Feature

Belajar Koding di SD Muri: Bermain, Berpikir, dan Bertumbuh di Dunia Digital

25
×

Belajar Koding di SD Muri: Bermain, Berpikir, dan Bertumbuh di Dunia Digital

Sebarkan artikel ini
Siswa mengerjakan Coding sederhana menggunakan platform Redocodo.com (Tagar.co/Indah Khoirun Nisa’)

SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) Gresik, mengenalkan koding dengan cara seru dan menyenangkan. Melalui Rodocodo, siswa belajar logika pemrograman sambil bermain, membangun kecakapan digital dan karakter tangguh sejak dini.

Tagar.co – Di balik layar laptop di atas meja hijau, para siswi SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) tampak serius menatap layar. Jemari mungil mereka cekatan menyusun perintah di platform Rodocodo.com, seolah sedang memandu robot digital menaklukkan misi di dunia virtual. Tak ada rasa canggung apalagi takut gagal. Yang ada justru antusiasme—belajar koding terasa seperti bermain game.

Setiap pekan, ruang kelas digital SD Muri dipenuhi atmosfer semangat dan penasaran. Siswa-siswi dari kelas 4 hingga kelas 6 diajak mengeksplorasi logika pemrograman dasar lewat tantangan seru di Rodocodo. Platform ini memang dirancang ramah anak, dengan visual warna-warni dan alur permainan yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, sekaligus kolaboratif.

“Ini cara belajar yang asyik. Anak-anak belajar algoritma dasar dan logika pemrograman tanpa harus menghafal sintaks rumit,” ujar Abdul Rokhim Ashari, guru komputer SD Muri, saat ditemui di sela pembelajaran koding, Selasa (5/8/25).

Baca Juga:  Kisah Dramatik SD Muri Teken MoU dengan International Islamic School Malaysia

Melalui Rodocodo, siswa diperkenalkan pada konsep urutan perintah, perulangan (loop), percabangan (if-else), hingga debugging. Semua disajikan dalam bentuk tantangan yang menghibur, membuat anak-anak seolah tak sadar sedang mengasah kemampuan berpikir algoritmis.

Maryam, siswi kelas 4 yang siang itu asyik memecahkan misi, mengaku sangat menikmati prosesnya. “Seru banget, bisa bantu robot menyelesaikan misi. Rasanya kayak main game, tapi harus mikir biar bisa lanjut ke level berikutnya,” ucapnya sambil tersenyum puas setelah berhasil menyelesaikan level sulit.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Riza Agustina Wahyu Setiyawati, S.Pd., M.Pd., menyambut positif program ini. Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi adalah bekal penting bagi siswa di era digital. “Sekolah tak cukup hanya mengajarkan baca, tulis, dan hitung. Literasi digital dan teknologi harus menjadi bagian dari pembelajaran. Coding adalah fondasi awal agar anak-anak kita kelak tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi,” tegasnya.

Kegiatan koding ini sejalan dengan visi Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan keterampilan abad ke-21 (4C): Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication. Melalui coding, siswa dilatih untuk memecahkan masalah, berpikir terstruktur, dan menghadapi tantangan dengan ketangguhan mental.

Baca Juga:  Empat Pos Esmalik Uji Ibadah dan Kekompakan Siswa SD Muri

“Ketika gagal menyusun perintah, anak-anak belajar memperbaiki langkahnya, mencoba lagi, dan akhirnya berhasil. Ini proses belajar yang utuh, bukan sekadar kognitif tapi juga karakter,” tambah Rokhim.

SD Muri tidak berhenti pada pengenalan koding saja. Sekolah berkomitmen membangun ekosistem pembelajaran teknologi yang lebih luas, seperti koding berbasis proyek nyata, robotika, hingga AI dasar di masa mendatang. “Ini investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak kami,” kata Riza Agustina.

Dengan pembelajaran koding sejak dini, SD Muri berharap bisa mencetak generasi muda yang tak hanya melek teknologi, tetapi juga kreatif mencipta, solutif dalam menghadapi tantangan, dan berakhlak mulia. Sebab, teknologi tanpa nilai hanya akan menghasilkan kehampaan.

“Anak-anak kami harus siap menjadi problem solver di zamannya, bukan sekadar siap kerja, tapi siap mencipta dan memimpin perubahan,” tutur Riza. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni