
Kasus guru menampar siswa bukan sekadar persoalan emosi, tapi cermin retaknya komunikasi antara sekolah, rumah, dan murid. Saatnya guru, orang tua, dan siswa kembali duduk bersama membangun saling percaya.
Oleh Kemas Adil Mastjik; Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jatim
Tagar.co – Masalah kepala sekolah (kepsek) salah satu SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, yang menampar seorang murid karena ketahuan merokok di sekolah, menarik perhatian masyarakat. Perkembangan paling baru, masalah itu berujung damai. Meski begitu, tetap ada pelajaran untuk guru, siswa, dan orang tua—juga bagi dunia pendidikan.
Kasus kepsek menampar siswa ini menjadi cermin bahwa dunia pendidikan kita masih menghadapi tantangan besar dalam hal komunikasi dan pengendalian emosi.
Baca juga: Profesional Muslim: Dakwah tanpa Mimbar
Insiden seperti ini tidak hanya menyisakan derita fisik bagi siswa, tetapi juga luka psikologis yang bisa berdampak panjang pada rasa percaya, harga diri, dan motivasi belajar anak.
1. Pendidikan Adalah Ruang Pembentukan Karakter
Dalam Islam, pendidikan disebut tarbiah—berasal dari akar kata rabba yang berarti menumbuhkan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Rasulullah Saw. mencontohkan bahwa mendidik bukan dengan tangan yang menghukum, tetapi dengan hati yang memeluk.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini sejalan dengan teori psikologi modern, terutama konsep behaviorisme dari B.F. Skinner, yang menegaskan bahwa perilaku positif tumbuh melalui penguatan (reinforcement), bukan hukuman keras. Hukuman fisik hanya menimbulkan kepatuhan sesaat, tetapi tidak membangun kesadaran moral yang sejati.
2. Akar Masalah: Komunikasi yang Tersumbat
Dalam konteks pendidikan, kekerasan sering terjadi karena putusnya jalur komunikasi antara tiga pihak utama: guru, siswa, dan orang tua. Guru merasa tanggung jawab moralnya diabaikan, lalu bereaksi emosional, tidak tersambung secara empatik dengan kondisi batin dan dunia siswa.
Di sisi lain, siswa merasa tidak dipahami dan tidak memiliki saluran aman untuk menyampaikan perasaan, keluh kesah, atau kesalahannya, lalu menunjukkan perilaku menantang.
Sementara itu, orang tua kadang kurang berperan dalam menjembatani kesalahpahaman antara keduanya. Orang tua sering hanya muncul ketika ada masalah, bukan dalam proses pembinaan yang berkelanjutan.
Baca juga: Tamparan kepada Murid, Mendidik atau Kekerasan
Sebenarnya, pendidik terpenting dan utama adalah orang tua. Namun ironisnya, justru orang tualah pendidik yang tak tersiapkan. Mestinya pendidikan karakter itu untuk orang tua dan guru, bukan (hanya) untuk anak-anak. Orang tua dan guru mempraktikkannya, dan anak-anak belajar dari mereka. Jangan harap anak bangun subuh jika orang tuanya tak bangun subuh, dan seterusnya.
Carl Rogers, dalam teori komunikasi interpersonal, menyatakan bahwa hubungan yang efektif dibangun di atas tiga unsur utama: empati, kejujuran (kongruensi), dan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard). Bila salah satu unsur ini hilang, relasi berubah menjadi hubungan kuasa, bukan hubungan kemanusiaan.
3. Dampak Psikologis Kekerasan di Sekolah
Rasulullah Saw. mengingatkan, “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan amarah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Psikolog perkembangan seperti Erik Erikson menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase pembentukan identitas diri. Jika pada fase ini anak mengalami kekerasan dari figur otoritas (guru atau kepala sekolah), maka yang rusak bukan hanya kepercayaan pada sekolah, tetapi juga rasa aman dan harga diri.
