengungkap, kalau pikiran tidak tercerahkan, nikmat Allah akan tenggelam dalam kegelapan. “Bagi Anda ringan karena Anda sudah terbiasa ditempa organisasi,” lanjutnya.

Dari sini Aad menambahkan, “Sebenarnya nikmat itu baru dikatakan nikmat kalau sebelumnya kita merasakan kesusahan!”

“Sebenarnya, yang bisa menghargai waktu itu orang yang sibuk. Orang yang menganggur, tidak tahu nikmatnya punya waktu luang. Sama kayak orang yang tiap hari makan ayam goreng, dia tidak tahu nikmatnya makan ayam goreng. Beda sama orang yang tidak pernah makan ayam, dikasih makan ayam langsung bersyukur,” jelasnya.

Baca Juga: Nasyiah Bersama DLH Gresik di Car Free Day, Tukar Sampah Banyak Bonusnya

Manfaat Ujian

Kemudian saat menyentuh manfaat personal dari ujian, Aad mengutip hadis riwayat Bukhari: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”

Dengan mengingat hadis ini, Aad meyakini, setiap tetes keringat dan miskomunikasi di Nasyiah menjadi bernilai. “Itu mekanisme cleansing dosa secara otomatis. Dengan rapat, dosa kita hilang. Kalau kita ingat ini, proses yang melelahkan di NA bisa kita syukuri. Kita tahu reason-nya sehingga tercerahkan,” kata Aad.

Ia juga menjelaskan besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. “Sesungguhnya besarnya balasan itu bersamaan dengan besarnya cobaan…” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Menurutnya, hadis ini motivator untuk para pengemban amanah berat. Semakin kompleks masalah yang dihadapi—entah itu mengelola keuangan organisasi yang sulit, memediasi konflik besar, atau menghadapi masalah keluarga yang pelik—semakin besar pula “rekening pahala” yang Allah siapkan. Ini mengubah tantangan menjadi proyek investasi akhirat.

“Semakin berat, semakin menunjukkan kapasitas diri. Dua hari lagi berangkat ke Jakarta, hari ini cari donatur. Berat. Itulah takdir yang datang kepadamu. Allah menghendaki itu. Itu amanah yang Allah berikan padamu. Syukuri. Nanti ada balasannya di akhirat,” ujarnya.

Adapun memaknai, ujian adalah tanda cinta Allah, adalah puncak dari pemaknaan penderitaan. Ujian bukanlah hukuman, melainkan perhatian khusus dari Allah. Kenapa organisasi saya yang paling banyak masalahnya? Mungkin karena Allah paling cinta pada pengurusnya dan ingin mereka “naik kelas”.

Baca Juga: Menggelar Musykerda Perdana di Jawa Timur, PDNA Lamongan Dapat Apresiasi

Prasangka Baik

Kekuatan prasangka baik kepada Allah juga menjadi poin penting. Aad mengutip Hadis Qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Dari sini ia menjelaskan, “Bagaimana kita ‘membingkai’ masalah akan menentukan realitas yang kita alami.” Artinya, jika kita menganggap masalah sebagai ujian untuk menghancurkan, maka kita akan hancur. Sebaliknya, jika kita melihatnya sebagai kurikulum untuk menjadi lebih baik, kita akan menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Dua Peran Dian Sastro di Film Esok tanpa Ibu

“Yang penting, bagaimana respon terbaik kita, nanti Allah akan menepati janjinya,” tutur Aad.

Hal ini, katanya, berkaitan dengan bagaimana upaya mencari tanwir (pencerahan). “Yang penting, bagaimana menghubungkan derita dengan hikmah sehingga menghasilkan meaning,” ungkapnya.

Sebab, kekuatan terbesar manusia adalah kebebasan untuk memilih sikap dalam kondisi apapun. “Kalau kita ingat reason yang disiapkan agama, kita tenang. Meski tetap merasakan sakit, tapi tenang karena tahu rasa sakit itu menggugurkan dosa,” jelas Aad.

Di akhir sesi, Aad menyimpulkan, “Siapa yang dapat menghentikan orang yang jika mengalami derita, malah bertambah semangat perjuangannya? Tidak ada! You are unstoppable!”

Perubahan, menurutnya, adalah keniscayaan. “Ketika kamu tidak bisa dihentikan, maka perubahan adalah keniscayaan. Tinggal menunggu waktu berubah karena kamu sudah siap menghadapi derita,” tutupnya.

Baca Juga: Berbagi Kasih: PDNA Kota Blitar Gelar Pengobatan Gratis dan Baju Layak Pakai

Istikamah

Sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator Rahmi Syafina, Anggota Bidang Kader PPNA, memperdalam materi. “Bagaimana caranya agar selalu dapat kekuatan untuk mencari dan menemukan reason? Karena sepertinya tidak mudah. Tidak bisa ujug-ujug langsung bisa apalagi manusia disinggung dalam Al-Qur’an, Innal insaana khuliqa haluu’aa. Yang artinya, Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh QS Ma’araj ayat 19,” tanya Helda.

Menanggapi pertanyaan pertama dari Helda tentang sulitnya menemukan reason, Aad menjawab, Al-Qur’an juga menyebutkan banyak sifat positif manusia. “Manusia ada rentang dari positif ke negatif dan itu berdinamika. Kalau lagi beriman lebih baik dari malaikat, kalau lagi negatif lebih bodoh dari binatang melata,” ungkapnya.

Ia juga menyadari manusia suka berkeluh kesah tapi ia meyakini, Allah membekali dengan Al Qur’an. “Keluh kesahmu ada obatnya. Baca, praktikkan, nanti insyaallah akan menjadi insan yang lebih baik. Namanya hidup selalu perlu latihan. Kalau kita mau, bisa! Tidak pernah ujuk-ujuk. Kejadiannya akan jatuh bangun. Yang penting kita tahu caranya. Jatuh, coba terus,” tuturnya.

“Kuncinya latihan. Memang tidak mudah. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Yang penting ada ilmu dan istikamah,” tambah Aad.

Sebagai manusia biasa, Aad menyadarkan, marah itu biasa. “Habis marah ya istighfar. Besok lebih baik. Tidak usah berekspektasi berhasil terus. Gagal itu biasa. Yang penting, coba lagi. Bangun mentalitas ini. Yang dinilai Allah, mencoba Laginya. Bukan kegagalannya,” imbuhnya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni