Feature

Fahruddin Faiz Kupas Hakikat Jati Diri Manusia, Ini Lima Kuncinya

926
×

Fahruddin Faiz Kupas Hakikat Jati Diri Manusia, Ini Lima Kuncinya

Sebarkan artikel ini
Ngaji jati diri oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. menjadi magnet jemaah memenuhi Masjid Nurul Jannah. Pengasuh Ngaji Filsafat ini menyampaikan mengajak jemaah memahami lebih dari sekadar ayat Allah yang tertulis. 
Fahruddin Faiz mengupas hakikat jati diri manusia. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Fahruddin Faiz mengupas hakikat jati diri manusia. Ia mengajak jemaah mengingat lima kata kuncinya. Jika mengingat ini, Faiz meyakini manusia tersebut akan selamat.

Tagar.co – Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik menjadi ruang pencerahan bagi ratusan jemaah yang menghadiri Ngaji Jati Diri, Sabtu (3/5/2025) siang.

Kajian oleh Pondok Pesantren Al-Muniroh Ujungpangkah Gresik ini mengusung tema mendalam: “Menemukan Kembali Hakikat Eksistensi untuk Berseirama dengan Transendensi Ilahi.” Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. seorang dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hadir sebagai pembicara utama.

Dengan gaya penyampaian yang renyah dan tenang namun sarat makna, Fahruddin Faiz mengajak para peserta merenungkan kembali esensi jati diri manusia. Sebelum mengupas lebih jauh, Faiz memberikan pengantar mengenai empat jenis ayat Allah yang patut mereka pelajari.

Setelahnya, ia langsung masuk pada materi inti pertama, yakni hakikat manusia. “Apa hakikat jati diri manusia?” tanya Faiz retoris. Ia membuka pembahasan materi pertama dengan pertanyaan mendasar.

Pengasuh Ngaji Filsafat ini kemudian menekankan lima kata kunci yang menjadi fondasi pemahaman tentang diri. “Jangan lupa lima ini agar selamat,” pesannya.

Kelima kata kunci tersebut adalah manusia itu makhluk, manusia itu mukaram (dimuliakan), ketiga, manusia itu mukalaf (dibebani tanggung jawab), manusiawi itu mukhayar (memiliki pilihan), dan manusia itu majazi (akan menerima balasan).

Manusia sebagai Makhluk

Berikutnya, Faiz mengurai satu per satu makna kata kunci tersebut. Bermula dari status manusia sebagai makhluk. Ia mengingatkan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia untuk menciptakan dirinya sendiri.

“Status kita hanya makhluk. Kita itu sesuatu yang diciptakan. Tidak bisa menciptakan diri kita. Kita diadakan,” tuturnya.

“Banyak orang merasa besar, hebat, sombong, merasa bisa apa saja. Padahal adanya diri kita sendiri itu tidak bisa mengadakan. Saya sekarang ada di sini, mungkin 30 tahun lagi saya sudah tidak ada. Kita tidak ada, diadakan, lalu tidak ada lagi, kembali ke asal,” jelas Faiz.

Baca Juga:  Bersahabat dengan Canva, Guru Mugeb Racik Gim Digital

Kesadaran akan status sebagai makhluk ini, menurut Faiz, penting untuk meredam kesombongan. “Sombong itu tidak pantas buat manusia. Kalau kayak komputer, tidak compatible kalau sombong. Pasti hang, crash. Sama halnya kalau punya teman sombong, pasti tidak enak. Karena hakikat kita hanya makhluk,” lanjutnya.

Faiz pun berbagi tips. Kalau ada orang memuji, biar tidak lupa diri maka perlu cepat sadar. Menyadari, mungkin ada sisi baik dan hebatnya diri tapi itu karena anugerah Allah. “Aku bikin diriku ada saja tidak bisa,” ungkapnya.

Fahruddin Faiz mengupas hakikat jati diri manusia. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Mukaram

Beranjak ke hakikat kedua, mukaram, Faiz menjelaskan betapa Allah memuliakan dan mencintai manusia. “Sungguh Kami muliakan anak cucu Adam,” ujarnya mengutip Al-Isra ayat 70.

Ia menegaskan, “Allah sangat mencintai kita. Allah membanggakan kita di hadapan semua makhluknya. Meski iblis protes, lupa setinggi apapun dia juga makhluk Allah. Bahkan ketika malaikat tahu manusia akan berbuat kerusakan di bumi, Allah mengatakan Ia lebih tahu.”

Untuk menegaskan betapa Allah mencintai manusia, Alumni MA Program Khusus Jember ini menegaskan, bumi telah Allah siapkan sedemikian rupa untuk kehidupan manusia.

“Kita diturunkan ke bumi, buminya sudah siap. Ritme rotasinya sudah siap sehingga anak Adam bisa tinggal sampai hari ini. Allah memposisikan bumi pas dengan matahari, pas untuk ditinggali manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkap, “Kita diistimewakan dengan banyak fasilitas; diberikan akal, nafsu, dan segala perangkat untuk bisa senang-senang; oleh Allah dianugerahi kesadaran. Binatang punya insting saja.”

Cintanya Allah kepada manusia, lanjut Faiz, sangat besar dan tak bersyarat. “Allah sangat cinta pada kita sejak menciptakan kita. Kapan pun kita siap, datang kepada-Nya, Ia menerima.”

Cintanya Allah

Ia kemudian mengutip sebuah hadis untuk menggambarkan betapa gembiranya Allah ketika hamba-Nya bertobat. “Rasul menjelaskan gembiranya Allah kalau ada hamba-Nya yang bertobat itu seperti gembiranya seorang musafir yang sangat kelelahan terus ketiduran. Terus bangun, begitu bangun, untanya hilang,” kisahnya.

Baca Juga:  Irfan Akbar Prawiro Tetap Nakhodai Dewan Kebudayaan Gresik

“Karena untanya hilang, panik mencari untanya. Tidak ketemu sampai kelelahan lagi dan tidur. Begitu bangun untanya sudah di dekatnya. Seperti itu gembiranya Allah ketika kita bertobat. Hambamu masih ingat pada-Ku. Yang aku cintai datang pada-Ku,” imbuhnya.

Setelah itu Faiz mengajak para jemaah untuk merefleksikan cinta Allah yang sering kali bertepuk sebelah tangan. “Hidup kita yang terjadi sering cinta bertepuk sebelah tangan. Allah mencintai kita, kita yang mengabaikan Allah,” ujarnya.

Lalu ia mengajak jemaah pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. “Ayo kita menghargai sesama kita. Mari kita jangan menyakiti orang. Karena Allah memuliakan ciptaan-Nya. Jangan berani-berani menyakiti yang dicintai Allah. Semoga hakikat kedua mengantar kita pada kesadaran, kita tidak menyakiti sesama, agar Allah yang menciptakan dan mencintainya tidak berkenan,” tuturnya.

Mukalaf

Hakikat ketiga adalah mukalaf, di mana manusia mendapat amanah dan tanggung jawab. “Kita satu-satunya makhluk yang mendapat amanah dari Allah, mendapat taklif. Kita hidup di muka bumi ini dicintai tapi juga diberi amanah Allah,” jelasnya.

Ia pun menukik QS. Adz-Dzariyat: 56: ‘Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.’

Kemudian ia mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 115: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’ Kamu hidupnya kok ngawur begitu. Tidak. Engkau nanti akan kembali lagi pada-Ku.”

Dengan nada serius, Faiz berpesan, “Jangan asal dalam hidup! Kita punya tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah-Nya.”

Mukhayar

Keistimewaan manusia kembali dia tekankan pada hakikat keempat, mukhayar, yaitu kemampuan untuk memilih.

“Bisa pilih, ini istimewanya manusia. Manusia oleh Allah diberi banyak potensi. Allah mengilhamkan pada diri manusia jalan kebenaran dan ketakwaan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kongres Cabang Ranting Masjid Muhammadiyah Hadirkan Akar Rumput Best of The Best

Sejurus kemudian, beberapa contoh ia lontarkan. “Kita mau jujur bisa, mau bohong juga bisa. Kita diberi amanah mau jujur bisa, curang bisa. Kamu sendiri yang milih curang, jangan menyalahkan Allah. Ayam, kuda, sejak Nabi Adam ya begitu. Hanya manusia yang bisa menawar, menolak, memilih. Ini keistimewaan,” tambah Faiz.

Untuk memperjelas konsep pilihan ini, Faiz memberikan ilustrasi kisah pada zaman Nabi. Seorang fulan bertanya, “Apa saya salah mencuri? Bukankah semua yang terjadi takdir Allah? Jadi saya mencuri ini sudah takdirnya Allah. Tidak bisa saya dianggap salah karena ini sudah takdir Allah.”

Menyampaikan ini di hadapan Umar bin Khattab, orang tersebut langsung Umar pukul. “Jangan protes, kamu dipukuli sudah takdirnya Allah,” kata Umar.

Maka, Faiz berpesan, “Jangan beralasan takdir karena Allah memberimu kuasa untuk melakukan yang baik atau buruk. Kalian punya daya memilih.”

Majazi

Hakikat terakhir, majazi, berbicara tentang konsekuensi dari setiap pilihan. “Dasarnya jaza. Apa pun yang kita lakukan, kita pilih, akan ada balasannya. Kalau kita memilihnya benar kita akan panen kebahagiaan. Kalau salah pilih, kita akan panen kesusahan,” terang Faiz.

Pria asal Mojokerto ini menutup sesi pertama dengan pesan mendalam. “Berbuat baik sekecil apa pun akan kita panen balasannya. Berbuat buruk sekecil apa pun juga akan kita panen balasannya,” tuturnya.

Antusiasme jemaah, baik dari Pondok Pesantren Al-Muniroh maupun masyarakat umum, tampak jelas. Mereka tetap fokus dan bersemangat menyimak kajian Fahruddin Faiz. Bahkan, mereka menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan sesi berikutnya. Sesi di mana Fahruddin Faiz telah berjanji untuk membahas struktur diri manusia dan rute hidup manusia. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting  Mohammad Nurfatoni