Kekerasan dapat menimbulkan ketakutan berlebihan terhadap guru atau lingkungan sekolah, penurunan motivasi belajar dan konsentrasi, serta munculnya perilaku agresif atau sebaliknya—pasif dan tertutup. Dengan demikian, pendekatan kekerasan justru bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu menumbuhkan generasi berakhlak dan berjiwa kuat.
4. Komunikasi Tiga Arah: Kolaborasi yang Mendidik
Untuk membangun iklim pendidikan yang sehat, tiga pihak ini perlu berkolaborasi dalam komunikasi yang terbuka dan empatik. Untuk mencegah kasus serupa, guru perlu menanamkan emotional intelligence (Daniel Goleman)—kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri serta memahami perasaan orang lain.
Guru yang berempati akan lebih mampu menghadapi kenakalan siswa tanpa kehilangan kendali. Siswa diajak belajar assertive communication—mengungkapkan pendapat dan emosi secara sopan dan bertanggung jawab. Orang tua perlu menjadi mitra aktif sekolah, bukan sekadar pengamat. Dengan komunikasi terbuka dan saling percaya, mereka dapat memahami konteks perilaku anak dan mendukung strategi pembinaan yang konsisten.
5. Langkah-Langkah Perbaikan
Beberapa langkah konkret bisa ditempuh untuk memperbaiki suasana pendidikan di sekolah. Pertama, melalui pelatihan manajemen emosi dan komunikasi empatik bagi guru dan tenaga pendidik. Pelatihan ini penting agar para pendidik mampu mengelola tekanan dan emosi dengan bijak saat menghadapi perilaku siswa yang menantang, serta tetap menjaga wibawa tanpa kehilangan kelembutan.
Kedua, sekolah dapat menyelenggarakan forum dialog bulanan yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Forum semacam ini menjadi ruang aman untuk berbagi pandangan, menyelesaikan kesalahpahaman, dan membangun kepercayaan bersama. Di sinilah nilai pendidikan kolaboratif benar-benar dihidupkan.
Ketiga, penerapan pendekatan restorative discipline perlu dikembangkan sebagai alternatif dari hukuman fisik. Pendekatan ini menekankan perbaikan perilaku dan tanggung jawab, bukan sekadar memberi efek jera. Siswa diajak memahami kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki dampaknya terhadap orang lain.
Terakhir, penguatan nilai akhlak dan karakter harus menjadi ruh dari setiap aktivitas pendidikan. Melalui kegiatan keagamaan, mentoring, dan pembiasaan perilaku positif di lingkungan sekolah, guru dan siswa sama-sama belajar bahwa kekuatan sejati pendidikan terletak pada akhlak yang hidup dalam keseharian.
6. Penutup: Mendidik dengan Hati
M. Natsir dikenal sebagai ilmuwan pejuang yang hebat. Ia yakin pendidikan adalah kunci kebangkitan suatu bangsa. Kuncinya terletak di tangan para guru. Oleh karena itu, beliau sependapat dengan Dr. G. Nieuwenhuis bahwa suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang rela berkorban untuk bangsanya.
Pendidikan adalah amanah besar. Setiap kata, gestur, dan tindakan guru adalah pesan moral bagi murid. Maka, membangun komunikasi yang penuh kasih, sabar, dan saling menghormati adalah langkah awal menuju sekolah yang mendidik dengan hati—bukan dengan amarah.
Guru adalah murabi, bukan sekadar pengajar; siswa adalah amanah, bukan objek disiplin; dan orang tua adalah mitra, bukan pihak luar. Ketika komunikasi dibangun atas dasar kasih sayang, empati, dan saling menghargai, maka sekolah akan menjadi taman tempat tumbuhnya jiwa yang tenang, bukan ladang luka bagi generasi penerus.
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (Bukhari dan Muslim).
Hanya dengan hati yang tulus dan komunikasi yang hidup, pendidikan dapat kembali menjadi cahaya yang menuntun generasi menuju kebaikan dan kemuliaan. Wallahualambisawab. (#)
Rewwin, 16 Oktober 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












