
Tidak semua yang tampak buruk di mata manusia hina di sisi Allah. Bisa jadi, seseorang yang kita pandang rendah justru memiliki keikhlasan yang menyelamatkannya kelak.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Tidak ada manusia yang berhak meremehkan manusia lain, sekalipun orang itu sedang tenggelam dalam maksiat. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana hubungan hatinya dengan Allah, atau bagaimana akhir hidupnya kelak. Banyak orang tampak hina di mata manusia, namun justru mulia di sisi Allah karena rahasia amal dan keikhlasannya.
Baca juga: Dosa Kecil Pencuri Keberkahan Hidup
Kita sering terburu-buru menghakimi. Melihat orang berbuat dosa, lalu merasa diri lebih suci. Padahal, dosa besar bukan hanya terletak pada maksiat yang tampak, tetapi juga pada kesombongan hati yang tersembunyi. Rasulullah Saw. bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (Muslim No. 91)
Kesombongan itu berawal dari hati yang lupa bahwa hidayah bukan hasil usaha semata, melainkan karunia Allah. Orang yang kita pandang rendah hari ini bisa saja besok menjadi lebih mulia karena Allah membukakan jalan tobat baginya. Sementara kita, yang merasa telah banyak beramal, bisa saja tergelincir oleh ujub dan ria yang menghapus pahala.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)
Ayat ini menegaskan bahwa cinta Allah bukan hanya bagi mereka yang selalu benar, tetapi juga bagi mereka yang salah namun mau kembali. Karena itu, tak ada alasan untuk menghina pelaku dosa. Bisa jadi, di balik maksiatnya, ia menyimpan air mata penyesalan yang hanya diketahui oleh Rabb-nya.
Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri mengingatkan, ada tiga sebab mengapa kita tak boleh meremehkan pelaku maksiat.
Pertama, bisa jadi ia memiliki amalan hati yang besar di sisi Allah—amalan yang tak terlihat oleh manusia, seperti keikhlasan, kerendahan hati, atau kasih sayang yang tulus. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (Muslim No. 2564)
Kedua, bisa jadi ia memiliki amal yang ikhlas yang menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosanya. Betapa banyak kisah dalam hadis menunjukkan hal ini. Seorang perempuan pezina diampuni karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Rasulullah Saw. bersabda:
فَغُفِرَ لَهَا بِذَٰلِكَ
“Maka Allah mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Bukhari No. 3321; Muslim, No. 2245)
Ketiga, bisa jadi dia mendapat hidayah dan bertobat, sementara kita belum tentu mendapat jaminan untuk tetap istiqamah. Hidayah adalah milik Allah semata. Allah Swt. berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)
Ayat ini mengingatkan bahwa tak seorang pun bisa memastikan dirinya akan berakhir dalam kebaikan. Kita bisa rajin beribadah hari ini, namun siapa yang menjamin esok tidak berubah? Dalam sebuah doa yang sering dibaca Rasulullah Saw., beliau memohon:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (Tirmizi No. 2140)
Doa ini menunjukkan betapa hati manusia begitu rapuh. Sekali Allah membalikkan arah, seseorang yang dahulu saleh bisa tergelincir, dan yang dulu berdosa bisa berubah menjadi ahli tobat yang dicintai-Nya.
Karenanya, ketika melihat orang yang berbuat maksiat, seharusnya kita merasa iba, bukan menghina. Kita doakan agar Allah memberinya hidayah, karena bisa jadi di masa depan dialah yang akan menuntun kita kembali saat kita tersesat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang yang meremehkan pelaku maksiat berarti tidak memahami hakikat hidayah. Karena siapa pun bisa terjerumus dalam dosa, kecuali yang dijaga oleh Allah.”
Sikap terbaik adalah tawaduk—rendahkan hati di hadapan Allah—karena yang dinilai bukan masa lalu seseorang, melainkan bagaimana akhirnya. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya (akhirnya).” (Bukhari No. 6607; Muslim, no. 112)
Maka, jangan tergesa menilai. Bisa jadi seseorang yang hari ini kita cemooh esok meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Dan sebaliknya, seseorang yang hari ini kita sanjung bisa saja berakhir dengan su’ul khatimah karena kesombongannya.
Allah Swt. Maha Mengetahui isi hati manusia. Dia menutup aib banyak hamba-Nya karena kasih sayang, bukan karena tidak tahu. Maka tugas kita bukan mengungkap dosa orang lain, tetapi memperbaiki diri sendiri.
Mari kita tundukkan pandangan dan lembutkan hati. Setiap orang sedang berjuang dengan dosanya masing-masing. Barangkali yang tampak buruk hari ini sedang berproses menuju cahaya yang belum kita lihat.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tidak cepat menilai, tetapi cepat memperbaiki diri. Karena di hadapan-Nya, yang paling mulia bukanlah yang paling suci di mata manusia, melainkan yang paling bertakwa di sisi-Nya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat [49]: 13)
Dan takwa itu tumbuh dari hati yang tidak sombong—yang mampu melihat sesama manusia dengan kasih, bukan dengan caci. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












