
Kecerdasan adalah anugerah besar. Namun, tanpa kerendahan hati, ia bisa berubah menjadi fitnah yang membinasakan pemiliknya. Sejarah Zulkarnain dan Karun memberi pelajaran abadi: apakah ilmu membuat kita mendekatkan pada Allah atau sombong?
Oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana SD Muhammadiyah 1 Kota Malang
Tagar.co – Kecerdasan sering dipuja laksana dewa baru. Gelar akademik, jabatan, dan prestasi intelektual dijadikan mahkota yang diburu, dipuja, bahkan diperjualbelikan. Meski jarang diucapkan terang-terangan, realitasnya masyarakat kita begitu menuhankan kepintaran.
Padahal, ilmu sejatinya adalah pedoman hidup, sarana berkhidmat kepada Allah, bukan alat untuk menonjolkan ego atau melanggengkan hawa nafsu.
Ketika kecerdasan dipakai untuk motif egois, ia justru berbalik menjadi sumber kebuntuan dan krisis hidup. Pertanyaannya: benarkah kecerdasan selalu menyelamatkan?
Ilusi Kesuksesan Duniawi
Al-Qur’an berkali-kali menyinggung tentang kesuksesan. Namun, standar sukses manusia sering kali berbeda jauh dengan ukuran Allah. Kita menilai sukses dari harta berlimpah, bisnis lancar, jaringan luas, atau kedudukan tinggi.
Sementara Allah menilai sukses dari iman yang kokoh, selamatnya agama dari fitnah dunia, dan tercapainya kebahagiaan akhirat.
Baca juga: Membongkar Miskonsepsi PJOK: Dari Lapangan Fisik ke Pendidikan Holistik
Celakanya, banyak yang terjebak pada ilusi sukses duniawi. Mereka dielu-elukan karena prestasinya, tetapi bisa saja menjadi pecundang di hadapan Allah.
Rasulullah Saw. mengingatkan: siapa yang obsesinya hanya dunia, maka ia akan menuai kemelaratan, urusan hidupnya berantakan, dan dunianya pun datang sekadar secuil dari takdir.
Sebaliknya, siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, Allah akan melapangkan dadanya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang dengan sendirinya.
Anugerah yang Bisa Berubah Menjadi Fitnah
Kecerdasan sejatinya anugerah besar. Ia mampu memecahkan masalah rumit, meringankan kesulitan, dan menerangi jalan hidup. Namun anugerah ini juga bisa berubah menjadi fitnah berbahaya, ketika dipakai untuk menipu, memperdaya, atau melegitimasi kezaliman.
Banyak ulama menegaskan: ilmu yang tidak mendekatkan pada Allah justru berpotensi membinasakan pemiliknya.
Orang beriman menanggapi perintah Allah dengan sami‘na wa atha‘na — “kami dengar dan kami taat.” Tetapi orang yang pongah dengan kecerdasannya berkata, sami‘na wa nadzharna — “kami dengar, tapi kami timbang-timbang dulu.” Inilah bentuk kesombongan intelektual yang justru menjauhkan manusia dari Allah.
Ilmu yang Menghidupkan dan Membinasakan
Rasulullah Saw. berdoa agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tak dikabulkan. Sebab ilmu ada dua: yang menghidupkan pemiliknya, dan yang justru membinasakan.
Seperti pesan Syekh Ratib An-Nablusy, ilmu yang bermanfaat adalah yang mendekatkan kepada Allah, sementara ilmu yang berbahaya adalah yang dijadikan tameng untuk lari dari aturan-Nya.
Seorang alim dalam tradisi Islam bukan sekadar orang yang banyak tahu. Ilmu baru bernilai ketika diamalkan. Tanpa amal, ilmu hanya menjadikan seseorang seperti penyalin tanpa makna. Bahkan setan pun bisa menjerumuskan manusia lewat ilmu, menjadikannya angkuh, keras hati, hobi berdebat, dan gemar merendahkan orang lain.
Kesombongan Karun dan Kerendahan Zulkarnain
Sejarah memberi banyak pelajaran. Karun berkata dengan congkak: “Aku memperoleh semua ini karena ilmuku sendiri.” Ia lupa bahwa harta dan kekuatan hanyalah titipan Allah. Kesombongannya pun menenggelamkannya.
Sebaliknya, Zulkarnain memberi teladan yang menyejukkan. Setelah membangun dinding raksasa yang menahan Yakjuj dan Makjuj, ia berkata: hâzâ rahmatun min rabbî — “ini adalah rahmat dari Tuhanku.” Sikap inilah yang menjaga hati tetap rendah dan prestasi tetap penuh berkah.
Kembali Menjadikan Al-Qur’an Imam
Sejarah berulang, fenomenanya sama, hanya pelakunya yang berganti. Karena itu, kita perlu kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai imam, dan logika sebagai makmum. Jika logika dipertuhankan, arah hidup akan tersesat.
Kita boleh meraih prestasi, bekerja keras, dan mencari rezeki luas, tetapi semua harus disandarkan pada kesadaran bahwa keberhasilan adalah karunia Allah.
Dengan kerendahan hati, kesungguhan kerja, dan doa, insyaa llah hidup akan penuh berkah. Pertanyaannya: apakah kecerdasan yang kita miliki benar-benar mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Sebab ilmu bisa menjadi cahaya penerang, tetapi juga bisa berubah menjadi api yang membakar pemiliknya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang rendah hati, bersyukur, dan mampu menjadikan ilmu sebagai jalan keselamatan, bukan jalan kebinasaan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












