
Lewat perayaan Imlek 2025 dan pesan perdamaian dari langit yang dibawa Isra Mikraj Rasulullah, kita dukung misi persatuan dan perdamaian bangsa demi kemakmuran rakyat.
Oleh Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS
Tagar.co – Hari ini adalah 27 Rajab yang diperingati sebagai hari Isra Mikraj ketika Muhammad Rasulullah melakukan perjalanan malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa pada tahun ke 10 masa kenabian.
Dalam konteks ini perlu dicermati bahwa pada masa itu kekuatan imperium Persia di Timur dan Romawi di Barat sedang mengalami degradasi dan dekadensi sehingga kehilangan kepemimpinan moral.
Dalam perjalanan malam Isra Mikraj ini turun perintah salat lima waktu. Peristiwa ini bisa dimaknai sebagai teknologi perdamaian. Tahapan salat ini yang membedakan revolusi yang dibawa Islam dengan revolusi Perancis 1789 maupun Bolshevik 1917 di Rusia.
Peradaban manusia menjelang kebangkitan Islam itu sudah jatuh ke titik nadir di mana perbudakan antar-bangsa, pelecehan atas kaum perempuan, peperangan antar-suku, kemiskinan dan kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana.
Manusia sedang di pinggir jurang kehancuran peradaban. Melalui salat itulah kemudian peradaban yang nyaris hancur itu diselamatkan.
Segera perlu dicermati bahwa misi kerasulan Muhammad itu bukan sekadar perjuangan menjadi takmir Masjid Nabawi. Tapi sebuah misi penyelamatan umat manusia melalui Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin.
Abad 21 adalah saksi betapa kerusakan peradaban manusia mencapai puncaknya sebagaimana dinyatakan oleh Sekjen PBB di World Economic Forum di Davos di awal 2025.
Pemanasan global, perubahan iklim, kemiskinan dan kesenjangan yang melebar, pelanggaran HAM bahkan genosida, konflik bersenjata, krisis pangan dan air, serta ancaman perang nuklir masih mewarnai kemanusiaan kita di perempat pertama abad ini.
Usulan gencatan senjata di Ukraina oleh Presiden RI Prabowo Subianto justru dituduh Uni Eropa sebagai membela Rusia.
Cukup sering Prabowo dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit.
Dia menekankan persatuan, menghentikan perselisihan, bersinergi untuk membangun perdamaian sehingga diterima sebagai anggota BRICS bersama Cina, India, Brasil, dan Afrika Selatan.
Dia juga mengkritik mengapa negara-negara mayoritas Islam justru tidak bisa bersatu, terutama untuk menolong bangsa Palestina.
Baru-baru ini Prabowo diundang sebagai tamu kehormatan dalam peringatan Hari Republik India ke 76. Prabowo menempatkan diri sebagai penerus Soekarno yang bersama Nehru dan Nasir membangun Gerakan Non-Blok di Bandung dalam Konferensi Asia Afrika 1955.
Keanggotaan Indonesia di BRICS merupakan rekomendasi India. Di tengah dunia yang makin multi-polar, Indonesia telah menampilkan kepemimpinan moralnya sebagai teladan keberhasilan menjaga ASEAN sebagai kawasan paling aman dan stabil di dunia.
Sebagaimana sinyalemen Ihsanudin Noorsyi tentang situasi keterbelahan bangsa yang makin berbahaya, narasi-narasi negatif terhadap kelompok etnis tertentu di Indonesia perlu diwaspadai.
Dinamika hubungan antar warga keturunan Tionghoa dan Arab, dengan pribumi merupakan hasil proses sejarah yang kompleks, serta kebijakan kolonial yang memang memecah belah.
Kesenjangan akibat konsentrasi sumber daya ekonomi dan politik pada segelintir warga keturunan dan elite partai politik menjadi konsekuensi tak terelakkan dari pemberlakukan UUD 2002 yang sangat liberal kapitalistik.
Dari sekadar ersatz capitalism era Soeharto, kini berkembang menjadi full fledged capitalism di era Jokowi.
Sebaiknya para elite parpol dan taipan ekonomi, serta TNI mulai menyadari bahwa situasi ini unsustainable dan bisa meletus sewaktu-waktu dan bangsa ini akan kembali ke titik nol lagi, tidak melesat menjadi negara maju yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dalam keceriaan perayaan Imlek 2025 ini, serta pesan perdamaian dari langit yang dibawa Isra Mikraj Rasulullah ini, baiklah kita dukung misi persatuan dan perdamaian yang digaungkan Presiden Prabowo untuk bersama-sama kita wujudkan.
Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur tidak hanya penting bagi bangsa ini, tapi juga penting bagi dunia yang sedang sakit ini. (#)
Wonosalam, Jombang, 27 Januari 2025
Penyunting Sugeng Purwanto











