
AS terancam shutdown akibat pembahasan anggaran menemui jalan buntu antara pemerintah, DPR, dan Senat. Dampaknya bukan hanya domestik tapi juga ke luar negeri.
Oleh M. Rohanudin, praktisi penyiaran
Tagar.co – Pembahasan RUU anggaran Amerika Serikat (AS) deadlock di DPR dan Senat. Akibatnya anggaran AS terancam shutdown. Kalau terjadi pegawainya bakal telat gajian, ancaman PHK, dan layanan masyarakat terganggu.
Lebih mengkhawatirkan situasi keuangan AS ini berpengaruh kepada dunia terutama di bursa saham dan perdagangan. Banyak orang menunggu batas waktu perpanjangan pembahasan anggaran federal pada 30 September 2025.
Kebuntuan pembahasan anggaran bermula Senat menolak rancangan pendanaan jangka pendek yang disetujui oleh DPR pada 19 September 2025.
Perbedaan pandangan antara Partai Demokrat dan Partai Republik tentang anggaran menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan.
Partai Demokrat mengkritik rancangan DPR karena dinilai mengabaikan prioritas kesehatan dan kesejahteraan publik.
Sementara Partai Republik menekankan pentingnya RUU sementara untuk memberikan waktu tambahan untuk negosiasi jangka panjang.
Kalau masalah ini tak beres, layanan umum akan terganggu seperti pemrosesan visa, operasional lembaga federal non-esensial. Dampak finansial juga muncul.
AS mengalami beberapa kali masalah ini. Kejadian terlama yaitu 35 hari pada Desember 2018 hingga Januari 2019. Kasus terakhir tahun 2023. Apalagi selama masa pemerintahan Donald Trump.
Pokok masalah tahun 2018 perselisihan pendanaan tembok perbatasan AS-Meksiko. Kerugian dalam negeri 11 miliar dolar, pertumbuhan ekonomi domestic AS hingga 0,2% untuk setiap program.
Karena sudah banyak pengalaman masalah ini, dunia berharap segera diselesaikan sehingga tak ikut kecipratan dampak ekonomi globalnya.
Dampak Ekonomi Global
Masalah ini juga merembet kepada ekonomi global, terutama negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada modal asing dan utang luar negeri dalam dolar AS.
Penguatan dolar AS dapat menekan harga komoditas global, yang berdampak pada negara-negara berkembang yang mengandalkan ekspor komoditas. Hal ini dapat memperburuk kondisi ekonomi mereka.
Indonesia dapat merasakan dalam beberapa aspek ekonomi. Seperti penurunan investasi asing dan menyebabkan fluktuasi di Bursa Efek Indonesia.
Potensi dolar AS kalau melemah terhadap major currency. Terhadap rupiah masih perlu dicermati lagi setelah APBN yang diumumkan oleh Menteri Keuangan.
Rupiah melemah hingga mendekati 17 ribu per dolar AS. Meski di waktu yang hampir bersamaan IHSG mencapai level tertinggi dalam sejarah, setelah bank plat merah digerojok dana Rp 200 triliun oleh Menkeu.
Penutupan pasar pekan kemarin, Jumat, 26 September 2025, rupiah ditutup di level Rp16.730 per dolar AS. Sementara IHSG di tutup di level 8.099,33.
Indonesia saat ini lebih fokus pada tantangan ekonomi domestik seperti transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon dengan meluncurkan program pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara untuk mencapai target netral karbon pada 2060.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga menghadapi tantangan dari perdagangan internasional, seperti dampak tarif impor AS yang mempengaruhi beberapa perusahaan elektronik di Indonesia. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












