
Hubungan diplomatik dengan Israel dihembuskan sementara kalangan di tengah konflik Gaza memanas. Bahkan Israel sudah main provokasi dengan memasang baliho beberapa presiden termasuk Prabowo Subianto.
Oleh M. Rohanudin, praktisi penyiaran
Tagar.co – Isu hubungan diplomatik Indonesia-Israel menyeruak disuarakan sekelompok orang di sela upaya perdamaian Gaza.
Presiden Prabowo Subianto berpegang pada prinsip dalam hubungan internasional, bahwa Indonesia bisa menjalin hubungan diplomatik dengan Israel jika Israel mengakui kemerdekaan Palestina.
Sikap ini selaras dengan komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara dan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Solusi dua negara (two-state solution) adalah konsep penyelesaian konflik Israel-Palestina yang memungkinkan adanya dua negara berdaulat, yaitu Israel dan Palestina. Hidup berdampingan dalam batas wilayah yang jelas dan dengan kedaulatan yang diakui oleh komunitas internasional.
Solusi ini juga diharapkan dapat menjadi jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi oleh rakyat Palestina dan Israel, seperti pengungsi, permukiman, dan keamanan.
Sebenarnya penolakan Indonesia terhadap Israel itu terjadi sejak Sukarno berkuasa.
Sukarno menolak telegram ucapan selamat dari Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri David Ben Gurion setelah Indonesia merdeka. Ia juga menolak tawaran misi muhibah dari Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett.
Pada Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, Sukarno tak mengundang Israel. Begitu juga ketika Indonesia lolos kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1958 dan harus melawan Israel, Sukarno menolak bermain di Tel Aviv atau menerima lawatan Israel di Jakarta, sehingga Indonesia gagal ke Piala Dunia tahun itu.
Sikap Sukarno ini dilandasi penentangannya terhadap imperialisme dan dukungannya pada perjuangan kemerdekaan Palestina.
Bukan hanya Indonesia, Arab Saudi juga menentang normalisasi hubungan dengan Israel, kecuali negara Palestina terbentuk dan perang di Gaza berakhir.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa dengan Israel tidak bisa dibicarakan selama genosida yang dilakukan Israel masih terus berlangsung di Gaza.
Dalam konferensi pers di New York, Pangeran Faisal menegaskan, dialog hanya bisa dimulai jika konflik di Gaza berakhir dan penderitaan rakyat Gaza teratasi.
Ia menekankan pembentukan negara Palestina adalah prasyarat untuk membahas hubungan diplomatik dengan Israel.
Baliho Prabowo
Kementerian Luar Negeri Indonesia mempertegas pernyataan Presiden Prabowo dengan narasi yang sama menanggapi munculnya foto Presiden Prabowo Subianto di baliho Israel yang mendukung rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Baliho tersebut menampilkan foto Presiden Prabowo Subianto bersama dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, para pemimpin Arab moderat, dan Ketua Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.
Tulisan pada baliho itu berbunyi: Yes to Trump’s Plan – Get It Done. Artinya, Ya untuk Rencana Trump – Selamatkan Itu.
Baliho ini merupakan bagian dari kampanye Koalisi Israel untuk Keamanan Regional yang mendukung inisiatif Trump untuk mengakhiri perang di Gaza dan memperluas Perjanjian Abraham.
Perjanjian Abraham mencakup beberapa perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain yang ditandatangani pada 15 September 2020. Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan antara Israel dan negara-negara Arab tersebut.
Perjanjian ini juga membuka peluang bagi perluasan kerja sama ekonomi, teknologi, dan budaya antara Israel dan negara-negara Arab yang menandatangani perjanjian tersebut.
Hubungan Tidak Resmi
Menariknya Indonesia dan Israel memiliki hubungan tidak resmi. Misalnya, kedua negara menjalin perdagangan bilateral.
