Opini

Jejak Ibnu Batuta di Nusantara: Laut sebagai Jembatan Peradaban Islam

68
×

Jejak Ibnu Batuta di Nusantara: Laut sebagai Jembatan Peradaban Islam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Persinggahan Ibnu Batuta di Samudra Pasai mengungkapkan wajah maritim Nusantara yang terbuka, berilmu, dan berwibawa di mata dunia Islam.

Oleh: Triyo Supriyatno, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Ketika berbicara tentang sejarah peradaban Islam di Nusantara, nama-nama besar seperti Cheng Ho atau Marco Polo sering muncul di benak publik. Namun, ada satu tokoh yang perjalanannya menjadi saksi langsung bagaimana Islam mengakar di wilayah kepulauan ini: Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati al-Tanji, yang dunia mengenalnya sebagai Ibnu Batuta.

Lahir di Tangier, Maroko, tahun 1304, Ibnu Batuta bukan hanya seorang musafir ulung, tetapi juga seorang diplomat, ulama, dan pencatat sejarah yang perjalanan hidupnya merekam denyut nadi dunia abad ke-14.

Baca juga: Tanah Jawa dan Tanah Melayu: Dua Akar yang Menopang Pohon Indonesia

Dalam catatan perjalanannya yang monumental, Rihlah, Ibnu Batuta menceritakan persinggahannya ke Samudra Pasai—salah satu pusat Islam paling awal di Nusantara.

Kedatangannya sekitar tahun 1345 M, pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Zahir, membuka jendela bagi kita untuk memahami bagaimana sebuah kerajaan maritim Muslim mampu menghubungkan jalur perdagangan, diplomasi, dan dakwah Islam ke seluruh kawasan.

Samudra Pasai: Titik Persilangan Dunia

Bagi Ibnu Batuta, Samudra Pasai bukan sekadar pelabuhan, tetapi simpul peradaban. Ia menyaksikan bahwa kota pelabuhan ini memiliki keterhubungan langsung dengan pusat-pusat Islam dunia, mulai dari Gujarat, Yaman, hingga Makkah. Para pedagang, ulama, dan penjelajah berkumpul di sini, bertukar barang sekaligus gagasan.

Baca Juga:  Iktikaf: Reset Spiritual di Tengah Kegelisahan Zaman

Ia mencatat kekagumannya pada Sultan Malik al-Zahir yang dianggapnya sebagai penguasa adil, taat beragama, dan dekat dengan para ulama. Pasai, menurutnya, mengadopsi mazhab Syafi‘i, dengan sistem hukum dan sosial yang sudah matang.

Inilah salah satu bukti bahwa Islam di Nusantara sejak awal berkembang bukan sekadar sebagai kepercayaan spiritual, tetapi juga sebagai sistem peradaban yang menyentuh aspek hukum, pendidikan, dan etika sosial.

Jejak Peradaban Maritim Islam

Kedatangan Ibnu Batuta di Nusantara terjadi pada masa ketika laut bukanlah pemisah, melainkan penghubung. Jalur laut menjadi sarana dakwah dan perdagangan yang membentang dari Teluk Persia hingga ke Laut Jawa. Dalam konteks ini, Nusantara berada di jalur emas perdagangan rempah, sehingga wajar jika ia menjadi tujuan penting bagi para penjelajah.

Catatan Ibnu Batuta menunjukkan bahwa kekuatan maritim Nusantara pada abad ke-14 sudah memiliki reputasi internasional. Samudra Pasai, misalnya, mampu mengatur pelayaran lintas benua, mengelola pelabuhan yang aman, dan menjadi rujukan hukum Islam di wilayahnya. Ini menunjukkan bahwa peradaban maritim Islam di Nusantara bukanlah pinggiran, melainkan bagian dari arus utama dunia Islam.

Diplomasi Budaya dan Dakwah

Salah satu aspek penting dari persinggahan Ibnu Batuta adalah perannya sebagai penghubung budaya. Ia tidak datang sekadar sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pelaku diplomasi. Dalam catatannya, ia menuturkan bagaimana Sultan Pasai menyambut para pendatang dengan ramah, mengundang mereka dalam majelis ilmu, dan mengatur agar mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Makkah melalui jalur laut.

Baca Juga:  Puasa: Revolusi Kesadaran Spiritual

Inilah bentuk diplomasi budaya yang khas dalam peradaban Islam maritim Nusantara: keterbukaan pada pendatang, penghormatan pada ilmu, dan penegakan hukum Islam. Sikap ini membentuk citra Nusantara sebagai wilayah yang bersahabat sekaligus berwibawa di mata dunia.

Pelajaran bagi Indonesia Modern

Kisah Ibnu Batuta di Nusantara menyimpan pesan relevan bagi Indonesia hari ini.

Pertama, tentang keterbukaan global. Samudra Pasai mampu menjadi pusat peradaban karena terbuka pada interaksi internasional tanpa kehilangan jati diri Islamnya.

Indonesia modern, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, bisa meneladani semangat ini untuk menjadi pusat perdagangan, pendidikan, dan diplomasi global berbasis nilai-nilai keislaman.

Kedua, pentingnya kekuatan maritim. Abad ke-14 membuktikan bahwa kedaulatan dan kemakmuran Nusantara sangat bergantung pada penguasaan laut. Visi Poros Maritim Dunia yang digagas saat ini memiliki akar sejarah panjang, salah satunya dari era Samudra Pasai yang Ibnu Batuta saksikan.

Ketiga, peran ulama dalam kepemimpinan. Sultan Malik al-Zahir tidak hanya memimpin sebagai penguasa politik, tetapi juga menjadikan para ulama sebagai mitra strategis dalam membangun masyarakat. Hal ini mengingatkan kita bahwa kemajuan peradaban membutuhkan sinergi antara pemimpin dan pembimbing moral.

Baca Juga:  Megengan, Jeda Kultural Menyambut Ramadan

Menghidupkan Kembali Memori Kolektif

Sayangnya, catatan Ibnu Batuta tentang Nusantara sering kali terselip dalam buku sejarah, kalah populer dibanding kisah penjelajah Barat. Padahal, kisahnya penting untuk membangun kebanggaan sejarah umat Islam Indonesia.

Dengan memahami bahwa wilayah kita pernah menjadi magnet dunia Islam, kita dapat membangun identitas yang percaya diri di kancah internasional.

Menghidupkan kembali kisah Ibnu Batuta bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi juga upaya merumuskan visi masa depan. Dalam dunia yang kembali terhubung secara global, kita bisa belajar bagaimana nenek moyang kita mampu mengelola keterbukaan, keragaman, dan kekuatan ekonomi berbasis maritim tanpa kehilangan ruh Islam.

Ibnu Batuta meninggalkan Nusantara untuk melanjutkan perjalanannya ke Tiongkok, namun jejaknya di Samudra Pasai tetap abadi. Ia bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga bagian dari jalinan panjang hubungan dunia Islam dengan Nusantara.

Catatan perjalanannya menjadi pengingat bahwa kita pernah menjadi titik temu peradaban besar—dan bahwa posisi itu bisa kita raih kembali jika mau belajar dari sejarah.

Sejarah Ibnu Batuta di Nusantara adalah undangan untuk menatap masa depan dengan keyakinan: bahwa laut adalah sahabat, keterbukaan adalah kekuatan, dan Islam adalah cahaya yang membimbing interaksi kita dengan dunia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…