Telaah

Bahaya PKI dan Jas Merah Bung Karno

397
×

Bahaya PKI dan Jas Merah Bung Karno

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kebo iku beda wujude karo sapi
ayo waspada bahaya laten PKI

Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan

Tagar.co – Sejarah adalah guru bangsa. Bung Karno pernah berpesan dengan tegas: “Jas Merah – Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”

Peringatan ini tidak hanya sebagai slogan, tetapi juga peringatan agar bangsa Indonesia tidak lengah menghadapi bahaya laten ideologi yang berulang kali menggerogoti negeri ini.

Baca juga: Syukur dan Totalitas Ibadah

Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269)

Firman Allah ini menjadi pengingat: hanya dengan hikmah dan kesadaran sejarah, kita mampu menjaga diri dari peristiwa kelam yang pernah terjadi, serta memastikan tidak ada lagi pengkhianatan yang merongrong persatuan bangsa.

Baca Juga:  Panah Bersinar: Branding Baru SDN Wonokusumo I/40 Surabaya Tegaskan Sekolah Bebas Narkoba

Kita telah belajar, sejarah memberi banyak pelajaran agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dari peristiwa pahit masa lalu, kita diajari untuk lebih waspada, menjaga persatuan, dan mengokohkan iman.

Namun, semua usaha manusia tak akan berarti tanpa pertolongan Allah Swt. Karena itu, doa menjadi pengikat batin, sekaligus permohonan agar hati kita senantiasa diberi hikmah dan kebijaksanaan.

Maka mari kita berdoa: “Ya Allah … ya Hakiim, karuniakanlah kepada kami, yaa Rabb, mutiara hikmah dari setiap peristiwa yang Engkau bentangkan. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bijak dalam menjalani hidup, agar sejarah pahit tak terulang kembali. Amin.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni 

Telaah

Di zaman ketika komentar lebih penting daripada empati,…