Telaah

Hidup di Dunia Hanya 1,5 Jam: Persiapkan Bekal Akhirat!

241
×

Hidup di Dunia Hanya 1,5 Jam: Persiapkan Bekal Akhirat!

Sebarkan artikel ini
Iustrasi freepik.com premium

Tahukah Anda, hidup manusia di dunia hanyalah 1,5 jam jika dibandingkan akhirat? Mari persiapkan bekal mati dengan amal baik, sedekah, dan ilmu bermanfaat.

Oleh Malikan Saputra

Tagar.co –  Urip bakale mati, sak durunge mati kudu dolen piranti. Hidup pasti berakhir, dan sebelum itu tiba, kita harus menyiapkan bekal. Bekal mati adalah amal baik yang kita lakukan di dunia, yang akan menjadi teman kita di akhirat.

Baca juga: Hati Gelap di Balik Wajah Bercahaya

Bayangkan sejenak: jika dilihat dari perspektif akhirat, hidup manusia di dunia hanyalah sebentar. Dunia bukan rumah kita, melainkan tempat singgah sementara sebelum kita kembali ke Sang Pencipta.

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa saja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia).” (Al-Mu’minun: 112)

Al-Qur’an Surah Al-Haj 47 juga mengingatkan kita dengan perspektif waktu yang menakjubkan:

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Baca Juga:  Dusun Pilang Asri, Kisah Kampung Baru di Atas Tanah Lama

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

Berdasarkan ayat di atas, kita bisa membuta perbandingan waktu hidup kita di dunia dibandingan dengan akhirat.

Dengan umur manusia rata-rata 60–70 tahun, hidup kita di dunia, dari perspektif langit, hanyalah seperti 1,5 jam saja. Singkat sekali, namun sering kita habiskan tanpa makna.

Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami pernah menceritakan: suatu malam ia bermalam di rumah Rasulullah Saw dan mendengar beliau berdoa:

“Ya Allah, ampuni dosa-dosaku, dan terimalah taubatku, karena Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Ketika Rabi’ah bertanya, Rasulullah menjawab:

“Bekal mati, bekal mati.” (Muslim)

Maka jelaslah: bekal mati adalah hal yang paling penting. Bekal ini bisa berupa:

  1. Amal baik sehari-hari – Dilakukan dengan ikhlas, meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, tersenyum kepada orang lain, menolong sesama, dan bertutur kata sopan. Amal kecil tapi konsisten seperti tetes air yang membentuk sungai pahala.

  2. Sedekah – Memberikan sebagian rizki kepada yang membutuhkan. Harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Menyalurkannya kepada fakir, miskin, dan yatim piatu adalah investasi akhirat.

  3. Ilmu yang bermanfaat – Ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain akan terus mengalir pahalanya. Sebagaimana hadis populer:

“Ketika manusia meninggal, semua amalnya terputus kecuali tiga: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Selain itu, jangan lupakan kewajiban salat. Satu waktu salat yang ditinggalkan setara dengan 8.000 tahun siksaan di neraka. Jika sehari kita meninggalkan lima waktu salat, konsekuensinya mencapai 40.000 tahun. Subhanallah!

Hidup kita di dunia sangat singkat, hanya 1,5 jam, tapi sisa waktu itu menentukan abadi atau tidaknya kebahagiaan kita di akhirat. Maka, perbanyak bekal mati. Fokus pada amal baik, sedekah, ilmu, dan doa. Fokus pada akhirat, karena itulah rumah sejati kita.

Baca Juga:  Pelangwot: Desa yang Dulu Berbentuk Keris Itu Menyimpan Jejak Sunan Kalijaga

Renungkanlah, setiap detik yang kita habiskan dengan sia-sia adalah detik yang tak bisa kembali. Mari hidup dengan kesadaran penuh, menyiapkan bekal yang akan menolong kita saat dunia ini kita tinggalkan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Telaah

Manusia lahir tanpa mengetahui apa-apa, namun dibekali tiga…