Warga Indonesia dan Israel dapat melakukan perjalanan ke negara masing-masing dengan visa tertentu. Sekitar 11.000 sampai 15.000 orang Indonesia berziarah ke Israel setiap tahun.
Ada warga negara Indonesia yang studi di Israel, menjadi dosen, dan mahasiswa. Orang Indonesia juga dapat mempelajari agrikultur di Arava International Center for Agriculture Training.
Pernah pada tahun 2008 Indonesia dan Israel menyepakati perjanjian kerja sama medis dengan nilai 200.000 dolar AS.
Kabarnya ada juga hubungan keamanan tidak resmi antara kedua negara, termasuk kerja sama intelijen dan pelatihan militer, meskipun hal ini tidak selalu terlihat jelas karena sifatnya yang tidak resmi.
Artinya, dengan segala kerja sama tidak resmi itu, Indonesia punya prinsip tetap mau menjalin hubungan baik antara Indonesia -Israel, tidak mau bermusuhan.
Tapi demi memuluskan upaya percepatan perdamaian Israel -Palestina, Presiden Prabowo bersikukuh bahwa hubungan dua negara tidak boleh dilakukan sepanjang Palestina belum merdeka. Itu prinsip yang kokoh.
Tokoh-tokoh Israel dan juru bicaranya pun beberapa kali berkunjung ke Indonesia mengisi seminar di masjid dan perguruan tinggi. Sebaliknya tokoh-tokoh Indonesia ada juga yang berkunjung ke Israel.
Pengalaman Normalisasi
Indonesia punya pengalaman putus hubungan diplomatik dengan Tiongkok setelah Presiden Sukarno turun tahta.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok pertama kali terjalin tahun 1950.
Hubungan cukup erat lewat solidaritas Asia-Afrika yang dideklarasikan pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.
Hubungan bilateral menurun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 meletus. Tahun 1967 saat Soeharto jadi presiden, hubungan diplomatis langsung putus.
Indonesia menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapat dukungan dari Tiongkok untuk serangkaian upaya kudeta.
Setelah berakhirnya Perang Dingin dan reformasi politik di kedua negara, hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia kembali dipulihkan.
Normalisasi hubungan diplomatik dua negara terjadi pada tahun 1990. Pada tanggal 8 Agustus 1990, kedua negara sepakat membuka kembali hubungan diplomatik secara resmi setelah terputus selama 23 tahun.
Pemulihan diplomatik ditandai kunjungan resmi pejabat tinggi dan penandatanganan berbagai perjanjian kerja sama di berbagai bidang, termasuk ekonomi, budaya, dan teknologi.
Akhirnya Tiongkok menjadi rekan perdagangan terbesar Indonesia dan menjadi tujuan ekspor terbesar produk Indonesia melampaui Jepang dan Amerika Serikat.
Impor dari Tiongkok juga berkembang dengan pesat yang mencapai 30,8 miliar dolar AS atau 22,7% dari impor Indonesia pada tahun 2016.
Investasi Tiongkok di Indonesia juga meningkat, terutama dalam proyek infrastruktur seperti pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.
Kerja sama di bidang budaya juga menjadi salah satu fokus utama hubungan bilateral, dengan kedua negara sepakat untuk memperkuat pertukaran budaya dan pendidikan.
Lembaga Kerja sama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-Tiongkok (LIT) didirikan pada tahun 1990 untuk meningkatkan persahabatan melalui jalur ekonomi, sosial dan budaya.
Kerja sama dalam bidang perfilman juga semakin meningkat. Film Bali: Beats of Paradise menjadi contoh nyata dari kolaborasi ini.
Film ini menggambarkan keindahan budaya Bali melalui musik dan tarian tradisional. Diproduksi kerja sama antara sineas Indonesia dan Tiongkok.
Harmonis Tiongkok dan Indonesia diharapkan dapat membawa manfaat bagi stabilitas dan kemakmuran regional. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












