Telaah

Ihsan: Menunaikan Hak Orang Lain dengan Lebih Baik

58
×

Ihsan: Menunaikan Hak Orang Lain dengan Lebih Baik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ihsan tidak berhenti pada memenuhi kewajiban secara pas. Islam mengajarkan agar seorang Muslim menunaikan hak orang lain dengan jujur, adil, bahkan melebihkannya sebagai wujud akhlak mulia dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia; Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat; dan Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pontianak. Bersama Muallaf Kita Mampu!

Tagar.co – Tidak terasa, hari ini kita telah memasuki puasa hari ke-20. Ini menandakan bahwa Ramadan telah memasuki fase kedua menuju penghujungnya, sekaligus membuka pintu menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan.

Pada fase inilah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk melakukan iktikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Baca juga: Ihsan dalam Muamalah: Lembut dalam Menuntut dan Memberikan Hak

Sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan penutup bulan yang penuh berkah. Malam-malam ini sangat dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. karena di dalamnya terdapat malam yang sangat agung, yaitu Lailatulqadar—malam kemuliaan yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Baca Juga:  Ihsan kepada Tawanan dan Kaum Lemah

Karena itu, setiap Muslim hendaknya menumbuhkan kerinduan untuk meraih keutamaan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal saleh.

Sebagai manusia yang diciptakan Allah Swt. dan pengikut Nabi Muhammad Saw., kita tidak boleh berhenti belajar. Menuntut ilmu merupakan jalan untuk menambah pemahaman tentang agama dan memperbaiki kualitas keimanan kita. Oleh karena itu, mari kita terus belajar dan melanjutkan kajian kita dari Kitab Syajaratul Ma’arif, Bab 11 tentang Ihsan dalam Akhlak dan Perbuatan.

Dalam bab ini terdapat beberapa subbab. Pada hari ke-20 Ramadan ini, kita akan membahas salah satu di antaranya, yaitu menunaikan hak secara penuh atau bahkan lebih.

Allah Swt. berfirman: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar.” (Al-Isra’: 35)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (Al-An’am: 152)

Demikian pula firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Ar-Rahman: 9)

Ayat-ayat tersebut mengajarkan kepada kita pentingnya kejujuran dan keadilan dalam menunaikan hak orang lain. Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk menunaikan kewajiban secara pas, tetapi juga mendorong untuk melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Ihsan dalam Berkawan dan Berpisah

Rasulullah Saw. bersabda: “Timbanglah dan lebihkan, karena orang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar utang.” (Bukhari No. 2305 dan Muslim No. 1601 dari Abu Hurairah secara marfuk).

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa memberikan lebih dari yang menjadi kewajiban merupakan bagian dari akhlak mulia. Sikap seperti ini mencerminkan kejujuran, kelapangan hati, dan kepedulian terhadap hak orang lain.

Allah Swt. tidak pernah menzalimi hamba-Nya, bahkan sebesar ujung kuku sekalipun. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berusaha menunaikan hak orang lain dengan penuh tanggung jawab. Bahkan jika mampu, ia dianjurkan untuk memberikan lebih sebagai bentuk keutamaan dan kebaikan.

Pada akhirnya, akhlak yang baik tidak hanya terlihat dari ibadah ritual semata, tetapi juga dari bagaimana seseorang menunaikan hak orang lain dengan jujur, adil, dan penuh keikhlasan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni