
Di lereng Tengger, durian bukan sekadar buah musiman. Ia tumbuh dari tanah yang dirawat, jalan yang berliku, dan ketekunan petani yang setia menjaga rasa.
Tagar.co – Siang itu, Sabtu, 24 Januari 2026, perjalanan saya dimulai dari pasar Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jalan sempit yang berliku, menanjak, dan berkelok harus ditempuh selama sekitar 30 menit demi satu tujuan: Sentral Durian Lereng Tengger. Rasa lelah di perjalanan seketika terbayar ketika dataran tinggi menyuguhkan pohon-pohon durian yang berbuah lebat.
Baca juga: Meniti Keberanian di Atas Jurang: Sensasi Jembatan Kaca Seruni Point Bromo
Bukan tanpa alasan Lumbang dikenal sebagai surga durian lokal. Durian khas daerah ini masyhur berwarna kuning legit, harum, dan memiliki rasa yang kuat. Musim panen yang tengah berada di puncaknya seolah diumumkan alam sendiri—buah durian bergelantungan di kiri-kanan jalan, berpadu dengan panorama pedesaan hijau yang menenangkan.
Udara sejuk Lereng Tengger membuat perjalanan terasa semakin berkesan. Pegunungan membentang, sawah dan kebun menyusun lanskap alami yang jarang ditemui di perkotaan. Meski letaknya agak nyempil, justru di situlah daya tarik Sentral Durian Lereng Tengger: sederhana, alami, dan autentik.

Di lokasi, durian bisa dinikmati langsung di kebun. Beragam varietas lokal khas Lumbang tersaji, mulai dari durian Petruk, Susu Bajul, hingga durian kasur yang dikenal berkulit relatif lembut dengan daging tebal. Menyantap durian di tempat asalnya menghadirkan sensasi berbeda—lebih segar, lebih jujur pada rasa.
Sentral Durian Lereng Tengger dikelola oleh Bu Samsul, yang telah merintis usaha durian sejak sekitar 1985. Lebih dari empat dekade, kebun ini menjadi saksi ketekunan petani lokal menjaga kualitas durian Lumbang. Dari sini pula, durian tak hanya dinikmati wisatawan, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah.
“Pembelinya dari Jakarta, Bandung, Depok. Sekarang juga banyak yang kirim ke Madura,” ujar Bu Samsul.
Pada musim panen besar—terutama menjelang Natal dan Tahun Baru—penjualan bisa mencapai 700 hingga 1.000 buah per hari. Di hari biasa, sekitar 200 buah durian tetap terserap pasar.
Tak heran jika wisata durian Lumbang kian ramai. Pengunjung datang dari Malang, Sidoarjo, hingga Probolinggo. Media sosial turut memperluas gaungnya—unggahan para pegiat kuliner Jawa Timur menjadikan durian Lumbang bukan sekadar buah, melainkan pengalaman musiman yang layak diburu.
Saya membuka sebutir durian, menyantapnya perlahan sambil memandang perbukitan hijau. Ada ketenangan yang sulit dirumuskan dengan kata-kata. Seolah alam mengajak berhenti sejenak, menikmati hasil bumi tanpa tergesa.
Pada akhirnya, perjalanan ke Sentral Durian Lereng Tengger bukan semata soal berburu rasa. Jalan berliku itu mengajarkan satu hal sederhana: kenikmatan lahir dari proses—dari tanah yang dirawat, dari ketekunan petani, dan dari kearifan lokal yang setia dijaga. (#)
Juralis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












