Cerpen

Ijazah yang Berbohong

754
×

Ijazah yang Berbohong

Sebarkan artikel ini
Map lusuh itu tak hanya menyimpan selembar ijazah palsu—tapi juga rasa takut, mimpi yang nyaris jadi nyata, dan seorang guru yang terlanjur dicintai murid-muridnya.
Ilustrasi AI

Map lusuh itu tak hanya menyimpan selembar ijazah palsu—tapi juga rasa takut, mimpi yang nyaris jadi nyata, dan seorang guru yang terlanjur dicintai murid-muridnya.

Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Hujan deras mengguyur halaman sekolah siang itu. Tanah merah di SD Negeri Pucangro berubah menjadi lumpur lengket. Angin mengetuk pintu-pintu kelas dengan suara berderit pelan. Aku berdiri di depan ruang kepala sekolah, menggenggam map lusuh yang tak hanya berisi kertas, tapi juga beban: ijazah palsu sarjana pendidikan.

“Silakan masuk, Pak Arman,” kata Bu Sari, kepala sekolah, sambil tersenyum ramah. Aku mengangguk, menahan gemetar di ujung jari.

Kami berbincang sebentar sebelum menandatangani kontrak kerja sebagai guru honorer Matematika. Ia memuji pengalamanku di dunia pendidikan—yang sejatinya hanya khayalan yang kutulis rapi di formulir pendaftaran.

Baca juga: Amplop Lusuh yang Membuat Tono Tercegat

Sebenarnya, aku hanya lulusan SMA. Kuliah sempat kujalani, tetapi terhenti karena tak mampu membayar biaya semester. Hidup membawaku ke pekerjaan serabutan: kuli bangunan, penjaga warnet, tukang fotokopi. Hingga suatu hari, seorang makelar menawari ijazah palsu. Dengan harga tak murah, aku membeli masa depan.

Baca Juga:  MI Mutwo Gelar Fashion Show Islami pada Peringatan Isra Mikraj

Hari-hari awal di sekolah berjalan lancar. Anak-anak cepat akrab denganku. Setiap pagi mereka menyambut dengan tawa riang, membuatku merasa benar-benar dibutuhkan.

“Pak Arman, kenapa harus belajar pecahan?” tanya Leni, siswi kelas VI.

“Karena hidup juga penuh bagian-bagian,” jawabku. “Kita belajar mengerti pecahan supaya tak mudah menghakimi hidup yang tak utuh.”

Jawaban itu membuat mereka terdiam, lalu tersenyum. Aku merasa berguna. Meski hanya berbekal kebohongan, aku ingin menjadi guru yang tak sekadar mengajar, tapi juga menginspirasi.

Guru-guru lain mulai memuji. Bu Sari sering berkata, “Kamu ini guru langka, Pak Arman. Meskipun honorer, dedikasimu luar biasa.” Aku hanya bisa menunduk, menahan perih di dada.

Namun, ketakutan selalu mengintai. Kertas itu bisa runtuh kapan saja.

Panik menyergap ketika dinas pendidikan datang untuk pendataan ulang. Mereka meminta salinan ijazah asli dan akan mencocokkannya dengan data nasional. Aku berdalih ijazahku hilang. Mereka memberiku waktu satu bulan.

Malam-malamku berubah mencekam. Tidur tak pernah nyenyak. Mimpi buruk datang silih berganti: polisi datang menjemput, anak-anak yang mencemoohku, ibuku yang menangis kecewa.

Baca Juga:  Studi Banding dan Keberanian Bermimpi Kepala Madrasah

Suatu sore, Pak Yusuf, guru senior di sekolah, mengajakku duduk di ruang guru. Ia menyeduh dua cangkir kopi.

“Kau bilang lulusan Universitas Negeri Surabaya, ya?” tanyanya santai. “Siapa pembimbing skripsimu dulu?”

Aku tercekat. “Pak Heri… saya lupa nama lengkapnya.”

Ia mengangguk pelan. “Kalau kamu butuh teman bicara, pintu rumahku terbuka.”

Aku tahu, ia sudah curiga.

Seminggu kemudian, surat dari dinas tiba. Nama Arman Prasetyo tak tercatat sebagai alumni perguruan tinggi mana pun. Bu Sari memanggilku ke ruangannya.

“Pak Arman,” katanya pelan. “Apa ini benar?”

Aku diam. Dada sesak. Udara seperti menolak masuk ke paru-paru. Lalu, tanpa bisa dicegah, air mata mengalir.

“Iya, Bu. Saya bohong. Saya hanya lulusan SMA. Saya cuma ingin mengajar…”

Ruangan itu hening. Hujan di luar masih turun. Lalu ia menarik napas panjang.

“Kau telah melukai kepercayaan kami. Tapi… aku tahu, kau sungguh mencintai anak-anak.”

Dua hari kemudian, aku mengundurkan diri. Aku menyerahkan kembali gaji bulan terakhir.

Baca Juga:  Presean dan Pendidikan Karakter: Pelajaran Hidup dari Sasak Sade

Sebelum pergi, aku berdiri di depan kelas VI dan menyampaikan salam perpisahan. Anak-anak terdiam.

“Pak harus pergi, ya,” kataku sambil menahan tangis. “Teruslah belajar. Dan jangan pernah bohong, karena kebohongan bisa menghancurkan hal yang paling kamu cintai.”

Leni menangis. Rafi menggenggam tanganku erat, mencoba menahan.

“Pak, jangan pergi. Siapa lagi yang ngajarin pecahan pakai cerita lucu?”

Langkahku berat. Tapi aku tahu, ini jalan yang benar.

Kini aku tinggal di kampung. Aku membuka taman baca kecil. Setiap sore, anak-anak datang, membawa buku atau hanya duduk mendengarkan cerita. Tak ada seragam. Tak ada status guru. Hanya papan tulis reyot dan papan kayu.

Ijazah palsu itu sudah kubakar. Yang tersisa hanya ijazah SMA—kertas sederhana yang dulu kuanggap tak berharga. Tapi kini aku sadar: kejujuran lebih bernilai daripada gelar yang palsu.

Aku mungkin bukan guru yang diakui negara, tapi aku percaya, aku telah menjadi manusia yang kembali utuh. Dan malam-malamku kini terasa lebih tenang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni