
Terik matahari pantai yang menyengat tak menghalangi ibu-ibu Aisyiyah Blimbing tampil penuh percaya diri lewat Drumband Gema Nada Aisyiyah. Meski umur lanjut, tapi semangat tetap menyala—membuat mereka memukau penonton karnaval HUT Ke-80 RI di Paciran.
Tagar.co – Panas terik matahari di Desa Blimbing, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, pada Kamis (28/8/2025) tak menyurutkan semangat ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Blimbing.
Dengan penuh percaya diri, mereka tampil memukau dalam karnaval memperingati HUT Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kelurahan Blimbing.
Di bawah kibaran bendera merah putih, langkah mantap ibu-ibu yang tergabung dalam Drumben Gema Nada Aisyiyah langsung mencuri perhatian.
Baca juga: Tora, Maskot SMP Mutu Blimbing yang Jadi Pusat Perhatian Karnaval
Meski rata-rata sudah berusia lanjut, mereka tak canggung menabuh snare drum, bass drum, hingga meniup harmonika. Sebagian lain bertugas sebagai color guard dengan bendera yang menambah semarak suasana.
Mereka kompak mengenakan seragam khas Aisyiyah: tunik batik hijau, sarung cokelat, serta kerudung kuning berlogo ‘Aisyiyah. Dari kejauhan, sekilas tampak seperti rombongan pengajian.
Namun siapa sangka, merekalah barisan drumben yang dipimpin oleh Dina Lusdiana, S.Pd., sebagai gitapati, dan Sholehah, S.Pd., sebagai mayor. Keduanya tampil kontras dengan balutan batik merah yang mencolok di antara barisan hijau.
Di sepanjang Jalan Daendels sore itu, warga tampak berdesakan di pinggir jalan. Anak-anak duduk di atas tikar, sebagian bertepuk tangan mengikuti irama, sementara remaja sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Ada juga bapak-bapak yang duduk santai di atas motor, ikut tersenyum melihat penampilan ibu-ibu drumband. Sorak-sorai dan tepuk tangan mereka membuat suasana karnaval semakin meriah.
Dengan formasi sekitar 40 personel, Gema Nada Aisyiyah membawakan dua lagu, yakni Sepohon Kayu dan Gambang Suling. Irama perkusi berpadu alunan musik tradisional itu sukses menghipnotis penonton.
Jalan sempit di Blimbing seolah berubah menjadi arena festival rakyat, ketika nada musik bersatu dengan tawa anak-anak dan riuh rendah tepuk tangan orang dewasa.

Pelatih drumben, Ainur Wafiq, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Hanya dengan delapan kali latihan, ibu-ibu sudah bisa tampil percaya diri. Semangatnya luar biasa, mereka seperti lupa usia,” ujarnya.
Pengalaman unik juga datang dari Eni Mukhasanatin, S.Ag., pemegang bass drum. Dengan nada bercanda ia berkata, “Awalnya saya bagian konsumsi. Tapi karena tidak ada yang kuat bawa bass drum, akhirnya saya yang pegang. Maklum saya badannya besar. Alhamdulillah bisa juga ternyata.”
Usai mencapai garis finis di Jalan Raya Gowah, Blimbing, seluruh personel diarahkan menuju rumah salah satu anggota, Faizah, S.Pd. Di sana mereka disambut hangat dengan sepiring rawon hangat dan segelas es cincau yang menyegarkan.
Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Blimbing, Hajah Titik, berharap drumband ini bisa terus berlanjut. “Melalui drumband, kita tidak hanya berolahraga dan bergembira, tetapi juga bisa syiar dan berdakwah,” tuturnya penuh harap.
Partisipasi Drumben Gema Nada Aisyiyah di karnaval HUT Ke-80 RI bukan hanya soal hiburan, tetapi juga bukti semangat ibu-ibu Aisyiyah Blimbing untuk terus bergerak dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. (#)
Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni












