
Hidup tenteram menjadi keinginan banyak orang. Namun tak semua orang bisa menikmati suasana itu kecuali bisa melaksanakan empat amalan ini.
Tagar.co – Hidup tenteram menjalankan empat hal disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, saat ceramah di Pengajian Ahad Pagi PDM Trenggalek, Ahad (7/9/2025).
Pengajian bertempat di halaman rumah Mujianto, Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari. Pelaksana pengajian Ahad Pagi kali ini PCM Gandusari.
Dalam ceramahnya, M. Sholihin menyampaikan empat hal yang harus dijaga agar hidup tenteram, enak, ayem.
Pertama, menjaga keimanan.
Menurut dia, iman bisa rusak, iman bisa hilang hanya karena mi instan satu dus, karena pekerjaan, atau karena pergaulan.
”Kebaikan iman bisa dilihat apabila semakin lama semakin yakin, semakin lama semakin rajin. Ketika menjalankan salat tidak semakin yakin, dalam menyumbang tidak semakin rajin, maka bisa ditebak kualitas imannya tidak semakin baik,” katanya.
Lantas dia menawarkan cara agar iman semakin baik. Pertama, kita harus belajar. Mencari ilmu. Maka iman kita semakin yakin semakin rajin.
”Iman harus dipelajari, harus dipupuk seperti tanaman. Seperti tanaman, kita harus selalu merawat iman. Ilmunya ditambah. Ikut pengajian, baca buku, bertanya kepada teman. Insyaallah iman kita semakin lama akan bertambah yakin semakin lama semakin bertambah rajin. Dengan dipupuk ilmu iman kita akan semakin baik,” ujarnya.
Kedua, istikamah. Lawan istikamah adalah istirahat.
Bila kita tidak istikamah maka berkali kali kita istirahat. Ngaji istikamah berarti ikut terus. Salat jemaah istikamah berarti salat jemaah terus. Infak istikamah berarti terus berinfak.
Dikatakan, iman adalah hal yang sangat penting. Iman yang baik menjadikan ucapan kita menjadi baik, akhlaknya menjadi baik.
”Iman yang baik membuat urusan kita lancar, rezeki kita lancar. Apabila ada umat Islam yang hidupnya seret, rezekinya seret, pasti ada masalah dengan keimanan. Dia malas salat, malas berinfak, malas mencari ilmu, melakukan aktivitas seingatnya saja,” katanya.
Lantas dia mengutip surat Thalaq: 2
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia membukakan baginya jalan keluar.
Jika rezeki kita masih seret, hidup masih ruwet, maka kita harus menata iman memperbaiki hingga semakin lama semakin yakin, semakin lama semakin rajin. Salat semakin tuma’ninah. Iman yang baik maka akhlak kita semakin baik.
”Sifat yang baik, pertama, tidak iri dan dengki. Iman kita tidak baik karena banyaknya penyakit kejiwaan,” ujarnya.
Orang yang punya sifat iri dengki tidak yakin bahwa setiap kita memiliki ukuran dan takdir sendiri sendiri.
”Jika ada orang lain mendapatkan rezeki maka kita juga ikut senang, mudah-mudahan kita juga ikut ketularan. Jangan sampai kita iri dan dengki.
Kedua, tidak jujur. Orang yang imannya tidak baik dia tidak akan jujur.
Kedua, Menjaga Ketaqwaan.
Agar iman semakin lama semakin yakin, semakin lama semakin rajin, maka kita harus menjaga ketakwaan. Taat kepada Allah. Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran : 134 ada tiga ciri orang yang bertakwa.
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Ciri pertama, rajin berinfak. Ciri kedua, sabar, menahan amarah. Ciri ketiga, memaafkan orang lain.
Ketiga, Menjaga Amal Saleh.
Amal saleh semakin banyak semakin baik. Salat, infak, puasa, akhlak semakin lama harus semakin baik. Amal saleh adalah sesuatu yang akan kita ambil di hari kiamat. Juga termasuk amal saleh apabila kita sering mengaji.
ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ
Beri kabar gembira kepada hambaku yaitu orang-orang yang suka mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik
”Mencari ilmu pahalanya surga. Semuanya berkah. Tidak hanya mencari ilmu, kita suka tersenyum, bersalaman, silaturrahmi, sabar, mengaji, saling memberi, itu sudah amal saleh. Akan kembali kepada kita semua. Apabila tidak kembali kepada kita insyaallah akan kembali kepada anak-anak kita. Syaratnya harus istikamah. Bukan istirahat,” tuturnya.
Keempat, Menjaga Hati.
Mengutip pendapat Al-Ghazali, M. Sholihin menyampaikan, dalam hati manusia ada tiga jenis hati. Pertama, qalbun salim, hati yang baik. Orang yang hatinya baik, kelakuannya juga baik. Semuanya jadi baik.
Kedua, qalbun maridh, hati yang sakit. Sakit hatinya. Orang yang hatinya sakit memiliki ciri suka melakukan yang baik maupun yang buruk. Terkadang dia melakukan kebaikan, di waktu lain melakukan keburukan.
Ketiga, qalbun mayyit. Hati yang mati. Orang yang memiliki qalbun mayyit tubuhnya hidup, tetapi hatinya mati. Cirinya tidak mau diajak melakukan kebaikan, ibadah. Suka mengajak kepada keburukan. Surah Al-Baqarah: 7 menjelaskan
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَـٰرِهِمْ غِشَـٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.
Sholihin mengingatkan, Allah tidak melihat tubuhmu, fisikmu, bajumu, tapi hatimu dan amal perbuatanmu.
”Mari empat hal ini diamalkan, maka agama kita semakin baik, hidup tenteram, semakin baik. Sedikit-sedikit diingat-ingat, sedikit-sedikit dijalani,” tandasnya. (#)
Jurnalis Kamas Tontowi Penyunting Sugeng Purwanto












