
Lebih dari 50 kapal dari 44 negara berlayar menuju Gaza, membawa pesan kemanusiaan dan menantang legitimasi blokade Israel melalui Global Sumud Flotilla.
Tagar.co — Di tengah gelombang Mediterania, puluhan kapal sipil dari berbagai negara berlayar bersama menuju Gaza, Palestina. Armada ini dikenal sebagai Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah koalisi kemanusiaan multinasional yang menempuh jalur laut tanpa pengawalan resmi untuk menantang blokade Israel.
Lebih dari 50 kapal dari 44 negara ikut serta, berangkat sejak akhir Agustus dari pelabuhan Genoa, Barcelona, Catania, Syros, hingga Tunis. Mereka membawa relawan dengan latar belakang beragam—tenaga medis, pegiat kemanusiaan, seniman, pemuka agama, pengacara, hingga pelaut—yang percaya pada martabat manusia dan kekuatan aksi non-kekerasan.
“Sumud” berarti keteguhan—dan itulah semangat yang menjadi bingkai moral perjalanan ini.
Menurut laporan Anadolu Agency, pada 30 September–1 Oktober armada sudah berada sekitar 150 mil laut dari Gaza, wilayah yang oleh Israel dikategorikan sebagai “zona merah”. Pengalaman flotilla sebelumnya menunjukkan, intersepsi militer bisa terjadi kapan saja dalam 24–48 jam, sehingga ketegangan di atas kapal kian meningkat.
Rintangan di Sepanjang Jalan
Perjalanan flotilla ini penuh rintangan nyata. Pada malam 8–9 September, kapal Familia Madeira (Family Boat) dilaporkan terbakar saat tertambat di lepas pantai Sidi Bou Said, Tunisia. CCTV menunjukkan objek terang jatuh dari udara, yang memicu dugaan serangan drone. Otoritas Tunisia membantah klaim ini, menyebut kebakaran bermula dari dalam kapal.
Tak lama setelah itu, kapal Alma juga menjadi sasaran dugaan serangan drone—sebuah benda incendiary dijatuhkan ke dek atas kapal, menimbulkan api kecil yang berhasil dikendalikan tanpa korban.
Di tengah laut, misi juga terdampak kegagalan mekanis. Familia Madeira dilaporkan mengalami kerusakan mesin signifikan sehingga sebagian awak harus dipindahkan ke kapal lain (El País). Selain itu, dalam satu rute dari Yunani kapal-kapal dilaporkan berhenti akibat kebocoran di ruang mesin.
Meski faktor sabotase belum terbukti secara resmi, flotilla menyebut penyelidikan internal sedang dilakukan, namun belum menghasilkan kesimpulan pasti.
Riak Politik di Eropa
Di Italia, pelayaran flotilla telah memicu ketegangan politik tinggi. Partai oposisi dan sejumlah anggota parlemen menyatakan dukungan dan ikut berlayar bersama para aktivis, meskipun pemerintah pusat mencemaskan implikasi diplomatik dan keamanan.
Italia juga menawarkan kompromi agar bantuan dibongkar terlebih dahulu di Siprus, namun usulan ini ditolak oleh penyelenggara flotilla yang bersikeras memperjuangkan perjalanan langsung ke Gaza.
Pada saat bersamaan, kapal fregat ITS Fasan dikerahkan di Laut Tengah sebagai bagian dari patroli keamanan maritim. Keberadaannya sempat melintas di sekitar jalur flotilla, namun bukan dalam kapasitas pengawalan resmi.
Di tingkat Uni Eropa, Frontex secara resmi menyatakan tidak akan mendukung flotilla dengan pengawalan laut, sehingga armada sipil ini bergerak tanpa perlindungan institusional.
Tak hanya soal kapal militer, solidaritas rakyat Eropa juga mengalir ke Italia. Di dalam negeri, lebih dari 75 kota menggelar mogok nasional sebagai bentuk protes terhadap kebijakan senjata dan dukungan terhadap Gaza, termasuk menuntut agar pelabuhan Italia tidak dipakai untuk ekspor militer ke Israel.
Spanyol juga mengirim satu kapal aksi maritim dalam kapasitas patroli solidaritas, meski sifatnya terbatas dan tidak dalam bentuk pengawalan resmi.

Pertarungan Narasi
Penyelenggara GSF menekankan karakter non-kekerasan dan tujuan murni kemanusiaan dari misi mereka. Mereka berulang kali membantah keras tudingan Israel bahwa flotilla didanai Hamas.
Dalam wawancara dengan Euronews, pihak GSF menegaskan dokumen yang ditunjukkan Israel “tidak membuktikan apa pun” dan menyebutnya sekadar propaganda. Mereka bahkan meminta dokumen itu diperiksa lembaga independen internasional untuk membuktikan transparansi klaim tersebut.
Israel, di sisi lain, bersikeras bahwa blokade laut Gaza sah menurut hukum internasional dan menuduh flotilla berhubungan dengan Hamas. Klaim ini segera dibantah penyelenggara, yang menegaskan armada mereka adalah murni sipil, tidak membawa senjata, dan beroperasi tanpa dukungan pemerintah mana pun.
Narasi tandingan juga datang dari komunitas internasional. Para pakar hak asasi manusia PBB menyatakan solidaritas dengan GSF dan mendesak agar semua pihak menghormati hak lintas damai serta menjamin keselamatan para relawan.
Seruan ini menegaskan bahwa misi flotilla bukan sekadar perjalanan kapal, melainkan pertarungan legitimasi hukum internasional: antara hak lintas damai di perairan internasional dan klaim blokade Israel atas Gaza.
Tiga Skenario yang Menanti
Menjelang garis akhir, bayangan tiga skenario menghantui perjalanan armada. Yang paling mungkin adalah intersepsi dan penahanan oleh militer Israel. Pola ini sudah berulang sejak flotilla pertama tahun 2010: kapal ditahan, relawan dibawa paksa ke pelabuhan Israel, lalu muncul gelombang protes diplomatik di dunia internasional.
Ada pula kemungkinan flotilla dipaksa berputar balik. Jika tekanan militer terlalu besar atau cuaca tak bersahabat, armada bisa saja dialihkan ke pelabuhan lain. Misi mungkin tertunda, namun justru bisa memperbesar gaung solidaritas di ruang publik.
Skenario ketiga—meski paling kecil peluangnya—adalah terbukanya koridor terbatas. Dalam wacana ini, kapal diizinkan merapat setelah melalui inspeksi di pelabuhan pihak ketiga. Tetapi tanpa kesepakatan politik tingkat tinggi, opsi kompromi semacam ini hampir mustahil terwujud.
Penutup
Global Sumud Flotilla kini menjelma simbol solidaritas global yang menembus batas politik dan risiko militer.
Bagi Indonesia, jejak Wanda Hamidah memberi wajah dan suara tersendiri dalam gerakan kemanusiaan lintas bangsa. Sementara di Eropa, flotilla mengguncang panggung politik dan menantang sikap Uni Eropa yang memilih tidak memberi pengawalan resmi.
Apa pun yang menanti di depan—intersepsi, putar balik, atau kemungkinan kecil koridor terbatas—flotilla ini sudah menorehkan pesan penting: bahwa nurani manusia masih sanggup menantang blokade dan berdiri di sisi kemanusiaan Gaza. (#)
Mohammad Nurfatoni, dari berbagai sumber











