Feature

Anak Muda Menolak Diam, Lahir TCI

22
×

Anak Muda Menolak Diam, Lahir TCI

Sebarkan artikel ini
Anak muda di Kecamatan Tempeh awalnya ngobrol santai berbagi cerita. Lantas kerja sama berkegiatan menyentuh kehidupan pemuda: sosial, ekonomi, budaya, dan kreativitas.
Anggota Tempeh Community Independent membagikan sembako kepada warga duafa. (Tagar.co/Kuswantoro)

Anak muda di Kecamatan Tempeh awalnya ngobrol santai berbagi cerita. Lantas kerja sama berkegiatan menyentuh kehidupan pemuda: sosial, ekonomi, budaya, dan kreativitas.

Tagar.co – Di sudut tenang Jalan Brawijaya, Dusun Tulus Rejo I, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, berdiri sebuah basecamp sederhana yang menyimpan harapan anak muda setempat.

Tak ada papan nama mencolok, tapi semangat di dalamnya menyala terang: menyatukan pemuda Tempeh dalam satu gerakan kolektif. Di rumah itu Tempeh Community Independent (TCI) terbentuk.

Ketua TCI, Firdaus Eko Sucahyo, bercerita, kami lahir dari kegelisahan bersama. ”Dulu tiap anak muda bergerak sendiri-sendiri, tanpa nama, tanpa arah yang pasti. Tapi semangatnya ada. Kami ingin wadah bersama yang merangkul semua,” tuturnya tenang, Rabu (9/7/2025).

Dia menyampaikan, awalnya sejumlah pemuda potensial di Kecamatan Tempeh bertemu. Berdiskusi lintas desa, berbagi keresahan, saling dukung dalam kegiatan sosial. Semua dijalankan mandiri tanpa ada struktur resmi.

”Baru pada Juli 2024, muncul dorongan untuk menamakan dan membentuk komunitas secara terbuka dan inklusif. Nama-nama sempat diusulkan seperti Tempeh Bersatu, Pemuda Tempeh Bersatu. Semuanya mengandung semangat kolektif.

Baca Juga:  Elpiji Langka, Laporan Rakyat saat Halalbihalal dengan Bupati

Akhirnya, setelah musyawarah dipilih nama Tempeh Community Independent (TCI). Sebuah nama yang mencerminkan semangat kemandirian dan keberanian untuk tumbuh di luar ketergantungan.

Tanggal 7 Juli 2024 dipilih sebagai momen deklarasi. Dan 7 Juli 2025 lalu, TCI genap berusia satu tahun.

”Ibarat anak kecil, umur setahun baru bisa berdiri dan belajar berjalan. Tapi setiap langkah kecil kami adalah tanda bahwa gerakan ini nyata,” ucap Firdaus.

”Kami tak pernah membayangkan bahwa dalam setahun ini, kami bisa tumbuh secepat dan sekuat ini,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dulu beberapa anak muda ngobrol di pinggir jalan. Sekarang bisa menjadi ruang bersama, tempat belajar, berani bermimpi. Bahkan tempat pulang bagi teman-teman muda Tempeh yang ingin berubah.

Pada 7 Oktober 2024, TCI mengantongi Surat Keputusan dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai organisasi berbadan hukum.

”Itu bukan sekadar legalitas di atas kertas,” ujar Firdaus. “Itu bukti bahwa kita tak cuma punya niat, tapi juga keberanian untuk bertahan.”

Dalam menjalankan kegiatannya, TCI mengandalkan dana iuran anggota. “Awalnya kami kumpul sebulan sekali, setiap pertemuan ada iuran wajib Rp 10 ribu. Uang itu kami putar untuk kegiatan kecil-kecilan,” jelas Firdaus.

Baca Juga:  Lazismu Lumajang Audiensi ke Bupati

Semangat kolaborasi anggotanya membawa komunitas menjalin kemitraan. ”Bulan lalu kami kerja sama dengan Lazismu untuk bakti sosial, dan ada juga dukungan dari donatur. Intinya, kami selalu terbuka untuk sinergi,” sambungnya.

Anak muda di Kecamatan Tempeh awalnya ngobrol santai berbagi cerita. Lantas kerja sama berkegiatan menyentuh kehidupan pemuda: sosial, ekonomi, budaya, dan kreativitas.
Bakti sosial anggota TCI ke warga duafa. (Tagar.co/Kuswantoro)

Kini TCI memiliki 20 anggota aktif dari berbagai desa dan latar belakang. Gerak mereka menyentuh banyak aspek kehidupan pemuda: sosial, ekonomi, budaya, hingga kreatif.

Ada tiga program utama yang menjadi pijakan awal TCI:

Pertama, bakti sosial bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat Tempeh. Program ini dirancang agar para pemuda terbiasa hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat dibutuhkan, tapi juga saat dibenamkan dalam rasa tanggung jawab sosial.

Kedua, pengembangan usaha ekonomi kreatif. Dari kerajinan tangan, kuliner lokal, desain, hingga digital marketing, TCI membuka ruang diskusi dan pelatihan untuk anak muda yang ingin berdaya saing.

Ketiga, event organizer internal. Di sini anggota belajar manajemen acara, kerja tim, dan menyulut kreativitas dalam kegiatan produktif. Semua dikelola oleh dan untuk anggota sendiri.

”Kami tidak besar, tapi kami bertumbuh. Kami tidak mewah, tapi kami nyata,” ucap Firdaus, menutup obrolan.

Baca Juga:  Tarhib Ramadan dalam Bayangan Asap Semeru

TCI adalah cermin dari apa yang bisa dilakukan anak muda ketika diberi ruang, diberi kepercayaan, dan diberi waktu untuk tumbuh.

Dalam setahun pertamanya, TCI telah membuktikan satu hal: bahwa perubahan tidak harus datang dari gedung besar atau modal besar. Cukup dari niat tulus dan langkah kecil yang tak pernah berhenti. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto