Feature

BUMDes Jatinom Tawarkan Kemitraan Ayam Petelur

28
×

BUMDes Jatinom Tawarkan Kemitraan Ayam Petelur

Sebarkan artikel ini
BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) adalah lembaga usaha yang dibentuk oleh desa dan dikelola oleh masyarakat serta pemerintah desa untuk memperkuat perekonomian desa
Pertemuan membahas proposal kemitraan ayam petelur oleh warga Jatinom, Jumat, 27 Juni 2025. (Tagar.co/Agus Fawaid)

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) adalah lembaga usaha yang dibentuk oleh desa dan dikelola oleh masyarakat serta pemerintah desa untuk memperkuat perekonomian desa

Tagar.co – BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Jatinom Blitar bersama pemerintah desa setempat menggelar pemaparan dan musyawarah Proposal Kegiatan Program Ketahanan Pangan Desa Tahun 2025.

Acara bertempat di Kantor Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jumat (27/6/2025).

Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB dihadiri oleh pengurus BUMDes, pemerintah desa, pakar peternakan ayam, serta para undangan lainnya.

Agenda utama adalah penyampaian rencana program kemitraan ayam petelur yang dijalankan sepanjang tahun 2025.

Direktur BUMDes Jatinom, Mahya Sarjana, dalam paparannya menjelaskan, program ini menggunakan sistem kemitraan ayam petelur yang mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengelolaan awal, penjualan hasil telur, hingga proses afkir ayam.

“Program ini dijalankan sepenuhnya oleh BUMDes. Penjualan hasil, risiko produksi, hingga kebutuhan operasional akan kami kelola. Rekonsiliasi bagi hasil kami anggap kurang cocok, karena itu kami usulkan pemakaian SOP sebagai standar dalam pelaksanaan teknis,” jelas Mahya.

Baca Juga:  Menggali Ilmu Bisnis dari Pengusaha Ternak

Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap SOP (Standar Operasional Prosedur) sebagai tolok ukur keberhasilan dan keberlanjutan program.

Dalam proposalnya, BUMDes turut memaparkan potensi risiko seperti kematian ayam, bencana, serta fluktuasi harga telur yang perlu dimitigasi sejak awal.

“Program ini bukan hanya soal keuntungan, tapi juga perputaran kas (cashflow), keterlibatan Kelompok Wanita Tani (KWT), dan mortalitas ayam yang diperkirakan 10 persen. Kita juga bicara soal vitkonversi, kosversi, dan konsumsi pakan sekitar 120 gram per ekor per hari. Semua harus tertib,” tambah Mahya.

BUMDes Jatinom saat ini dipimpin oleh Mahya Sarjana sebagai direktur atau ketua. Yahya Mustofa sebagai sekretaris, dan Endang Ekowati sebagai bendahara.

Ketiganya aktif menyusun strategi dan proposal agar dapat segera mengakses 20 persen Dana Desa (ADD) yang dialokasikan untuk mendukung program BUMDes.

Salah satu peternak senior yang hadir dalam forum adalah Naryanto Defris, peternak ayam petelur berpengalaman yang dikenal dengan sapaan Yanto.

Yanto memberikan masukan teknis berdasarkan pengalaman di lapangan.

Baca Juga:  Menanam Benih Kebaikan di Gelora Jatinom

“Kalau sekarang ayam petelur perlu masa produksi sampai 100 minggu. Tapi di lapangan, umur 24 minggu sudah mencapai puncak produksi. Perlu manajemen yang bagus, analisa berkala, dan kondisi kandang yang memenuhi syarat. Jangan lupa, ayam juga perlu hiburan,” ujar Yanto

Yanto juga mengingatkan tentang biaya produksi yang signifikan, termasuk pakan yang perlu dihitung tiga kali lipat, ditambah kebutuhan listrik dan vitamin. Ia menyarankan evaluasi berkala setiap dua bulan agar performa ayam tetap stabil.

Setelah tanya jawab, forum juga membahas penyusunan detail Memorandum of Understanding (MoU) dengan peternak.

Pemerintah desa mendorong agar proposal ini segera dirampungkan agar tidak melewati masa pengajuan Dana Desa tahap selanjutnya.

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) adalah lembaga usaha yang dibentuk oleh desa dan dikelola oleh masyarakat serta pemerintah desa untuk memperkuat perekonomian desa. Berperan sebagai motor penggerak ekonomi, mengembangkan potensi desa, serta menciptakan lapangan kerja dan pendapatan bagi warga. (#)

Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sugeng Purwanto