
Kepala SMA Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, Khoirul Fuad mengatakan sekolahnya telah memiliki kelas coding sejak dua tahun terakhir.
Tagar.co – SMA Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, menyisipkan sebuah warna baru dalam dunia pendidikan pesantren: coding. Pada Jumat (17/1/25), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menjadi saksi bagaimana sekolah di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini merajut masa depan para santrinya dengan baris-baris kode.
Kunjungan Atip Latipulhayat ke SMA Ali Maksum merupakan bagian dari rangkaian agenda kerjanya di Yogyakarta. Namun, yang menarik perhatian adalah peninjauannya ke sebuah kelas yang dipenuhi perangkat komputer. Di sanalah, para santri muda tengah asyik berkutat dengan layar, bukan untuk menghafal bait-bait syair, melainkan untuk menyusun algoritma dan merangkai program.
“Praktik baik yang dilakukan sekolah ini selaras dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden terkait penguatan literasi dan numerasi. Saya menyaksikan dan mengapresiasi seluruh aktivitas pembelajaran di sini,” ujar Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat, di sela-sela kunjungannya.
Baca juga: Sekolah Coding ‘Sang Surya’ Resmi Dibuka Muhammadiyah Gresik, Targetkan Siswa Bikin Game dan Animasi
Bagi Atip, pembelajaran coding di SMA Ali Maksum bukan sekadar tren, melainkan sebuah langkah visioner. “Pembelajaran coding merupakan salah satu cara melahirkan para ilmuwan untuk bangsa Indonesia dan menjadi mata pelajaran pilihan ke depan,” tegasnya. Ia melihat coding sebagai jembatan menuju masa depan, di mana teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Namun, Atip juga mengingatkan pentingnya penguatan fondasi matematika. “Selain coding, pelajaran matematika juga sangat berpengaruh untuk membantu menaikan angka Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia. Untuk itu, penting bagi para pengajar menghadirkan metode pembelajaran yang mudah diterima, merefleksikan kehidupan sehari-hari, dan menggembirakan,” ungkapnya, menekankan pentingnya pendekatan yang holistik dalam pembelajaran.
Dalam kesempatan tersebut, Atip turut menyampaikan visi Kemendikdasmen untuk lima tahun mendatang. Ia mengajak seluruh warga SMA Ali Maksum untuk turut serta mewujudkan pendidikan yang bermutu, yang tak hanya fokus pada proses belajar mengajar, tetapi juga pada hasil akhir: lulusan yang siap bersaing di kancah global.
“Saya berharap dapat lahir tokoh-tokoh besar yang berpengaruh untuk Indonesia dari sekolah ini. Lanjutkan dan terus pertahankan praktik baik yang telah dilakukan,” ujarnya, memberikan semangat dan motivasi.

Bagian Pondok Pesantren Ali Maksum
Sambutan hangat dan penuh antusias datang dari Pimpinan Pondok Pesantren dan Kepala SMA Ali Maksum, Khoirul Fuad. “Untuk proses pembelajaran di kelas, kami telah memiliki kelas coding sejak dua tahun terakhir. Selain itu, kami juga menerapkan pembelajaran Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan penguatan Bahasa Indonesia,” ucap Khoirul, menjelaskan program unggulan sekolah yang dipimpinnya, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Ahad (19/1/25) petang.
SMA Ali Maksum, yang berdiri sejak 2012 sebagai bagian dari Pondok Pesantren Ali Maksum (berdiri sejak 1990), memang tak hanya fokus pada pendidikan agama. Kreativitas dan inovasi juga mendapatkan tempat, salah satunya melalui kelas coding yang telah berjalan dua tahun terakhir. Hasilnya pun tak main-main. Berbagai karya dan produk, mulai dari barang pakai sehari-hari, lahir dari tangan-tangan terampil para santri, dan dipamerkan dengan bangga di sekolah.
“Sebagai penyelenggara pendidikan swasta, kami berharap dapat terus menjadi bagian dari proses pemajuan pendidikan dan menghasilkan generasi unggul untuk bangsa Indonesia,” tutup Khoirul, menyiratkan harapan besar yang tertanam di SMA Ali Maksum.
Kunjungan Wamendikdasmen Atip Latipulhayat ke SMA Ali Maksum Krapyak ini menjadi bukti bahwa coding telah merambah ke berbagai institusi pendidikan, termasuk pesantren. Di balik tembok pesantren, para santri tak hanya ditempa ilmu agama, tetapi juga dibekali dengan keterampilan coding, siap merajut masa depan yang gemilang di era digital. Sebuah langkah maju yang patut diapresiasi dan didukung, demi lahirnya generasi unggul yang menguasai ilmu agama dan teknologi sekaligus. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












